Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Mei 2020

Bahasa Batak, Credo, dan Taizé:

Kenanganku tentang Alm. Romo Frietz R. Tambunan, Pr

Bersama Romo Frietz dalam rangkaian Konser Credo Choir di Yogyakarta (dokpri, Foto by Pakde)

Dimula ni mulana ditompa Debata ma langit dohot tano on. 

Bahasa Batak yang berarti “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” tersebut merupakan kalimat pertama pada Kitab Kejadian Bab 1 yang akan selalu membawa saya pada kenangan akan sosok Alm. Romo Frietz R. Tambunan, Pr. Mengingatnya pun selalu membuat saya tersenyum sendiri.

Suatu malam di tahun 1999 sebelum memimpin ibadat bersama kelompok Paduan Suara Credo (Credo Choir) Romo Frietz meminta saya membaca Kitab Suci. Saya langsung menyanggupi tanpa lebih dahulu bertanya perikop mana yang nantinya harus dibaca. Namun, alangkah terkejutnya saya ketika Romo Frietz menyerahkan Kitab Suci yang sudah terbuka. Kitab Suci tersebut bertuliskan bahasa Batak, saudara-saudara! Meskipun cukup syok, saya tetap membacanya sebaik mungkin. Alhasil, dalam kekhidmatan ibadat beberapa teman tampak menyunggingkan senyuman pertanda geli. Bagaimana tidak? Saya membaca Kitab Suci berbahasa Batak dengan logat Jawa yang sangat kental. Alamak!

Paduan Suara Credo yang didirikan Romo Frietz pada awal Januari 1999 ini beranggotakan kaum muda lajang dari berbagai latar belakang--mahasiswa, dosen, pegawai, dll. Sebagai pendatang baru di kota Medan, tentu saya sangat senang ketika diajak bergabung. Meskipun di Jawa saya juga turut dalam kelompok paduan suara, tetapi sebenarnya suara saya pas-pasan. Seingat saya dari 40-an anggota Credo Choir, sekitar 90%-nya menyandang marga/boru Batak yang terkenal hebat dalam bernyanyi. Selebihnya ada juga dari suku Nias, Cina, Manado, dll., termasuk saya yang orang Jawa. Jadi, walaupun terkesan ngeprank, kala itu saya menangkap bahwa maksud Romo Frietz meminta saya membacakan Kitab Suci berbahasa Batak adalah untuk membuat saya tidak merasa minder sebagai minoritas. Melalui selera humornya yang paten itu, beliau hendak mengatakan bahwa saya diterima dengan baik sekaligus mengajak saya untuk mulai mencintai lingkungan, budaya, dan komunitas baru yang akan menjadi keseharian saya. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

Meskipun tidak fasih dalam percakapan--yang paling kuhafal cuma “horas” dan “mauliate”--belakangan saya dituntut lancar menyanyikan sejumlah lagu bahasa Batak yang diajarkan dalam Credo Choir. Meskipun cenderung belepotan, tetapi saya sangat suka dengan satu lagu berirama rancak yang diajarkan. Judulnya “Marmutik Inggir-Inggir”. Marmutik inggir inggir/marparbue tada tada/ro ahu nuaeng sinuru ni halak amanta/ mangalehon sada tin tin ima tin tin namar mata... dago da ito dago da ito/ dai da go ale ito... . 

Begitulah! Karena semenjak awal Romo Frietz sudah mengajari untuk mencintai bahasa yang bukan bahasa ibu saya maka saya pun dapat menyanyi dengan setulus hati. Romo selalu mengingatkan bahwa musik tidak mengenal batas-batas etnis.

Romo yang berperawakan tinggi besar serta murah senyum ini mengajarkan beragam jenis lagu dalam kelompok Credo Choir. Selain lagu-lagu gerejawi umum atau bernuansa etnis, kami juga diajari lagu-lagu gerejawi klasik karya Friedrich Händel, Franz Schubert, Carl Boberg, Verdi, dll. yang umumnya dipelajari juga oleh kelompok paduan suara gerejawi lain. Namun, ada satu keistimewaan Credo Choir! Secara khusus Romo Frietz mengajari kami menyanyikan lagu-lagu TaizĂ©, yang kemudian bahkan menjadi semacam “trade mark” bagi paduan suara kami.

Romo Frietz bukan sekadar mengajari kami menyanyi lagu-lagu TaizĂ©, tetapi melatih bagaimana menyanyikannya dari dalam hati dengan penuh penghayatan. Seperti diketahui, lagu-lagu TaizĂ© meskipun sederhana tetapi mampu membawa umat kepada suasana meditatif yang mendalam. Dengan sabar Romo mengajari bagaimana cara menyanyikan lagu tersebut dengan pelan dan lembut tetapi mengalirkan energi yang kuat serta mampu menghadirkan suasana doa yang khidmat. Tentu tidak mudah bagi teman-teman dari etnis Batak yang biasa menyanyi dengan powerful ‘lantang’; tidak juga bagi orang Jawa seperti saya yang bukan dari golongan priyayi nan lemah lembut. Nyatanya Romo Frietz berhasil menempa kami hingga boleh dibilang Credo Choir selalu mengesankan dalam setiap penampilan! Syahdu membawakan lagu-lagu TaizĂ©, tetapi tetap gegap gempita menyanyikan Halleluja Händel.

Beberapa hari sebelum mendengar kabar berpulangnya Romo Frietz, tanpa saya sadari ada kerinduan mendalam untuk beribadat TaizĂ© seperti saat masih bersama Credo Choir. Saya menyukai semua lagu TaizĂ©. Namun, kemarin hampir tiap hari saya menyanyikan Nada te Turbe ‘Janganlah Cemas’. Saya bahkan iseng membuat video rekaman ecek-ecek. Menurut Romo, lagu ini harus dinyanyikan dengan ringan dan riang untuk mengajak orang agar tidak cemas ataupun takut karena di dalam Tuhan berlimpah rahmat. Saat membawakan lagu ini biasanya kami duduk dengan kedua tangan ditepuk-tepukkan pelan di atas paha disertai ekspresi gembira serta sedikit berayun-ayun. Kekhidmatan selalu ada dalam lantunan lagu-lagu TaizĂ©. Saya ingat betapa dalam banyak kesempatan Romo Frietz selalu mengajak kami melakukan misa atau ibadat meditatif dengan iringan lagu-lagu TaizĂ©. Saya yakin teman-teman anggota Credo Choir juga memiliki kesan mendalam seperti yang saya rasakan. Di antara banyak misa dan ibadat bersama beliau, ada satu yang sangat berkesan dan membekas dalam ingatan saya, yaitu yang kami lakukan di atas kapal kecil yang terombang-ambing di tengah Danau Toba.

Sosok Romo yang cerdas, ramah, murah hati, dan energik serta suka bercanda ini sungguh menginspirasi saya dan semestinya juga siapa pun yang pernah mengenalnya. Melalui ketekunan beliau, kami telah ditempa sekaligus disadarkan bahwa Tuhan berkenan bekerja melalui setiap pribadi, termasuk lewat suara yang mungkin bahkan tidak merdu. Dengan tekun Romo melatih hingga suara kami padu, lalu mengajak kami melayani Tuhan ke mana pun seturut kehendak-Nya. Kala itu, didukung oleh Yayasan Aku Percaya pimpinan Bapak Antonius Sujata SH, Romo Frietz juga telah membawa Credo Choir jajah deso milang kori ‘menjelajah banyak tempat’ untuk merasul dan mewartakan kasih Allah lewat beragam lagu gerejawi sekaligus mempopulerkan lagu-lagu TaizĂ©. Kala itu kami melang-lang buana ke berbagai daerah, mengadakan sejumlah konser di Medan, Samosir, Jakarta, dan Yogyakarta, bahkan sempat pula masuk dapur rekaman MMA Record dan melahirkan album (ketika itu masih berupa kaset). Kiranya Tuhan sungguh berkenan dan memberkati usaha dan perjuangan Romo Frietz menghimpun dan membina persaudaraan sekaligus menempa laskar Kristus untuk mewartakan kasih-Nya lewat suara. Hingga kini nama Credo Choir masih tetap eksis, begitupun persaudaraan di antara para anggota dan mantan anggotanya.

Sayang kemudian hari saya harus meninggalkan kota Medan dan berpisah dengan beliau juga teman-teman di Credo Choir. Bagaimanapun saya sangat bersyukur karena Tuhan pernah mempertemukan saya dengan Romo Frietz. Melalui mars Credo Choir, “Aku Percaya” yang ditulis Bapak Antonius Sujata dan diaransemen oleh Romo Frietz saya selalu diingatkan bahwa Credo “Aku Percaya” bukan sekadar pernyataan basa-basi, tetapi juga keyakinan dan kekuatan iman yang senantiasa percaya akan janji Tuhan. Oleh karenanya, saya pun mengimani dan percaya bahwa malaikat Allah telah membawa jiwa romo/guru/pembimbing/sahabat kami tercinta untuk berkumpul bersama para kudus-Nya di surga.

Selamat jalan Romo. You’ll never be forgotten, may you rest in peace.

Depok, 18 Mei 2020

Catatan:
Tulisan ini dibuat untuk mengenang 7 hari berpulangnya Dr. RD. Frietz R. Tambunan, Pr. - Rektor Unika Santo Thomas Medan; Pendiri, Pembimbing, dan Pelatih Credo Choir Medan. Tulisan ini sebelumnya saya bagikan di akun facebook saya.

Rabu, 28 September 2016

Kasih dalam Wedang Jahe Bude


Mengunjungi Bude Parto di Yogyakarta (Foto: @widhi_three) 


Wedang jahe buatan Bude benar-benar maknyus dan ngangeni. “Ndak ada rahasia. Resepnya sama dengan orang-orang, cuma jahe sama gula merah!” tutur Bude tentang minuman tradisional buatannya. Bila lidahku atau orang lain mencecap rasa lebih nikmat, pasti karena Bude membuatnya dengan penuh kasih, sama seperti alasannya hadir dalam setiap kegiatan gereja. Hanya karena kasih Kristus.

Bude! Begitulah aku menyapanya, juga sebagian besar umat di Wilayah St. Sicilia juga Paroki St. Paulus, kota Depok. Wanita sederhana yang sebenarnya bernama Juliana ini juga akrab dipanggil Bude Parto—mengikuti nama almarhum suaminya, Suparto. Bude adalah sosok yang sangat ramah serta murah senyum. Bude juga periang dan humoris. Tak lama setelah berkenalan aku langsung saja merasa akrab seperti bertemu eyangku. Bagaimana tidak? Setiap kugoda atau mendengar leluconku, Bude selalu tergelak riang kadang bahkan turut melucu. Bercanda dengan Bude seperti bercanda dengan teman sebaya. 

Sejatinya wanita yang suka menggelung rambutnya tersebut sudah tidak muda lagi. Tahun 2011 saat aku pertama kali berkenalan, usia Bude tercatat baru 66 tahun. Padahal sebenarnya lebih tua sekitar 5-10 tahun, mungkin 72 atau bahkan 80. Di KTP ditulis lahir tahun empat lima, tapi sebenernya lahirku tahun tiga puluhan, pokok sebelum Indonesia merdeka juga sebelum Jepang datang. Demikian Bude mengisahkan perihal usianya. “Wah jadi muda banget, harusnya Bude dipanggil Tante dong,” candaku. Bude Parto yang tercatat sebagai anggota paguyuban lansia pun tertawa panjang.

Sampai tahun 2014 Bude Parto tinggal sendiri di rumah mungilnya yang bersih dan asri di daerah Kampung Lio. Meskipun hidup sederhana dan seorang diri, Bude bukan lansia yang lemah. Bude bahkan sangat energik. Kerutan di tangan dan kaki, keriput di wajahnya, juga putih rambutnya sama sekali tidak mengaburkan sorot matanya yang memancarkan semangat muda. Sakit pada bagian pinggang dan kakinya yang cukup serius tidak pernah meredupkan semangat Bude untuk berjalan kaki ke mana pun pergi, terlebih untuk kegiatan gereja. Hujan ataupun panas tidak pernah menghalangi langkahnya. Kata ‘malas’ dan ‘lelah’ sepertinya tidak ada dalam kamusnya. Padahal rumah Bude jauh dari jalur angkot. Kebetulan angkot pun hanya mengelilingi wilayah perumahan kami sehingga jalan kaki adalah satu-satunya pilihan jika tidak memiliki kendaraan. Jarak terjauh antarrumah di Wilayah St. Sicilia harus ditempuh dengan berjalan kaki selama 20-30 menit.  

Satu-satunya alasan kita ikut dalam kegiatan gereja semestinya hanya karena dan untuk Tuhan. Jangan kita melayani karena terpaksa bahkan sambil bersungut-sungut. Atau, jangan karena si A tidak datang doa di rumah kita, lalu kita pun “balas dendam” tidak mau hadir saat doa dilakukan di rumah si A. Demikian nasihat seorang prodiakon di wilayahku. Sepertinya Bude telah mengikuti nasihat itu, karena nyaris tidak pernah absen dari kegiatan di lingkungan, wilayah, dan paroki. Tidak hanya misa hari minggu, tetapi Bude juga rajin ikut ibadat/misa wilayah, renungan BKSN/APP/AAP, doa rosario sebulan penuh, novena, arisan, paguyuban lansia, latihan/tugas koor wilayah, tugas tata tertib, dan sebagainya. Di tingkat lingkungan/wilayah, tidak peduli jika umat yang ketempatan itu tidak pernah hadir di rumahnya atau bahkan tidak pernah aktif, Bude tetap saja akan hadir. Hanya satu alasan yang terlintas dalam benak Bude, yaitu ia datang untuk berkumpul dan berdoa dalam nama Yesus. Saat kami yang muda mengeluh capek sepulang kerja, atau beralasan tak ada transportasi, Bude sudah melangkahkan kaki untuk memenuhi setiap undangan. Bude hanya absen jika benar-benar tak sanggup menahan rasa sakitnya atau cuaca benar-benar sangat buruk. Namun hal ini pun jarang terjadi.

Oleh karena itu bila muncul rasa malasku untuk hadir dalam kegiatan lingkungan/wilayah karena harus berjalan jauh, suara hatiku sontak akan menegur keras mengingatkanku pada sosok Bude. Jika Bude yang sudah sepuh dan kurang prima tak pernah absen, kenapa aku yang muda dan sehat justru sedemikian malas? Saat enggan latihan/tugas koor, bayangan Bude—yang kadang menyanyi sampai terbatuk-batuk serta memegang teks dengan tangan gemetar karena usia lanjut—membuatku malu pada diri-sendiri. Saat merasa berat menjalankan tugas tata tertib, bayangan Bude yang sibuk mengumpulkan kantong kolekte dengan setengah terbungkuk dan tangan gemetar, seperti bergegas hadir menamparku.  

“Semangat dan perjuangan hidupnya patut diteladani. Pribadi Bude yang mandiri dan jarang mengeluh meski sakit membangkitkan semangat bagi pengurus dan umat lain untuk terus melayani,” tutur Alex salah satu pengurus wilayah. Lain lagi kisah Ibu Seve, ketua lingkungan di mana Bude pernah tinggal. Suatu hari saat ia berniat absen kegiatan doa karena hujan akhirnya tetap pergi juga tersebab Bude datang ke rumahnya dan mengajak berangkat. Tanpa bermaksud menggurui, Bude telah menjadi panutan dengan sendirinya. Siapa pun yang melihat betapa rajin Bude, pasti merasa sungkan jika tidak hadir dalam doa yang diadakan di rumahnya. Alhasil saat doa/renungan dilakukan di rumah Bude, bisa dibilang yang hadir cukup banyak, bahkan meskipun hujan lebat mengguyur.   

Meski hidup sederhana Bude tidak pernah malu, bahkan cenderung terbuka. Dalam kehidupan menggereja, baik di lingkungan, wilayah maupun paroki, Bude selalu siap memberi sekecil apa pun sesuai kemampuannya. Saat kegiatan doa/renungan diadakan di rumahnya, Bude yang kadang masih menjahit baju, selalu menyiapkan makanan buatan sendiri. Biasanya berupa camilan tradisional, rebusan (pisang, dll), atau bihun goreng, serta tidak ketinggalan adalah wedang jahe andalannya. Bude juga siap menyumbangkan tenaga untuk ikut memasak keperluan kembul bujana (makan bersama untuk mempererat ikatan persaudaraan penuh kasih) di hari perayaan, seperti peringatan hari pangan atau pesta nama paroki. Wedang jahe menjadi minuman favorit sekaligus ciri khas kesertaan Bude Parto. 
   
Sudah dua tahun ini Bude hijrah ke Yogya untuk menghabiskan hari tuanya dekat dengan keluarga. Namun sosok Bude yang penuh semangat masih tertinggal di hatiku dan saudara-saudara seiman di Depok. Sesekali aku suka meneleponnya dan juga berkunjung ke Yogya untuk melepas kangen—menggoda lalu mendengar tawa renyahnya yang mengandung virus semangat. Di kota Gudeg, konon Bude juga aktif di lingkungan St. Fransiskus Xaverius, Paroki St. Paulus, Pringgolayan. Tak ada yang berubah. Tidak hanya tekun dalam doa pribadi, Bude masih rajin menapaki jalan demi menghadiri kegiatan di lingkungan. Selain memberi kebahagiaan, bagi Bude kehidupan menggereja juga menjadi tanda kesetiaannya mengikut Yesus yang telah diimaninya semenjak kecil. “Lha wong ndherek Yesus itu tenang, enak ndak macem-macem, ati tentrem,” tutur wanita yang cenderung menampilkan senyuman malu-malu kucing jika mendapat pujian.      
Sosok Bude memberi teladan yang tampaknya kecil namun sungguh mengena. Dalam kesederhanaan, tanpa jabatan, tanpa pendidikan tinggi, dan tanpa banyak bicara; imannya mewujud lewat kehadiran yang tulus, penuh kasih, serta siap melayani. Bahkan wedang jahe yang dibuat Bude dengan penuh kasih menjadi pengingat akan pesan rasul Paulus: “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.”
 
Andaikan aku lakukan yang luhur mulia
Jika tanpa kasih cinta hampa tak berguna
Andaikan aku dermakan segala milikku
Tapi hanyalah cintaku sanggup membahagiakan

Semarang, 28 September 2016