Kira-kira dua minggu yang
lalu, aku menelepon tetangga yang belum lama kembali dari rumah sakit. Dengan
gembira si ibu yang biasa kusapa Simbah itu mengabarkan kondisinya yang sudah
membaik. Selain mengucapkan terima kasih, dengan sedih Simbah juga bercerita
bahwa beliau diminta oleh RT untuk menyerahkan surat dari RS yang menjelaskan
sakitnya sekaligus untuk membuktikan bahwa ia tidak terkena covid-19. Kuhibur
Simbah, kukatakan untuk tidak sedih dan tersinggung karena dalam situasi
sekarang kita semua memang harus terbuka dan jujur demi keselamatan bersama.
Simbah itu pun akhirnya legowo.
Seminggu kemudian, sepulang
dari bank aku mampir ke rumah ibu pengurus RT untuk menyerahkan uang arisan dan
iuran. Kebetulan aku masih ber-“APD” lengkap—topi rajut, masker, dan outer
berlengan panjang—dan tak ketinggalan kacamata yang setia menemaniku. Sambil
menandatangani sebuah formulir aku berbasa-basi mengeluhkan situasi jalanan
yang tetap ramai meskipun diberlakukan PSBB. Tak lupa kuingatkan si ibu untuk
tidak lupa cuci tangan setelah memegang uang.
Kostum bepergian dengan
“Alat Perlindungan Diri” yang cukup rapat rupanya membuat seorang ibu lain yang
juga berada di sana tidak mengenaliku. Ibu pengurus RT pun kontan tertawa dan
nyelutuk, “Iya lho! Malam itu waktu antar Simbah, Mbak Dwi itu dikira petugas
rumah sakit yang datang menjemput pasien covid!” Rasa terkejutku berubah
menjadi senyuman membayangkan diriku sempat menjadi “trending topic”... hehe.
Ibu pengurus RT pun menjelaskan supaya tidak terjadi prasangka maka Simbah pun
dimintai surat keterangan dari rumah sakit. Penjelasan itu membuat kami tertawa
mafhum.
Ceritanya, malam itu cucu
Simbah menghubungiku dan menyampaikan bahwa Simbah muntah darah dan harus
dibawa ke rumah sakit. Di masa pandemi ini sebenarnya ada rasa takut bila harus
ke rumah sakit, tetapi tidak ada pilihan. Aku harus membantu mereka. Karena
kupikir akan repot jika harus pesan taksi maka kutelepon Ibu RT untuk membantu
kami meminjamkan ambulance milik Masjid RW. Singkat cerita ambulance pun datang
dan menunggu di ujung gang. Diiringi gerimis, Bu RT dan beberapa tetangga
mengantar kami—aku, simbah, dan cucunya—sampai ke ambulance. Bu RT meminta maaf
karena tidak bisa menemani.
Malam itu aku mengantar
Simbah dengan pakaian dan “APD” seperti biasa. Jangankan hendak mengantar orang
ke rumah sakit, hanya berbelanja ke pasar saja aku ber-“APD” lengkap. Namun,
karena terburu-buru, aku asal ambil saja baju teratas yang ada di tumpukan.
Tanpa kusadari yang kuambil adalah celana berwarna krem cerah, kaus putih, dan
hoodie atau jaket bertudung yang juga berwarna putih. Entah bagaimana pula
masker, tas kain, dan sepatu yang kupilih pun berwarna putih.
Alhasil, semua yang
kukenakan malam itu—dari ujung kepala hingga ujung kaki—didominasi oleh warna
putih, mirip petugas RS. Boleh jadi ada yang melihat dari kejauhan lalu menebar
info seperti ini: ada seorang ber-APD lengkap keluar dari Gang 8 seraya memapah
seseorang masuk ke dalam ambulance. Bagaimanapun kedatangan ambulance serta petugas
medis ber-APD putih identik dengan penjemputan orang yang diduga positif
covid-19. Mungkin, ya mungkin saja seperti itulah hoaks mulai terbangun. Oh my
God!
Di masa pandemi ini,
situasi memang sangat sensitif. Sedikit banyak menyerupai masa-masa menjelang
pilpres atau pilkada. Setiap tampilan dan gerakan bahkan bisa memiliki lebih
dari satu persepsi, tergantung siapa yang melihat dan menilai. Namun, kita
jangan menjadi apatis! Teruslah saling bersimpati dan menolong. Cukup pastikan
untuk tetap waspada dan lindungi diri masing-masing. Selalu kenakan ‘Alat
Perlindungan Diri’ karena baik diri kita maupun orang lain sama-sama berpotensi
menjadi pembawa virus yang tak kasat mata bernama corona. Jangan lupa saling
berbagi semangat, alih-alih menyebarkan hoaks. Yuk, bersama kita lawan
covid-19!
Apa yang terlintas dalam benak saat Anda mendengar kata "duyung"?
Mungkinkah Anda membayangkan sosok cantik "puteri duyung" berwujud
separuh manusia separuh ikan? Bagaimanapun, mitos "mermaid"
yang melegenda dan sudah ditulis serta difilmkan dalam berbagai versi
dan bahasa cukup familier bagi anak-anak maupun orang dewasa. Tak heran
banyak orang tahu dongeng "Puteri Duyung", tetapi tidak mengenal
"duyung".
Selidik punya selidik, ternyata "duyung" adalah nama
populer untuk satwa laut "dugong". Alih-alih mendengar mitos puteri
duyung, baiklah kita akrabi "duyung" yang memang benar-benar ada. Yuk,
simak penelusuran saya berikut!
Sosok Pemalu dari Perairan Hangat
Kebanyakan orang menyebut duyung sebagai "ikan duyung", padahal satwa bernama ilmiah Dugong dugon ini bukan jenis ikan, lho!
Duyung atau dugong termasuk mamalia (hewan menyusui) seperti paus,
lumba-lumba, dan anjing laut. Namun, berbeda dengan mamalia laut lain,
duyung tidak memangsa ikan atau satwa laut lain. Duyung termasuk ordo Sirenia, yaitu kelompok mamalia pemakan tumbuhan (herbivora) yang hidup di perairan.
Duyung
diyakini berevolusi dari mamalia darat (lebih dari 60 juta tahun y.l.)
dan berkerabat dekat dengan gajah. Seperti gajah, tubuhnya besar dan
gempal. Panjangnya mencapai 3 meter dengan berat hingga 450 kilogram.
Wow! Bentuk moncongnya mirip belalai gajah tetapi pendek dan mengarah ke
bawah. Meskipun berekor seperti ikan, tubuh duyung tidak bersisik.
Kecepatan berenangnya relatif lamban (10-22 km/jam), tetapi mampu
bertahan dalam air hingga 12 menit terutama saat mencari makan di dasar
laut.
Duyung (dugong) hidup di perairan hangat dengan area
jelajah cukup luas. Petualang laut ini tidak hanya hidup di perairan
dangkal yang tenang, tetapi konon juga ditemukan di sepanjang cekungan
samudera (ocean basin), misalnya di Samudera Hindia dan
Pasifik. Populasi duyung terutama tersebar di perairan Indo-Pasifik,
mencakup sekitar 37 negara. Di Indonesia, duyung dapat dijumpai di
kawasan timur seperti perairan Maluku dan Papua atau perairan sebelah
utara Australia. Populasi terbanyak diketahui ada di perairan Pulau
Bintan (Kepulauan Riau).
Sosok duyung
yang lucu dan imut (Sumber:Jin Kemoole Flickr - theconversation.com)
Mamalia berwajah lucu dan imut yang juga dikenal sebagai sapi laut (sea cow)
ini, ternyata "pemalu" alias sulit didekati. Namun, satwa yang mampu
hidup hingga 70 tahun ini, sebenarnya tergolong jinak dan tidak
berbahaya. Konon, bila sudah "kenal" manusia, seekor duyung mau mendekat
bahkan diajak "bermain". Simak pertemuan para penyelam dengan seekor
duyung di perairan Pulau Bangka lewat rekaman ini atau yang ini.
Penduduk
Pulau Alor, NTT, bahkan menamai beberapa duyung yang tinggal di
perairan mereka. Dengan izin khusus serta di bawah pengawasan, wisatawan
dapat bertemu duyung secara langsung. Berikut video aksi lucu salah satu duyung bernama Mawar.
Simbiosis Mutualisme Duyung dan Padang Lamun
Tumbuhan apa yang jadi makanan
duyung? Lamun! Pernahkah Anda mendengar nama tumbuhan tersebut?
Bagi sebagian orang, nama "lamun" sama asingnya dengan "dugong".
Faktanya, lamun memang kalah populer dibandingkan rumput laut.
Ketahuilah, lamun adalah sejenis rumput, tetapi lamun (seagrass) berbeda dengan rumput laut (seaweed). Rumput laut termasuk ganggang (algae), sedangkan lamun adalah tumbuhan air berbunga dan berbiji tunggal (monokotil) dari kelas Angiospermae.
Lamun memiliki akar, batang menjalar (rimpang/rizoma), dan daun sejati.
Batangnya yang menjalar dapat menghasilkan tunas dan akar baru,
sehingga lamun tumbuh membentuk hamparan atau padang lamun
di dasar laut sebagaimana padang rumput di daratan. Lamun memiliki
banyak nama daerah, seperti rumput setu (Riau), samo-samo (Kep. Seribu,
Sulawesi Selatan, dan Maluku), rumput unas (Kalimantan), dan sebagainya.
Lamun atau
seagrass (Sumber: marinescience.untan.ac.id)
Lamun adalah satu-satunya tumbuhan yang dapat hidup
terendam dalam air asin, baik yang bersubstrat pasir; lumpur; atau campuran
pasir, lumpur dan karang. Padang lamun (seagrass bed) dijumpai di
perairan laut dangkal yang masih terjangkau sinar matahari.
Di Indonesia, lamun terhampar dari perairan Sumatera
hingga Maluku dan Papua. Biasanya padang lamun terdapat di daerah pasang-surut
dan pulau-pulau karang. Indonesia kaya akan lamun. Dari 60 jenis lamun di
dunia, LIPI mencatat 13 jenis ada di perairan Indonesia, a.l. Enhalus
acoroides dan Thalassia hemprichii.
Hamparan lamun di dasar laut di Teluk Ambon (Sumber: www.tribun-maluku.com)
Padang lamun merupakan habitat bagi aneka biota laut untuk berlindung
dari predator; mencari makanan; juga berkembang biak. Dalam ekosistem
lamun bisa dijumpai beragam jenis ikan (baronang, kakap, dll.); krustase
(udang-udangan, seperti lobster, rajungan, kepiting, dll.);
kerang-kerangan; dan satwa besar seperti penyu hijau dan duyung. Video
berikut akan memberi gambaran kehidupan ekosistem lamun.
Tahukah Anda? Dalam ekosistem lamun, duyung merupakan satwa paling istimewa. Duyung dan lamun memiliki hubungan simbiosis mutualisme; dan keduanya sangat tergantung satu sama lain.
Padang
lamun bukan sekadar habitat, tetapi sumber makanan duyung. Seekor
duyung mengonsumsi lamun sekitar 20-50 kg per hari. Lamun adalah makanan
utama tak tergantikan. Artinya, ketiadaan dan/atau kerusakan padang
lamun berpotensi mengancam kelangsungan hidup mammal herbivora ini.
Sebaliknya, keberadaan duyung sangat dibutuhkan ekosistem lamun karena vegetarian ini menyokong kesuburan lamun. Cara duyung mengais hamparan lamun
membantu terjadinya daur hara (nutrien) dalam substrat, sedangkan hasil
ekskresinya menjadi "pupuk" penyubur. Tanpa duyung, padang lamun
cenderung kurang subur dan mudah terserang wabah hingga punah. LIPI
menyebut duyung sebagai spesies kunci ekosistem lamun.
Benarkah Duyung dan Lamun Terancam Punah?
Menurut Daftar Merah Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN Red List), duyung berstatus rentan (vulnerable/VU)
terhadap kepunahan, kecuali jika keselamatan dan reproduksinya
ditangani dengan baik. Faktanya, populasi duyung menurun dari waktu ke
waktu. Menurut WWF populasi duyung menurun tajam sejak tahun 2011.
Penurunan
populasi duyung antara lain akibat perburuan. Sejak ribuan tahun lalu,
duyung telah diburu untuk diambil daging, minyak, dan bagian lain
tubuhnya seperti tulang, taring, dan gading. Bahkan, karena pengaruh
mitos, air mata duyung pun menjadi incaran. Selain akibat perburuan,
juga karena terdampak pencemaran, tertabrak kapal, tertangkap jaring
tanpa sengaja (bycatch), atau terdampar di pantai. Satu lagi
penyebab kepunahan duyung paling krusial adalah ketiadaan atau kerusakan
sumber makanannya, yaitu padang lamun.
Sebenarnya, padang lamun
hanya menempati sekitar 0,2% lautan dunia. Jumlah yang "tidak seberapa"
itu pun ditengarai dalam kondisi yang cenderung menurun. Menurut data
LIPI (2017) Indonesia memiliki 1.507 km2 padang lamun, tetapi hanya 5%-nya (75,35 km2)
yang sehat. Selebihnya, terdeteksi kurang sehat (80%) dan tidak sehat
(15%). Berbagai penyebab kerusakan atau kepunahan padang lamun, antara
lain hilangnya mangrove termasuk oleh kegiatan reklamasi; penangkapan
ikan secara destrukstif (dengan bom, pukat, dan bahan kimia); dan
pencemaran oleh tumpahan minyak ataupun limbah (industri, pertanian, dan
rumah tangga). Sebagai gambaran, simaklah kajian LIPI terkait kondisi padang lamun di perairan Indonesia.
Konservasi Padang Lamun untuk Duyung dan Kita
Ancaman
kepunahan padang lamun sudah mengkhawatirkan. Oleh karena itu,
penyelamatannya harus menjadi perhatian serius. Mengingat hubungan
simbiosis lamun dan duyung maka konservasi padang lamun sangat mendesak
bagi penyelamatan duyung. Bila lamun yang menjadi habitat dan makanannya
subur, duyung pun terselamatkan.
Namun, hal yang sepenuhnya harus kita sadari adalah: konservasi padang lamun juga sangat mendesak bagi kehidupan kita.
Kenapa begitu? Ketahuilah, padang lamun bukan saja rumah bagi duyung
dan aneka biota laut, tetapi juga memberikan banyak sekali manfaat bagi
manusia. Bagaimana hal ini dijelaskan?
Pertama,seperti halnya terumbu karang (coral reef),
padang lamun adalah habitat penting bagi beragam biota laut yang
menjadi tangkapan utama nelayan, seperti puluhan jenis ikan,
udang-udangan, cumi-cumi, dan kerang-kerangan. Kerusakan padang lamun
berdampak menurunnya populasi biota laut yang hidup di dalamnya.
Akibatnya, tangkapan nelayan akan berkurang, mata pencahariannya
terganggu, dan pada akhirnya kondisi ekonominya pun terancam. Di lain
pihak, berkurangnya pasokan ikan berdampak turunnya konsumsi ikan
sebagai sumber protein penting. Akibatnya, terjadilah penurunan gizi
masyarakat.
Kedua,
seperti juga mangrove, padang lamun berpotensi mengantisipasi erosi
wilayah pesisir serta mengurangi dampak tsunami. Cengkeraman rimpang
mampu mengantisipasi gerusan ombak, sedangkan lebatnya dedaunan lamun
dapat melemahkan gelombang/arus laut yang menuju pesisir.
Ketiga,
padang lamun oleh sistem perakarannya mampu menyaring limbah dan
sedimentasi sehingga kejernihan dan kualitas air laut dapat terjaga.
Keempat, padang lamun berperan menangkap karbon dioksida (CO2)
dan mengubahnya menjadi oksigen yang berguna bagi kehidupan dan
perkembangbiakan biota laut di dalamnya, termasuk duyung. Penyeraban
emisi karbon juga berguna mengurangi laju perubahan iklim.
Jelaslah
bahwa padang lamun berperan penting bagi manusia, secara langsung
maupun tidak langsung. Jadi, konservasi padang lamun bukan saja demi
kelangsungan hidup duyung, tetapi juga demi kesejahteraan umat manusia.
Dukungan untuk DSCP Indonesia
Masyarakat
dunia sepakat melindungi duyung dan lamun. Di Indonesia, larangan
perburuan dan konsumsi duyung dikukuhkan dengan Permen RI No. 7 Tahun
1999. Sayang, kepedulian masyarakat terhadap kelestarian duyung dan
lamun masih perlu ditingkatkan.
Oleh karena itu, kehadiran Proyek Konservasi Dugong dan Lamun (Dugong and Seagrass Conservation Project/DSCP)
sangatlah relevan. Proyek yang melibatkan delapan negara (Indonesia,
Madagaskar, Malaysia, Mozambik, Kepulauan Solomon, Timor Leste, Vanuatu,
dan Abu Dhabi) ini mengupayakan konservasi dugong dan ekosistem lamun
dengan berbagai cara, termasuk dengan melibatkan masyarakat. Artinya,
melalui "Dugong and Seagrass Conservation Project Indonesia"
atau "DSCP Indonesia" kita dapat mendukung upaya konservasi duyung dan
lamun yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia. Partisipasi dapat
dimulai dari hal-hal kecil, seperti contoh berikut.
Turut mempelajari dan mengenal duyung dan lamun serta manfaatnya untuk meningkatkan kepekaan diri.
Turut meningkatkan kesadaran masyarakat (public awarenes)
dengan membagikan informasi tentang duyung dan lamun serta manfaatnya,
juga menyosialisasi larangan perburuan dan konsumsi duyung, melalui
tulisan, foto, video, atau karya lain. Contohnya seperti video ini.
Lewat
cara sama kita dapat melakukan promosi wisata bahari untuk mengakrabi
duyung dan lamun; kampanye praktik penangkapan ikan yang ramah
lingkungan; dan berbagai tindakan kepedulian terhadap duyung dan lamun.
Tidak mencemari wilayah perairan (danau, rawa, sungai, dan laut) dengan sampah, bahan kimia, dan/atau bahan pencemar lain.
Melaporkan
kepada aparat setempat jika mengetahui penangkapan duyung; melihat
duyung mati atau terdampar di pantai; mencurigai adanya perusakan
habitat lamun; dan sebagainya.
Turut serta dalam kegiatan
pengelolaan dan/atau rehabilitasi padang lamun di perairan Indonesia.
Atau, berpartisipasi dalam berbagai kegiatan lain (Pantau infonya lewat
fanpage DSCP Indonesia di sini atau akun twitter-nya di sini )
Beberapa lokasi kegiatan DSCP Indonesia dalam pengelolaan dan konservasi
dugong dan lamun berbasis masyarakat (Sumber: factsheet DSCP Indonesia)
Tak kenal maka tak sayang!Ketertarikan
akan berkembang menjadi rasa sayang; dan dari rasa sayang akan tumbuh
rasa memiliki serta kesadaran untuk turut melindungi. Nah, tunggu apa
lagi? Daripada melamun, yuk bantu konservasi duyung (dugong) dan lamun!