Rabu, 30 November 2016

Seni Memanusiakan Wajah Pendidikan


Judul Buku      :    The_Educatorship –
       Seni Memanusiakan Wajah Pendidikan
Penulis              :    FX Aris Wahyu Prasetyo
Penerbit            :    Penerbit PT Kanisius    
Cetakan            :    I, 2016
Tebal                :    216 halaman
ISBN                 :    978-979-21-4887-9


Tak bisa dimungkiri bahwa tanpa disadari guru sering terjebak sekadar mentransfer pengetahuan pada anak didik. Desain pembelajaran, misalnya, tidak disesuaikan dengan kebutuhan anak didik, namun dibuat menurut kepentingan guru (metode pengajaran yang disukai, cara penilaian yang tidak merepotkan, dll.). Padahal semestinya, pembelajaran adalah untuk anak bukan untuk guru (hal 12-16). Demikianlah swa-kritik yang terbangun dari refleksi penulis dalam pergulatannya sebagai guru Sekolah Menengah Atas.

Refleksi di atas hanyalah satu dari 37 topik dalam buku #The_Educatorship – Seni Memanusiakan Wajah Pendidikan, di mana penulis menguraikan serta merefleksikan roh pendidikan, yaitu pendidik dan semangat kependidikannya. Melalui buku ini penulis ingin pengalamannya dapat menginspirasi rekan-rekan guru untuk tidak sekadar menjadi pengajar (teacher) namun terlebih sebagai pendidik (educator). Bahwa lewat proses pembelajaran yang dirancang secara tepat, guru akan menampilkan wajah pendidikan yang lebih humanis. Dengan keyakinan memanusiakan manusia dalam dunia pendidikan, penulis menyebarkan semangat kependidikannya. Menurutnya, menjadi guru bisa jadi sebuah profesi, namun menjadi guru sebagai pendidik pastinya sebuah seni. Ia mengajak para guru memainkan seni kehidupan demi menyelamatkan pendidikan di negara ini (hal 9).  

Buku setebal 216 halaman ini membagikan model pembelajaran yang berfokus pada anak didik, yang dirancang secara kreatif, inovatif, variatif, juga menyentuh hati. Alhasil belajar menjadi sebuah kegiatan yang menyenangkan bagi siswa. Untuk memahami materi, ada kalanya siswa diajak menonton televisi atau menonton film. Di lain waktu mereka diajak bernyanyi, bermain drama; berdebat atau bermusyawarah; berimajinasi; melakukan penelitian/eksplorasi; membuat film, membuat pameran, menulis dan menerbitkan koran; dan sebagainya. Metode belajar demikian membuat siswa jauh lebih antusias, terlebih bila dibandingkan dengan mendengarkan ceramah guru terus-menerus, yang cenderung membosankan. 

Selain menggairahkan, model belajar yang ditawarkan juga berupaya mengembangkan aspek kemanusiaan siswa secara lebih menyeluruh. Bukan hanya aspek intelektual, namun juga sosial, moral, spriritual, afeksi, dll. Misalnya, bagaimana menjadi manusia berbudaya (hal 23-27); memiliki sikap menghargai karya orang lain (hal 28-33),  sikap bertanggung jawab (hal 34-38), dan sikap peduli pada sesama (hal 39-44); menyadari makna keluarga (hal 147-151); peduli pada lingkungan tempat tinggalnya (hal 186-190); dan sebagainya. Hal menonjol dari model belajar dalam #The_Educatorship adalah ajakan bagi siswa untuk melakukan refleksi untuk menemukan makna dan kegunaan materi serta proses belajar yang telah dilakukan. Sebagai contoh, pada akhir bab (#The_Educatorship37, hal 186-190) ditampilkan tulisan hasil refleksi siswa yang menggambarkan betapa ia menikmati pembelajaran. 

Secara keseluruhan buku ini bukan saja berguna bagi guru, namun juga bagi orang tua, keluarga dan masyarakat luas sebagai elemen yang harus bersinergi dengan institusi sekolah demi keberhasilan pendidikan anak. Dengan tegas dinyatakan bahwa ‘salah besar’, jika saat berada di sekolah anak menjadi tanggung jawab sekolah, dan saat di rumah menjadi tanggung jawab keluarga. Sudah saatnya pendampingan anak menjadi tanggung jawab sinergis antara keluarga dan sekolah (hal 191). 

#The_Educatorship – Seni Memanusiakan Wajah Pendidikan ini, bahkan dapat menjadi kritik membangun bagi dunia pendidikan kita yang masih diliputi kegamangan terkait model pendidikan ideal. Anak-anak perlu dibiarkan belajar dalam kelenturan badan, kedinamisan otak, kelembutan hati dan kepedulian sikap; bukan sekadar ‘Datang, Duduk, Dengar, Dapat (4D)’ dengan segudang materi pelajaran dan dalam situasi kelas yang memasung, sebagaimana fakta dalam pendidikan kita (hal 161). Demikianlah salah satu konsep yang ditawarkan di antara banyak konsep lain yang bersifat positif dan berperan meningkatkan sistem pendidikan di Indonesia.   

Depok, 30 November 2016

Senin, 14 November 2016

Haiku untuk Gereja



Kupandang salib
Sadar besarnya cinta
Yesus Penebus

Di atas salib
Tersenyum, Dia berkata
Akulah Jalan!

Kusangkal diri
Kutrima salib hidup
Kuikut Yesus

Air baptisan
Tlah benamkan diriku
Dalam kasih-Mu

Bertanda salib
Bersenjatakan kasih
Aku katolik

Jiwa bermegah
Karena janji Bapa
Aku anak-Nya

Aku musafir
Tapaki jalan salib
Ke rumah Bapa

Bertelut aku
Berseru memanggil-Mu
Lewat doaku

Kan kuserukan
Nama Yesus Tuhanku
Hingga menua

Aku percaya
Tritunggal Mahakudus
Pribadi Allah

Sajroning lampah
Gusti ing Hyang Roh Suci
Paring pepadhang

Tangan kubuka
Kunanti Kristus hadir
Dalam komuni

Puji dan syukur
Sang Roti Kehidupan
Kenyangkan aku

Karena iman
Kupercaya firman-Mu
Cipta semesta

Ku 'kan bertanding
Pelihara imanku
Karunia Allah

Imanku mati
Saat ku tak peduli
Pada sesama

Imanku hampa
Bila ku hanya diam
Tanpa berbuat

Imanku penuh
Kala perbuatanku
Berbalut kasih

Iman cukuplah
Maharahim Tuhanku
Lenyap dosaku


Bagi-Mu Tuhan
Aku segumpal tanah
Bentuklah aku

Bagi sabda-Mu
Jadikan kami Tuhan
Ladang yang subur

Bila Kau tabur
Benih sabda berbuah
Berlipat ganda

Kau pilih aku
Dalam karya cinta-Mu
Aku tersanjung

Biar kuwartakan
Cinta kasih-Mu Tuhan
Lewat karyaku

Kau trima tugas
Lahirkan Juruslamat
Tanpa bertanya

Ketaatanmu
Fiat voluntas tua
Jadi doaku

Bunda Maria
Ibu Tuhanku Yesus
Kau teladanku

Hingga Golgota
Bunda temani Putra
Teladan setya

Nadyan rekaos
Manah ayem lan tentrem
Yesus panglipur

Pada saatNya
Kuncup bunga 'kan mekar
Warnai hari

Bila waktu-Nya
Segala duka lara
Pasti berlalu

Karna bagi-Nya
Tak ada yang terlambat
Aku percaya

Karna kuasa-Mu
Aku akan berpulang
Laksana debu


Depok, 14 November 2016 

Note: 
Ditulis dalam rangka Proyek 1000 Haiku untuk Gereja KPKDG