Tampilkan postingan dengan label Kisah Lucu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Lucu. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Juni 2020

Dari Rumah Saudara


Foto by Thangpan, Pixabay

Saya lupa kapan persisnya terjadi. Namun, bila melihat sosok lansia tengah membayar ongkos angkutan kota (angkot) tanpa sadar sering kali saya mengulum senyum karena teringat kejadian tersebut.

Ketika itu saya ada dalam satu mikrolet dengan seorang ibu yang berusia sekitar 60-an. Ibu tersebut turun lebih dahulu. Segera setelah turun dia berjalan ke pintu depan dan lewat jendela mengangsurkan selembar puluhan ribu kepada sopir. 

"Dari mana Bu?" tanya si sopir ramah, sebelum memberi uang kembalian.

"Oh... dari rumah saudara saya, Nak!" jawab si ibu dengan semringah dan nada bicaranya penuh penghargaan. 

Di kota metropolitan sudah sedikit orang asing yang bersedia memberi perhatian lebih kepada lansia. Mungkin demikian yang terlintas dalam benak si ibu sebelum memberikan jawaban. Namun, si sopir justru menepuk jidatnya seraya tersenyum, dan saya yang menyimak pun jadi ikut tersenyum.

"Ibu bercanda ya? Maksud saya, ibu tadi naiknya dari mana? Biar saya tahu berapa harus kasih uang kembalian!" jawab si sopir dengan sabar.

Seraya menyebut nama sebuah halte, terlihat si ibu menutup bibirnya yang menahan tawa. Mungkin dia tersadar, gegara tidak fokus jadi ke-GR-an. 


Depok, Juni 2020

NOTE:
Tulisan ini juga saya tayangkan di blog kompasiana saya Dwi Klarasari

Minggu, 21 Oktober 2018

Pernahkah Kamu Rindu Berbahasa Daerah?


Foto @dwi_klarasari
Sebelum saya beropini, mari baca lebih dahulu kisah lucu berdasarkan pengalaman seorang teman—sebut saja Cantik, dalam artikel "Dalam Bahasa Jawa, Mlayu Artinya Lari"!

Ketika mendengar kisah tersebut, kami teman-teman sekantor Cantik tertawa terpingkal-pingkal membayangkan si cantik nan elegan harus berlari-lari. Semua itu terjadi karena bahasa Jawa yang menjadi bahasa sehari-hari di kampung halamannya masih sangat menguasai pikiran Cantik. Maklum waktu itu Cantik pendatang baru di Jakarta.

Namun, lama sesudah kejadian lucu tersebut, bahasa Jawa tetap akrab dengan keseharian Cantik. Bahkan setelah bertahun-tahun tinggal di Jakarta, Cantik masih suka mengobrol dengan bahasa daerah bila bertemu keluarga/saudara/teman sesuku, termasuk saya. Kami dan beberapa teman yang kebetulan berasal dari keluarga Jawa, merasa lebih akrab bila mengobrol dengan bahasa daerah (bahasa Jawa). Di mana pun bertemu, bahkan di dalam angkot sekali pun, kami tak segan saling menyapa, bercanda dan mengobrol dalam bahasa Jawa. Tentu saja menjadi pengecualian saat kami harus berbicara dalam rapat atau forum resmi lain di lingkungan kerja.

Saya senang memiliki teman-teman seperti Cantik. Dalam keseharian di Jakarta yang cenderung harus selalu berbahasa Indonesia, rasanya bahagia bila sesekali bisa mengobrol dalam bahasa daerah. Bagaimanapun tinggal di metropolitan yang multietnis ini, menggunakan bahasa Indonesia adalah yang paling pas. Banyak orang yang saya temui dalam urusan pekerjaan atau relasi di komunitas/masyarakat datang dari berbagai daerah di Indonesia-Aceh, Batak, Karo, Minang, Sunda, Jawa, Madura, Bali, Flores, Makassar, Papua, dan sebagainya.

Sudah lama Cantik kembali ke Yogya, dan saya juga terpisah dengan teman-teman dekat yang suka banget berbahasa Jawa. Meskipun di lingkungan masyarakat ada orang-orang sesuku atau sedaerah, tetapi mereka jarang mau berbahasa Jawa. Adakalanya mencuat kerinduan untuk berbahasa daerah. Jadi, kalau tiba-tiba bertemu dengan teman-teman yang 'orang Jawa', refleks saya akan mengajaknya berbahasa Jawa. Ketika berkenalan dengan seseorang, dan setelah lama mengobrol mengetahui bahwa ybs. adalah orang Jawa, saya pun sering berusaha mengajak berbahasa Jawa.

Namun, tidak semua orang Jawa yang sudah "menjadi" penduduk Jakarta mau serta merta berbahasa Jawa. Terlebih lagi bila berada di tempat umum, seperti angkot atau mal. Bukan berprasangka, tetapi pada beberapa orang saya merasakan ada "gengsi" menyelimuti. Ada juga yang terkesan "tidak suka". Mungkin bagi mereka saya terkesan sok akrab.

Ada beragam reaksi saat saya mengajak bicara dengan bahasa Jawa. Ada yang menjawab dalam bahasa Jawa, tetapi dengan suara pelan. Ada juga yang cuek dan tetap menjawab dalam bahasa Indonesia. Uniknya, ada teman yang saya kenal di kampung eyang saya, meskipun berkali-kali saya bertanya dalam bahasa Jawa tetap saja dijawabnya dengan bahasa Indonesia. Lebih parah lagi bila sama-sama orang Jawa yang merantau di Jakarta, ketika bertemu di kampung halaman sama sekali tak mau berbahasa Jawa.

Kadang kala tebersit rasa iri bila mendengar orang-orang dari suku lain dengan asyiknya mengobrol dalam bahasa daerah meskipun mereka ada di ruang publik. Namun, saya bersyukur karena masih memiliki teman-teman seperti Cantik, Indah, Manis, Elok, Ayu, dll. yang mau dan suka diajak mengobrol dalam bahasa daerah di sela-sela penggunaan bahasa Indonesia.

Saya sangat maklum dan menghormati bila beberapa orang tidak berkenan berbahasa daerah saat berada di ruang publik ibu kota. Meskipun demikian, saya yang bukan siapa-siapa ini, sering kali berharap mereka masih mau menggunakan bahasa daerah di lingkungan keluarga, masyarakat sedaerah, komunitas sesuku, dan sebagainya. Bagaimanapun bahasa daerah adalah bagian dari identitas dan warisan budaya kita.

Www.ethnologue.com mencatat di wilayah Indonesia ada lebih dari 700 bahasa daerah atau bahasa ibu (mother language). Menurut para ahli, ratusan bahasa tersebut berpotensi punah bila tidak ada lagi masyarakat yang menggunakan. Sebenarnya tak sedikit orang asing tertarik dan mencintai berbagai bahasa daerah di Nusantara. Namun, sebagai penutur asli semestinya kita bertanggung jawab menyelamatkan bahasa kita sendiri dari kepunahan.

Pernahkah kamu rindu berbahasa daerah? Yuk, kita rayakan Bulan Bahasa dan Sastra dengan berbahasa daerah! Bangga berbahasa daerah; tak lupa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar; dan terus berupaya menguasai bahasa asing sebagai bekal di kancah internasional.

Masak bakmi lengane jelantah/Ojo gengsi nganggo basa daerah.

Medio Oktober 2018


Artikel ini juga ada di blog kompasiana saya di link ini  

Minggu, 01 April 2012

April Mop



Zaman aku muda dulu (hihi.. swear pernah muda juga nih).. setiap tanggal 1 April sering kali dihiasi dengan "April Mop". Di negara asalnya sana, April Mop dikenal sebagai April Fools' Day. Konon pada tanggal itu orang boleh "berbohong" atau memberi lelucon pada siapapun (keluarga, sahabat, teman, dll) tanpa akan dianggap bersalah. So, biasanya hari itu akan berseliweran kisah tipu-menipu dan lelucon yang seru. Yang membuat lebih seru adalah saat orang yang "dikerjain" lupa bahwa hari itu adalah tanggal 1 April.. jadi dia percaya saja alias tertipu.. :)

Ada satu pengalaman April MOP yang kualami dan tak terlupakan hingga kini. 
Kala itu pagi-pagi di awal April (tahun-nya lupa).. tiba-tiba seorang laki-laki menelepon dan mengabarkan bahwa sahabatku si Kempling mengalami kecelakaan dan terbaring ada di ruang ICU RS Elisabeth Semarang. Mula-mula aku begitu tegang menerima berita itu.. antara yakin dan tidak, karena malam sebelumnya kami masih tertawa bersama. Lalu entah dapat bisikan dari mana.. tiba-tiba aku teringat dan menyadari bahwa hari itu adalah tanggal 1 April. Voila!! Ini pasti kabar tidak benar.. pikirku. Ini pasti tipuan April Mop.

Lalu dengan naluri detektifku.. :) segera kutelepon rumah sahabatku tersebut.Pembantu di rumahnya bilang sahabatku itu sedang dinas. Ah betul, aku teringat bahwa dia dinas malam dan baru beberapa waktu lagi akan pulang. Dengan nada penuh selidik kutanya si penerima telepon.. ternyata sahabatku itu baik-baik saja. Puji Tuhan, batinku! Lalu untuk meyakinkan hasil penyelidikan awal, segera kutelepon juga kantor tempat sahabatku itu berdinas.. kutanya pada petugas jaga tentang keberadaan sahabatku. Sekali lagi.. Puji Tuhan, karena sahabat baikku itu ada di tempat dinas dalam keadaan sehat-sehat.

Sip.. penyelidikan berakhir! Jadi benarlah dugaanku, bahwa telepon pagi-pagi dari seseorang tadi memang modus operandi April Mop. Dalam analisisku, dia disuruh sahabatku.. dengan tujuan supaya aku terbirit-birit "meluncur" ke Rumah Sakit untuk melihat keadaannya. Ya dia tahu pasti aku akan melakukan itu.. mungkin dia yakin bahwa aku tergolong sahabat yang.. yaa tidak terlalu buruklah.. yang care, dll.. :)). Setelah yakin dengan modus opeandi "april MOP" dari sahabatku.. aku tersenyum lega karena sahabatku sehat-sehat saja.. dan yang penting aku tidak tertipu.. :)

Siang harinya aku berjumpa dengan sahabat yg telah merencanakan "April Mop" untukku tersebut. Dari jauh dia sudah tersenyum-senyum simpul.. tentu dia mengira tipuan April Mop-nya berhasil. Otakku berputar cepat.. hmm bagaimana ya melancarkan serangan balik April Mop-nya? Ah tidak ada rencana! Tapi tiba-tiba saat dia sampai di depanku.. aku nyeletuk ,"Eh Bro, kamu tahu gak sih.. pagi-pagi tadi aku dapat telepon, ada teman kita Mudika (Muda Mudi Katolik) kecelakaan dan masuk ICU. Aku tadi buru-buru ke RS.. tapi sayang.. hiks.. sampai RS sahabat kita itu sudah dipindah ke Ruang Jenazah." Sontak mata sahabatku melotot.. lalu ia memukulku dan tertawa terbahak-bahak.. menyadari serangan April MOP-nya tahun itu tidak berhasil. 1-0 nih!

Hihi.. kalau dipikir-pikir sadis juga ya balasanku?
Hehe, maaf Bro waktu itu kan cuma serangan balik April Mop yg spontan!
Ah, sayang sahabatku itu tidak punya facebook.. ;)

Depok, 1 April 2012
(Mengenang April Mop)

Rabu, 12 Oktober 2011

Ngobrol VS Ngaji

"Uni, tolong dong.. aku pingin ngobrol dengan Baba.. kangen nih!" demikian kuajukan pinta pada temanku setelah lama kami mengobrol di telepon. Baba adalah panggilan sayang buat Akbar, anak semata wayangnya. Balita yang satu ini sudah sangat dekat denganku. Sudah lebih dari 5 bulan semenjak kepindahanku dari Jakarta kami belum pernah bertemu lagi. Ah lupa, pernah kami bertemu sekali.. tapi 4 bulan y.l. Terakhir mengobrol dengannya adalah 3 bulan yang lalu, itu juga hanya melalui telepon.

Tak berapa lama setelah kudengar suara Akbar yang tidak jelas di kejauhan, Uni menjawab di ujung telepon, "Mbak Baba lagi asyik main tuh! Dia mau ngobrol tapi mengajukan syarat!"
"Apa syaratnya?" tanyaku tanpa rasa heran. Ya begitulah Akbar yang kukenal. Dia memang sok jual mahal jika tahu bahwa dia sangat dirindukan. Huuuft.. macam artis saja dia!!
"Begini kata Akbar Mbak... Bunda aku mau ngobrol sama Ante Awa, kalau nanti sore aku boleh nggak pergi ngaji.. !"
"Whaaaat??!?" teriakku histeris.

Tanpa sadar kami berdua tertawa bersama. Tawa geli sekaligus prihatin. Wah, gawat juga anak satu ini... persyaratan yang diajukan terlalu berat. Mana berani aku bersaing dengan Tuhan. Sebagai orang dewasa, kami harus sanggup melawan tantangan. Anak-anak harus dilatih sejak dini mengikuti aturan. Oh my God.. terpaksalah kutahan rinduku ini!

Akbar.. i miss you boy!







-----------------------------------------------------------------------------------------
Chating VS Learning Al Quran
"Uni, let me talk with Baba, please.. I miss him so much!" I asked to my friend after a long chat on the phone. Baba is the nickname for Akbar, my friend’s child. This toddler is already very close to me. He is my best friend since 2 years old. We have never meet more than 5 months, since I leave Jakarta. Our last chat was 3 months ago, it is also only by phone.
I can heard Baba’s shouts in the distance. It sound like he is being in action. Then, Uni answered me on the phone, "Sis, Baba still having fun playing in his room! He want to talk with you, but he proposed such a requirement!"
"What it is?" I asked without surprise. Yes I knew Akbar so well. He will be so arogant or “jual mahal” (in Indonesian), if he know that somebody sorely missed him. Uuuft .. he act just like a famous artist!
"Well, here’s Akbar said: .. Mother, I will to chat with Aunty, if You let me not go to the Mosque to learn Al Quran, this afternoon!"
"Whaaaat ??!?" I shout hysterically.
Unconsciously we both laughed together. Laughter amused and concerned. Well, it was a dangerous and bad statement from a kid... his requirement is too heavy. Of course I would not dare to compete with God. As adults, we should be able to resist the challenge. Children should be trained from an early age to follow the rules. Oh my God.. unfortunately i should keep my sense of missed!
Akbar .. i miss you boy!

Selasa, 16 Agustus 2011

"Ini sedang sahur kok... "


Kemarin, kira-kira jam 17.00 WIB, aku bersama saudaraku ngabuburit untuk mencari camilan serta lauk-pauk untuk berbuka. Meskipun tidak berpuasa boleh kan ya ikut memikirkan menu untuk berbuka? Siapa yang puasa siapa pula yang berbuka ya? Hehehe...

Di jalan kami melewati sebuah rumah, dan di depan terlihat beberapa anak kecil tengah asyik bermain. Namun, ada salah satu anak yang tampaknya tidak turut bermain. Dia duduk di lantai ubin sambil menenteng mangkuk berisi bakso. Sebuah sendok baru saja dikeluarkannya dari mulut mungilnya. Dari cara anak kecil itu menikmati, terbayang pasti bakso di mangkuknya itu sangat lezat. Tanpa terasa, aku pun menelan air liur. Apalagi bakso adalah makanan kesukaanku.

Saudaraku, yang pasti juga melihat anak kecil tadi, tiba-tiba nyeletuk,"Lho ini kan belum waktunya berbuka to? Kok sudah makan bakso?" Cara saudaraku bertanya seperti menegur, te tapi juga tersirat rasa geli dari raut mukanya. Sekejap anak itu mendongak melihat ke arah kami. Lalu, sambil memasukkan kembali sendok berisi bakso, anak kecil itu menjawab, "Ini sedang sahur kok Tante."

Depok, Agustus 2011

Jumat, 11 Maret 2011

Makanya Rajin Sholat dong...


Dalam rangka cuti Maria adikku berlibur ke Jakarta dan menginap di kontrakanku. Suatu hari datang Akbar (a.k.a. Baba)—balita empat tahun, putra tetangga sebelah. Baba datang ke kontrakanku dengan membawa koleksi gasingnya. 

Dipinjamkannya satu gasing pada Maria lalu diajaknya adikku mengadu gasing-gasingnya tersebut. Aku yang sedang bekerja di ruang sebelah turut mendengar kehebohan permainan mereka.

Seperti seharusnya orang dewasa bermain dengan anak-anak, adikku pun berusaha untuk terlihat buruk dan selalu mengalah. Ya, tentu saja supaya Baba bahagia. Maklum anak-anak suka merajuk kalau kalah bermain.

Tiba-tiba adikku berpura-pura mengeluh demikian, ‘Kok Tante Aik kalah melulu siiiih?’  Eh, tanpa disangka-sangka, Baba pun menanggapinya dengan nada enteng, ‘Makanya rajin sholat kayak aku dong... biar menang terus!’

Dari ruang sebelah tawaku tak terbendung. Hahaha... bisa saja! Andai kata Baba tahu bahwa kami ini beragama Katolik, pasti dia akan berkata supaya adikku rajin ke gereja agar selalu menang dalam permainan gasing. Oh, polosnya anak-anak!

Love you so much, Baba!

Kalimalang, 11 Maret 2011

Jumat, 19 November 2010

Slippery when Wet

<!--[if gte mso 9]> Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE
(Translation from a Javanese Joke "Banyolan Suroboyoan")
There are two adventurers, named Bonny and Rudy. They met after a long time.

Bonny: Hey Rud, how are you doing? How about your last adventure?
Rudy: I am Just fine, thanks! But, i almost loose my life a week ago.

Bonny: Did you get an accident?

Rudy: No… in my last adventure, i met a wild boar.
Bonny: so?
Rudy: I saw that wild boar slept well, so i through and walk slowly besides him. But suddenly, the wild boar awake and pursuit me. I ran as fast as i can. I ran and feel as tough i fresh out my breath. Thankfully, the wild boar fall many times. So i can reach a tree and climb.

Bonny: Wow.. you are bravely! If i were you, surely i pee on my pants.

Rudy: Well, I also pee on my pants! How do You think? Do you think the wild boar repeatedly fell slipped by what?!

Sabtu, 30 Mei 2009

Dalam Bahasa Jawa, Mlayu Artinya Lari

Sebagian angkutan kota di Terminal Kampung Melayu (Sumber foto: Liputan6)
Ini kisah lama dari teman saya yang asli Yogyakarta, orang Jawa tulen. Sebut saja namanya Cantik! Kisahnya tentang pengalaman Cantik hari-hari pertama tinggal di Jakarta, bertahun-tahun yang lalu. Suatu ketika, Cantik berniat pergi ke toko buku Gramedia yang berada di kawasan Matraman.

Menurut petunjuk temannya, Cantik harus naik angkutan kota mikrolet bernomor 26 (M26) dari jalan raya Kalimalang sampai tujuan akhir angkot tersebut. Kemudian dia harus melanjutkan dengan naik mikrolet bernomor 01 (M01) yang akan melewati toko buku Gramedia. "Minta sama sopir angkot supaya diturunkan di Gramedia." Kira-kira demikian pesan temannya.

Keesokan harinya, pergilah Cantik ke Gramedia. Keluar dari rumah kos, dia berjalan santai menyusuri gang kecil menuju jalan raya Kalimalang. Dari kejauhan tampak olehnya mikrolet M26 yang akan ditumpanginya sedang ngetem di pinggir jalan. Alih-alih mempercepat langkah, Cantik tetap berjalan santai karena yakin sopir angkot pasti akan menunggunya.

"Melayu Mbak ... Melayu!" Teriakan sopir angkot dalam logat Batak mengagetkan Cantik. Dalam bahasa Jawa, kata "mlayu" berarti "lari". Jadi, Cantik pun mempercepat langkahnya. Meskipun demikian, si sopir angkot tetap saja berteriak, malahan terdengar makin kencang. "Ayo Mbak Melayu ... Melayu!"

Dengan sedikit kesal Cantik segera berlari. Akhirnya, dia pun duduk manis dalam angkot M26 tersebut. Sepanjang perjalanan, setiap ada calon penumpang si sopir selalu berteriak "Mlayu... Mlayu". Di antara rasa kesal yang masih tersisa, Cantik sempat merasa keheranan. Hmm, orang Batak ini tahu juga mana calon penumpang yang orang Jawa. Namun, bagaimanapun rasa kesalnya belum hilang juga seraya berpikir ‘Mengapa si sopir selalu menyuruh setiap penumpang untuk lari’; memang, mlayu dalam bahasa Jawa berarti lari.

Sepanjang perjalanan, dari dalam angkot Cantik melihat banyak mikrolet M26 lalu-lalang. Tiba-tiba dia tersenyum sendiri saat membaca tulisan pada setiap kaca angkot bernomor M26: "Kp. Melayu-Bekasi". Ealah Gusti! Pantas saja sopir angkot ini selalu berteriak "Melayu ... Melayu". Bukan menyuruh calon penumpang untuk berlari, tetapi si sopir memberi tahu jurusan angkotnya. Karena di jalur yang sama ada beberapa angkot dengan jurusan berbeda.

Cantik tertawa dalam hati teringat bagaimana dia tadi sudah berlari sampai terengah-engah karena teriakan si sopir.

Kalimalang, Mei 2009

PS:
Dear Ningsih, here is a funny story based on your experience.

Senin, 09 Maret 2009

Berpamitan


Sudah seharusnya berpamitan saat pergi dari suatu tempat di mana kita masih meninggalkan orang lain. Entah keluarga di rumah, atasan/rekan di kantor, bahkan teman-teman di tempat nongkrong. Berpamitan menjadi sangat penting saat kita bertamu. Hanya maling yang konon tidak pernah berpamitan. (Datang pun dia tidak permisi! Hehehe...)

Berpamitan menjadi tata krama yang sangat dijunjung tinggi dalam berbagai adat/ kelompok masyarakat. Orang yang tidak berpamitan saat meninggalkan tempat, bisa dibilang “tak punya adat”. Dalam keluarga muslim, mengucapkan Assalamualaikum1) sebelum pergi atau saat datang wajib hukumnya.

Dari empat bersaudara, aku bisa dibilang paling bandel. Saat masih duduk di Sekolah Dasar, aku kadang berpamitan sesukaku. Aku sering berteriak sambil berlari keluar rumah. Alhasil, ibuku akan menyuruhku kembali untuk memperbaiki caraku berpamitan. Dengan cemberut atau berkeluh kesah, biasanya aku akan kembali, menghampiri Ibu atau Ayah lalu mencium punggung tangan beliau sambil bergumam kesal “Bu/Ayah, berangkat sekolah”.

Setelah besar kebandelanku dalam berpamitan kadang kala masih kuulang. (Bukan bandel ... hanya iseng!) Saat jadi perantau di Medan, aku tinggal bersama sebuah keluarga Batak Karo. Pada Mamak (Ibu kost yang sudah menjadi orang tua sendiri), aku sering bercanda. “Mak, Laos aku … Vietnam, Kamboja, Thailand!” Laos dalam bahasa Karo berarti pergi. Ibu kost yang kupanggil Mamak pun biasanya hanya tersenyum sumringah menanggapi kebandelanku.

Konon katanya, kalau disuguh makan besar saat bertamu, tidak sopan jika segera sesudah menghabiskan makan kita langsung berpamitan. Entah hanya Ibuku yang memiliki prinsip ini dan mengajarkan pada anak-anaknya atau memang semua ibu demikian. Setelah aku semakin berumur, prinsip tersebut benar-benar kuakui kebenarannya. Bukan hanya menyangkut kesopanan tapi juga kesehatan. Secara biologis, berpamitan sesudah selesai menyantap makan besar memang tidak tepat karena proses pencernaan belum lagi sempurna. Mungkin perlu waktu 10-15 menit. Kalau beruntung, mungkin masih ada tawaran semangkuk es krim sebagai makanan penutup. :)

Pernah aku main ke rumah temanku dan disuguh makan siang. Sesudah menghabiskan makan siang aku pamit pulang. “Wah, SMP ya?” Seloroh ayah temanku. Aku hanya tersenyum tak mengerti. Wah, beliau menyangka aku anak SMP! Mungkin ayah temanku memang tidak tahu kalau aku ini teman sekolah anaknya di SMA. Namun, beberapa tahun kemudian seloroh yang sama kudengar dari kakak sepupuku. Waktu itu karena takut kemalaman pulang dari rumahnya, sesudah makan malam aku buru-buru pamit. “Kok SMP, gak elok! Ngobrol dulu sebentar!” Demikian kata kakakku. Selidik punya selidik, ternyata akronim SMP seperti seloroh ayah teman SMA-ku adalah kependekan dari Sesudah Makan Pulang. Ha...ha... ha...

Ada satu hal tentang berpamitan yang selalu membuatku tersenyum. Tamu di rumah orang tuaku selalu berpamitan lebih dari satu kali. Makin akrab tamu itu dengan keluarga kami semakin banyaklah salam pamit akan disampaikan.

Pertama, jika tamu seorang rekanan biasa. Beranjak dari kursi tamu ia akan mengucapkan salam pamit dan bersalaman. Ayah atau Ibuku biasanya akan mengantar sampai pintu. Di pintu sekali lagi mereka berpamitan dan menghilanglah tamu di kelokan teras. Mengucapkan kata pamit dan bersalaman dalam 2 waktu berbeda, bisa dihitung dua kali berpamitan!

Kedua, jika tamu itu adalah teman dekat. Biasanya sambil menyeruput suguhan minuman untuk terakhir kali, mereka akan melontarkan kalimat pamit. “Sampun cekap, nyuwun pamit”. Beranjak dari kursi mereka akan bersalaman dengan Ayah/Ibuku dan kembali mengucapkan salam pamit lengkap dengan ucapan terima kasih untuk suguhannya. Tapi jangan salah, obrolan masih akan berlanjut karena Ayah/Ibuku akan mengantar hingga ke depan rumah sampai mereka lenyap di ujung jalan. Maklum teman dekat! Di teras rumah, biasanya sang tamu akan berpamitan lagi. Lalu di atas kendaraan atau di dalam mobil mereka kembali berpamitan. Jika dihitung jumlahnya empat kali!

Ketiga, jika sang tamu adalah keluarga dekat. Tamu golongan ini tentu akan menembus batas-batas area publik. Saat pertama datang bisa langsung ngobrol di dapur bersama Ibu, pindah ke ruang keluarga, ruang tamu, teras, atau ruang mana pun. Saat mereka sudah berpamitan pulang, mungkin saja Ibu baru selesai memasak lalu menawarkan makan. Selesai ngobrol di ruang makan pamitan kembali diulang, sambil berjalan ke ruang tamu. Bukan langsung keluar mereka masih duduk lagi di ruang tamu. Ngobrol lagi. Lalu sambil menandaskan suguhan kopi enak bikinan ibu sang tamu akan berpamitan lagi. Lalu di pintu,di teras rumah, juga di mobil. Jumlahnya , enam kali! ­­

Keempat, bagaimana jika tamunya seorang pelupa? Berurusan dengan tamu pelupa, tentu lebih banyak lagi salam pamit yang akan kami terima. Terlebih lagi jika tamu pelupa itu adalah keluarga dekat. Wah, bisa lebih dari sepuluh kali salam pamit terucap. Bagaimana tidak? Sejak beranjak pertama kali hingga berada di atas kendaraan saja sudah 5 kali pamit. Bayangkan, jika tamu itu kembali masuk ke rumah untuk mengambil barang yang tertinggal. Tebaklah, dia tentu akan berpamitan lagi, lagi, lagi, lagi. dan lagi.

Ternyata bukan hanya tamu di rumah orang tuaku yang pamit berkali-kali. Beberapa temanku mengaku selalu berpamitan lebih dari 2 kali. Bahkan, ada seorang teman yang punya kenangan lucu tentang berpamitan. Setelah berkali-kali pamit, akhirnya justru dia pergi bersama seluruh penghuni rumah (yang telah diberi salam pamit).

Pada waktu itu temanku berada di rumah tunangannya. Dia dan tunangannya berencana pergi ke gereja. Sebelum pergi, temanku pamit pada calon mertua dan seisi rumah. Eh, baru sampai di teras rumah, hujan turun dengan lebat.

“Tunggulah reda,” kata tunangannya. Mereka pun duduk dan ngobrol di teras.

Setelah reda, temanku berpamitan lagi. Kedua calon mertua mengantar sampai di teras. Beberapa kali motor dihidupkan selalu gagal. Olala... ternyata busi motor harus dibersihkan. Terpaksa temanku duduk di teras, sementara tunangannya membereskan motor. Setelah motor selesai diperbaiki... sekali lagi mereka berpamitan... untuk ke-3 kalinya. Bremmm... kali ini benar-benar berangkat! Tapi, belum jauh berkendara, tepatnya ketika sampai di gerbang, sebuah mobil membunyikan klakson hendak masuk halaman. Pengendaranya adalah tante sang tunangan.

“Ngobrol dululah. Tante kan belum kenal...,” kata sang Tante dari dalam mobil.

“Kita ke gereja yang ke-2 saja,” bisik tunangannya.

Motor dimatikan dan mereka kembali masuk ke rumah. Bersama tunangan dan kedua calon mertuanya, temanku menemani sang tante ngobrol. Setelah ngobrol cukup lama, calon mertua memutuskan untuk ke gereja bersama-sama sang tante. Temanku dan tunangannya juga diajak semobil. Akhirnya... temanku, tunangannya, dan seluruh keluarga bermobil bersama ke gereja. Jadi untuk apa dari tadi pamit berkali-kali, begitu cerita temanku sedikit kesal.

Pernah terlintas di benakku bahwa berpamitan berulang kali adalah sebuah basa basi yang sangat basi. Dan, aku berniat menghilangkannya! Aku hanya akan berpamitan satu kali jika bertamu, begitu janjiku! Tapi janji itu ternyata susah diterapkan! Setelah diantar tuan rumah hingga pintu gerbang halaman dan tidak berpamitan sekali lagi, aku merasa seperti orang yang tidak punya sopan santun. Ah peduli amat jika basa basi ini memang basi! Mungkin basa basi adalah salah satu keindahan hidup di negara timur. 

Kalimalang, Maret 2009

Catatan:
1. Assalamualaikum: salam dalam bahasa arab
2. Mak, laos aku (Bhs. Karo): Mak, pergi/berangkat aku.
4. sumringah (Bhs. Jawa): gembira
5. gak elok (Bahasa Jawa): tidak sopan/baik.
6. Sampun cekap, nyuwun pamit (Bahasa Jawa): Sudah cukup, mohon pamit