Tampilkan postingan dengan label Berbagi Info. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berbagi Info. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 April 2020

Kesempatan Berguru pada Putu Fajar Arcana


Sumber: Instagram Arcana Foundation

Hari-hari di rumah saja selama pandemi covid-19 ngapain aja? Banyak di antara kita, termasuk saya, belajar ini-itu demi mengisi waktu atau menambah ilmu. 

Kebetulan pula, hari ini tanpa sengaja saya menemukan unggahan Instagram @arcanafoundation tentang even pelatihan menulis kreatif. Acara yang diberi tajuk #ProsaDiRumahAja ini digelar oleh Galeri Indonesia Kaya. Tidak tanggung-tanggung, pengajar yang akan memandu pelatihan dua hari tersebut adalah penulis kondang Putu FajarArcana atau akrab disapa “Blli Can”.

Namun, kta harus melalui seleksi untuk bisa ikutan. Yuk, langsung aja simak aturannya pada unggahan tersebut di atas! 

Depok, April 2020

Kamis, 26 April 2018

Mewaspadai Tingkat "Bahaya" Sebuah Panggilan Telepon Tak Dikenal


Belum lama ini, sebuah nomor tidak dikenal menghubungi ponsel saya. Tidak saya angkat, tidak pula saya reject. Perasaan saya mengatakan telepon itu dari telemarketer atau sales yang menawarkan produk asuransi/perbankan, seperti yang sering kali terjadi. Karena pernah tertipu, saya sedikit waspada menerima telepon dari nomor tak dikenal. Pengalaman saudara yang dihipnotis lewat panggilan telepon hingga akhirnya kehilangan puluhan juta rupiah semakin menguatkan kewaspadaan itu.  

Kembali ke cerita mengenai panggilan tak dikenal tadi. Biasanya, bila tidak diangkat, telepon dari sales akan "reda" dengan sendirinya. Sementara kalau telepon datang dari saudara, teman, atau klien baru, biasanya disusul SMS yang menyampaikan bahwa mereka baru saja menelepon. Atau jika nomor telepon seluler mungkin menyertakan pesan via Whatsapp. Namun, itu tidak terjadi! Panggilan dari nomor asing tersebut terus saja datang nyaris seperti teror. Pagi, siang, sore, bahkan malam hari. Bukan hanya 1-2 kali tetapi lebih dari 3 kali sehari; dan itu berlangsung selama berhari-hari. Saya mulai curiga.


Mulailah saya mencari informasi lewat Eyang Google. Saya lacak nomor sesuai kode area telepon kabel rumah (021), yaitu area Jadetabek (Jakarta Depok Tangerang Bekasi). Ternyata, nomor telepon kabel rumah area Jadetabek terbagi lagi menjadi beberapa wilayah STO (Sentral Telepon Otomat). Dari 6-8 digit angka, 2-4 digit pertama menunjukkan nomor wilayah dari lokasi pengguna di area Jadetabek. Dari sini ketahuan bahwa 2-4 digit pertama nomor yang menghubungi saya tidak terdaftar di lokasi mana pun. Kecurigaan saya semakin bertambah.

Sementara nomor asing tersebut terus-menerus membuat ponsel berdering, saya sibuk minta bantuan Eyang Google. Saya gunakan kata kunci "siapa yang telepon" untuk mencari informasi. Setelah saya tekan ENTER, Eyang Google menampilkan daftar artikel dari berbagai platform. Masing-masing menawarkan jawaban atas pertanyaan "siapa yang telepon" yang saya ajukan. Salah satu platform yang menarik perhatian saya adalah untuk memroses ini adalah Tellows.net. Langsung saja saya klik untuk menelusurinya.


Pada laman yang terbuka, tersedia kotak bertuliskan "Masukkan nomor" di sudut kanan atas. Segera saja saya masukkan nomor telepon tak dikenal yang selama berhari-hari telah mengganggu saya. Voila! Dalam sekejap saya mendapat informasi rating nomor terkait. Saya mendapat informasi berupa peta dari area mana panggilan tersebut datang; berapa banyak orang yang telah melaporkan nomor tersebut; jenis panggilan telepon; permintaan pencarian untuk nomor terkait; dan sebagainya. Dicantumkan pula berapa banyak orang yang telah memberikan komentar (a.k.a. komplain) atas nomor telepon tersebut.


Sebagai kesimpulan, pada satu bagian laman dicantumkan angka skor. Kita dapat menilai panggilan berdasarkan skor yang diberikan oleh Tellows. Angka skor berkisar antara skala 1 (sangat dapat dipercaya) sampai dengan 9 (tidak dapat dipercaya). Skor tersebut agaknya dibuat berdasarkan jumlah laporan berikut komplain penerima telepon.

Nomor yang saya masukkan memiliki angka skor 6. Wow! Lalu pada bagian selanjutnya saya dapat membaca puluhan komplain yang disampaikan oleh mereka yang merasa dirugikan. Bunyi komplain tersebut antara lain: jangan diangkat ya, bahaya; hati-hati, ngakunya survei a/n bank ternyata ujung-ujungnya menanyakan transaksi; nomor ini harus diwaspadai; sangat mengganggu; dan sebagainya.

Senang juga menemukan platform seperti Tellows.net yang sangat membantu. Hanya dengan memasukkan nomor telepon, saya bisa mengetahui tingkat risiko-kalau tidak bisa dibilang bahaya-atas sebuah panggilan telepon. Platform yang memiliki database nomor spam dan scam ini menolong pengguna untuk menengarai apakah sebuah nomor telepon mengganggu dan/atau berbahaya. 

Menurut saya, platform semacam ini (dan memang ada beberapa) bisa dikatakan sangat berguna, karena banyak nomor tak dikenal yang bergentayangan mencari mangsa. Mungkin ada nomor yang sifatnya hanya mengganggu karena datang dari para telemarketer atau sales yang konon tak pernah putus asa dalam menawarkan produknya.

Namun, besar pula kemungkinan datang dari para penipu kelas wahid, yang bahkan hanya melalui telepon bisa menghipnotis korbannya sedemikian rupa. Lewat platform semacam Tellows ini, kita juga dapat membagikan pengalaman kita, agar orang lain bisa lebih waspada. Penggemar belanja daring atau pebisnis daring juga bisa memanfaatkan platform ini untuk mewaspadai penipuan dalam transaksi jual-beli.  

Tidak mengangkat telepon dari nomor yang belum kita simpan kadang juga menjadi sebuah dilema. Jangan-jangan telepon itu dari klien baru (terutama bagi pekerja lepas atau pebisnis daring); atau malah dari saudara, teman, atau kerabat yang hendak mengabarkan berita penting.

Untuk menyiasatinya kita harus rajin dan teliti menyimpan nomor siapa pun yang sudah kita kenal atau pernah terhubung ke dalam fasilitas phonebook. Meskipun tidak mengangkat telepon, tetapi jika perasaan kita kuat mengatakan "semua akan baik-baik saja" kita bisa mengirim SMS untuk menanyakan identitas penelepon berikut keperluannya. Konon, ini pun berisiko, tetapi demi sopan santun tak ada salahnya. [@dwiklarasari]   

Depok, 25 April 2018

Note:
Artikel ini juga dimuatdi akun saya di blog keroyokan Kompasiana dengan judul sama. Klik link berikut Mewaspadai Tingkat "Bahaya" Sebuah Panggilan Telepon Tak Dikenal    

Selasa, 20 Maret 2018

Kantil, Bunga Khas Provinsi Jawa Tengah



Sumber: http://rebanas.com - http://caratanam.com - https://id.wikipedia.org

Januari lalu saya melihat berita tumbangnya pohon bunga kantil di kompleks Pendapa Kabupaten Jepara. Pohon berumur sekitar 1,5 abad ini bersejarah, karena di bawahnya adalah tempat favorit R.A. Kartini untuk bermain dan merenung. Saya terheran-heran mendengar diameter pohon mencapai 1 meter dan tingginya 15 meter. Wow!? Setahu saya tinggi pohon kantil hanya 1-2 meteran. Rasa penasaran membawa saya berselancar menyelisik seluk-beluk pohon kantil. Bukan saja tentang pohon kantil, saya juga menemukan info adanya SK Kemendagri No. 48 Tahun 1989 tentang Pedoman Penetapan Identitas Flora dan Fauna Daerah. Dalam SK tersebut bunga kantil ditetapkan sebagai flora identitas Jawa Tengah.    

Dalam SK Kemendagri No. 48 Tahun 1989 tentang Pedoman Penetapan Identitas Flora dan Fauna Daerah, bunga kantil (Michelia alba) ditetapkan sebagai flora identitas Jawa Tengah. Nah, bersama @sahabatgold saya ingin melakukan sedikit eksplorasi mengenai keindahan dan makna bunga khas ini! Ikutan menyimak, yuk!   
  
Bunga kantil atau dikenal juga dengan cempaka putih termasuk suku Magnoliaceae. Tinggi pohon bunga kantil dapat mencapai 30 meter dengan diameter batang hingga 1 meter. Kantil masih berkerabat dengan kenanga (cempaka kuning), cempaka merah, dan cempaka ungu. Kantil adalah jenis cempaka yang paling populer di Indonesia. Agaknya penetapan kantil sebagai flora identitas Jawa Tengah sangatlah pas. Mengapa? Karena wilayah Jawa Tengah merupakan salah satu jantung budaya Jawa, di mana bunga kantil dipandang lebih dari sekadar bunga hias. Bagi masyarakat Jawa, bunga dengan keharuman khas dan cukup tajam ini memiliki makna filosofis yang sangat mendalam sehingga memegang peran penting dalam berbagai tradisi atau upacara adat.

Bahasa Jawa “kantil/kumantil” berarti melekat atau benar-benar menempel sehingga tidak mudah terlepas. Secara filosofis bunga kantil diyakini mampu mendekatkan seseorang pada yang dikasihi atau harapannya. Misalnya, merekatkan hubungan sepasang kekasih; mendekatkan seseorang pada pekerjaan serta relasi kerja; dan sebagainya. Kantil juga menjadi simbol ikatan batin tak terputus atau pengingat bagi mereka yang telah berpulang. Tajamnya aroma wangi kantil menjadi pralambang kesucian. Terkait dengan berbagai pemaknaan tersebut, kantil digunakan dalam tradisi perkawinan, pemujaan, maupun kematian. Bersama rangkaian melati, kuncup-kuncup kantil menghiasi sanggul dan keris pengantin Jawa; bunga kantil juga digunakan untuk sesaji dan bunga tabur. Sebagian masyarakat juga mempercayai bunga kantil terkait hal-hal mistis. 
  
Bunga dari India ini ternyata juga mengandung berbagai senyawa aktif serta minyak alami yang memiliki efek farmakologi sehingga banyak dimanfaatkan dalam bidang kesehatan maupun kecantikan. Bunga kantil berkhasiat menyembuhkan berbagai jenis penyakit, seperti batuk, perut kembung, sinusitis, vertigo, gangguan pencernaan, dan sebagainya. Mandi dengan air rebusan bunga kantil dapat menjaga harum aroma tubuh dan rambut. Bunga ini pun dimanfaatkan sebagai campuran lulur, bahan minyak esensial atau parfum, dan berbagai produk kosmetik lain.  
   
Keindahan bunga kantil tidak diragukan lagi. Pada ranting-rantingnya terdapat bulu-bulu halus berwarna keabu-abuan. Sementara mahkota bunga berbentuk lancip kecil memanjang dan berjumlah ganjil (5-7 bh) yang ditopang oleh daun tenda berjumlah genap. Daun tendanya terlihat serupa dengan kelopak bunga. Saat masih kuncup bunga kantil berwarna hijau, namun saat mulai mekar berubah menjadi putih bersih atau putih susu. Kuntum bunga berwarna putih dengan bentuk menarik tersebut tampak mencolok di antara dedaunan bulat oval berwarna hijau tua. Benang sari dalam jumlah sangat banyak di bagian tengahnya menyempurnakan keindahan bunga kantil. 

Kiranya pesona bunga nan eksotik ini menjadi kebanggaan bangsa kita, terutama masyarakat Jawa Tengah. Mari kita lestarikan nilai-nilai budaya warisan leluhur yang ada bersama kehadirannya.    

Depok, 20 Maret 2018

Note: 
Artikel ini juga dimuat di akun Instagram saya [@dwiklara_project] di link ini dalam rangka kompetisi menulis @sahabatgold