Tampilkan postingan dengan label Experience. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Experience. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Mei 2010

INTERNET Membuat Dunia (ku) Semakin Tak Berbatas

Salah satu hobiku sejak duduk di bangku Sekolah Dasar adalah korespondensi. Surat pertamaku kukirim untuk Ayah tercinta yang sedang belajar di kota Yogya. Saat-saat menunggu balasannya adalah waktu yang menegangkan. Ketika Pak Pos (yang kala itu masih bersepeda) datang, tak pelak aku pun selalu melonjak kegirangan. Surat-suratku berikut kukirim untuk teman dan sahabat penaku.
Semasa SMA sering aku duduk berkutat di meja belajar hingga lewat tengah malam. Setiap mengintip Ayah mengira aku belajar keras
untuk ulangan esok hari. Namun Beliau akan terbelalak saat mendatangi mejaku. Karena yang ada di depanku bukanlah buku pelajaran atau catatan… tetapi lembaran-lembaran surat yang sedang kuselesaikan. Saat itu sahabat penaku ada belasan bertebaran di berbagai kota dan pulau di Indonesia. Saat Ayah memutuskan pindah rumah di pinggiran kota Semarang, semua surat jatuh di rumah Pak RT. Kasihan Pak RT… setiap beberapa hari sekali Beliau harus datang ke rumahku untuk mengantar surat-surat yang terkirim untukku. Lebih kasihan lagi, Suster Kepala di SMA-ku. Keputusan Beliau untuk menyensor surat-surat yang diterima siswanya , “maaf” menjadi senjata makan tuan. Olala… tugas Beliau akan menjadi semakin berat jika teman-temanku melayangkan suratnya ke sekolahku. Surat temanku sering kali ada berlembar-lembar… :-)

Entah mulai kapan tak begitu kuingat. Mungkin d
i era 80-an. Tak kuingat pula siapa yang pertama memperkenalkannya padaku. Tiba-tiba saja aku sudah mengenal internet. Kala itu warung internet (warnet) belum sebanyak sekarang. Tapi ada teman yang cukup berada yang bisa melakukan koneksi internet di rumahnya. Saat itu internet membuatku begitu takjub… tanpa kutahu siapa penemunya dan bagaimana cara kerjanya. Yang ada di benakku hanyalah: internet itu penemuan hebat! Aku bisa berkirim surat bahkan mengobrol dalam suatu komunitas tanpa harus pergi ke kantor pos. Aku pun tak perlu lagi menunggu berhari-hari, berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk mendapat balasan/tanggapan. E-mail telah menggantikan komunikasi berbasis kertas surat. Alhasil, kedatangan Pak Pos (yang telah berganti dengan sepeda motor) menjadi tak sesering waktu-waktu sebelumnya.

Internet berkembang begitu pesat. Meski tidak semua orang berniat mencari tahu sejarah penemuannya, sebagian besar orang kini merasa harus m
ampu memanfaatkan internet. Tidak hanya generasi yang lahir di era 80-an atau 90-an, generasi yang lahir beberapa dekade sebelumnya pun banyak yang merasa belum eksis bila belum bersentuhan dengan “dunia ajaib itu”. Tak hanya sebagai sarana komunikasi, Internet dengan cepat menyusup dan berperan dalam segala bidang kehidupan. Pendidikan dan riset, bisnis dan perbankan, administrasi pemerintahan, sosialisasi, pers serta penerbitan, dan sebagainya.
  • Pada masaku sekolah informasi hanya dapat ditemukan di buku-buku. Tapi murid sekolah di era internet ini tidak lagi menganggap buku sebagai gudang ilmu. Mereka mampu mendapatkan informasi tanpa memiliki buku. INTERNET adalah jawabannya! Sosok ini telah mampu menggantikan peran buku dan perpustakaan.
  • Di era internet transaksi jual-beli tak harus bertatap muka. Dari sekedar membeli asesoris hingga baju, buku hingga barang elektronik, onderdil hingga mobil… semua bisa dilakukan melalui INTERNET.
  • Bayar-membayar segala macam tagihan, cek rekening, transfer dana, dan apapun kegiatan perbankan bisa dilakukan melalui INTERNET.
  • Peranan INTERNET bagi dunia pers dan penerbitan ataupun bidang keamanan.. tak perlu dipertanyakan lagi.
Di internet telah tersedia berbagai mesin pencari (search engine, seperti: google, altavista, infoseek, alweb, dsb) yang semakin canggih dan bervariasi. Dengan menulis satu kata kunci (keyword) atau lebih pada sebuah search engine kita dapat menemukan “banyak hal” (kalau tak boleh dibilang “apapun”) yang kita mau. Ensiklopedi, kamus, modul, mesin konversi (satuan, mata uang, dll, berikut kalkulator), info cuaca, info waktu di seluruh dunia, dan banyak lagi. Semua akan tersaji cepat pada layar monitor yang hanya berukuran sekian inchi.

INTERNET dengan segala kelebihannya telah menguatkan lahirnya era globalisasi. Era di mana tak ada lagi batas-batas nyata yang memisahkan berbagai bidang kehidupan di dunia. Batas geografis, politis, da
n ideologi tidak lagi menjadi penting. Jika pada zaman Marcopolo dunia terasa amat sangat luas dengan benua-benua terpisahkan oleh lautan dan samudra, maka kini dunia seolah tak berbatas. Sekarang... menit pertama kutulis/ucapkan hello dari tepian Jakarta, tak sampai menit kedua temanku di Skive-kota di kerajaan kecil Denmark dekat kutub utara sudah membalas sapaku itu. Hobi travelling-ku yang sering terkendala oleh dana sedikit terpenuhi dengan adanya INTERNET. Tanpa membeli tiket dan pergi keluar rumah, kini aku bisa melang-lang melihat keelokan pulau-pulau di Indonesia bahkan pergi ke Italia-negeri impianku.

Dunia semakin tanpa bat
as dengan kecanggihan World Wide Web (www) atau web di INTERNET. Menurutku penemuan www ini sangat menakjubkan. Berbagai informasi (dokumen/tulisan, gambar, suara, gambar+suara, dll) dari seluruh benua di planet Bumi ini dapat ditemukan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Dari wilayah di belahan bumi utara hingga selatan, dari belahan timur hingga barat, bahkan dari luar angkasa sekalipun. Dunia benar-benar semakin tak berbatas. “Dunia hanya selebar daun kelor” atau tepatnya “dunia hanya selebar monitor”. Tunggu... kini dunia bahkan hanya menjadi selebar LCD telepon seluler-yang bisa mencapai 2,5 x 3,5 cm saja. Sebab, oleh perkembangan teknologi, kini internet pun dapat diakses melalui telepon seluler.

Dunia semakin tak berbatas! Menurut sumber yang dapat dipercaya (www.internetworldstats.com) hingga tahun 2008 ada kira-kira 1,5 miliar pengguna internet dari total 6,7 miliar penduduk dunia pada saat itu. Artinya, lebih dari 20% penduduk dunia mengandalkan INTERNET . Di Indonesia persentasenya diperkirakan mencapai 13% dari jumlah penduduk saat itu. Survei membuktikan, pengguna internet terus berkembang dan meningkat rata-rata 20%. Jika menggunakan hitungan kasar, tak sampai 50 tahun lagi semua generasi sudah terikat dalam “satu dunia mini” internet.

Waktu terus berjalan. Banyak perubahan dan perkembangan. Setiap orang berubah dan berkembang. Sekolah berpindah, rumah tinggal berpindah, teman datang dan pergi silih berganti, bekerja ke lain kota atau ke lain pulau, bahkan melang-lang hingga ke negeri seberang. Alamat surat berubah, nomor telepon berganti, e-mail address berubah, … dan kadang kala semua itu luput dari catatan pribadi. Akibatnya, banyak orang sering kali kehilangan komunikasi (lost contact) dengan keluarga, sahabat,dan orang-orang yang pernah hadir dalam hidupnya. Tapi jangan takut, siapapun yang pernah mencatatkan diri dalam dunia maya INTERNET, akan dengan mudah ditemukan. Saat ini begitu banyak situs jejaring sosial di internet yang berjasa menemukan “orang hilang” dan menghubungkan kembali banyak pertemanan yang lepas di masa lalu. Facebook, Friendster, Twitter, Myspace, dan banyak lagi. Jika kuketik nama satu temanku yang “hilang” pada search engine (asalkan dia pernah menuliskan namanya di internet misalnya terkait pekerjaan, tulisan, blog, jejaring sosial, dan sebagainya) maka kemungkinan besar dia akan ditemukan dengan mudah. INTERNET oh INTERNET… hebatnya kau!!!



JEDA….


NAMUN TERNYATA, internet tak hanya hebat, tak hanya membawa keuntungan dan kebaikan. Banyak hal buruk ternyata juga hadir bersama lahir dan berkembangnya INTERNET. Bukan hanya ulah iseng penyebar virus/hacker atau pembobol akun pribadi. Berbagai penipuan di INTERNET semakin marak dan canggih dan berbagai kejahatan lain terus mengintai. Pembobolan rekening pribadi/credit card, perdagangan narkoba, perdagangan anak hingga prostitusi lewat internet bukan hal baru. Bahkan terorisme pun kini telah berbasis internet. Tak hanya itu, dampak penggunaaan internet yang salah menjadi ancaman tersendiri. Dari game online yang berdampak addicted hingga pengaksesan situs-situs berbau pornografi oleh anak-anak di bawah umur membawa berbagai dampak sosial yang mengkhawatirkan. INTERNET oh INTERNET...
Sesungguhnya, selain berisi kekaguman tulisan ini ingin menyisipkan suatu pertanyaan beraroma kekhawatiran. Benarkah INTERNET melulu membawa keuntungan dan berjasa tiada tara bagi dunia? Untuk menemukan jawabannya, tentu memerlukan sebuah tulisan khusus.



Note:
Tulisan ini terinspirasi oleh isi threat
http://jonasgobang.blogspot.com (Social and Political Implication of Decentralized Network: Teknologi Informasi Membawa Implikasi Sosial dan Politik dalam Dunia Tanpa Batas).

Sabtu, 30 Mei 2009

Dalam Bahasa Jawa, Mlayu Artinya Lari

Sebagian angkutan kota di Terminal Kampung Melayu (Sumber foto: Liputan6)
Ini kisah lama dari teman saya yang asli Yogyakarta, orang Jawa tulen. Sebut saja namanya Cantik! Kisahnya tentang pengalaman Cantik hari-hari pertama tinggal di Jakarta, bertahun-tahun yang lalu. Suatu ketika, Cantik berniat pergi ke toko buku Gramedia yang berada di kawasan Matraman.

Menurut petunjuk temannya, Cantik harus naik angkutan kota mikrolet bernomor 26 (M26) dari jalan raya Kalimalang sampai tujuan akhir angkot tersebut. Kemudian dia harus melanjutkan dengan naik mikrolet bernomor 01 (M01) yang akan melewati toko buku Gramedia. "Minta sama sopir angkot supaya diturunkan di Gramedia." Kira-kira demikian pesan temannya.

Keesokan harinya, pergilah Cantik ke Gramedia. Keluar dari rumah kos, dia berjalan santai menyusuri gang kecil menuju jalan raya Kalimalang. Dari kejauhan tampak olehnya mikrolet M26 yang akan ditumpanginya sedang ngetem di pinggir jalan. Alih-alih mempercepat langkah, Cantik tetap berjalan santai karena yakin sopir angkot pasti akan menunggunya.

"Melayu Mbak ... Melayu!" Teriakan sopir angkot dalam logat Batak mengagetkan Cantik. Dalam bahasa Jawa, kata "mlayu" berarti "lari". Jadi, Cantik pun mempercepat langkahnya. Meskipun demikian, si sopir angkot tetap saja berteriak, malahan terdengar makin kencang. "Ayo Mbak Melayu ... Melayu!"

Dengan sedikit kesal Cantik segera berlari. Akhirnya, dia pun duduk manis dalam angkot M26 tersebut. Sepanjang perjalanan, setiap ada calon penumpang si sopir selalu berteriak "Mlayu... Mlayu". Di antara rasa kesal yang masih tersisa, Cantik sempat merasa keheranan. Hmm, orang Batak ini tahu juga mana calon penumpang yang orang Jawa. Namun, bagaimanapun rasa kesalnya belum hilang juga seraya berpikir ‘Mengapa si sopir selalu menyuruh setiap penumpang untuk lari’; memang, mlayu dalam bahasa Jawa berarti lari.

Sepanjang perjalanan, dari dalam angkot Cantik melihat banyak mikrolet M26 lalu-lalang. Tiba-tiba dia tersenyum sendiri saat membaca tulisan pada setiap kaca angkot bernomor M26: "Kp. Melayu-Bekasi". Ealah Gusti! Pantas saja sopir angkot ini selalu berteriak "Melayu ... Melayu". Bukan menyuruh calon penumpang untuk berlari, tetapi si sopir memberi tahu jurusan angkotnya. Karena di jalur yang sama ada beberapa angkot dengan jurusan berbeda.

Cantik tertawa dalam hati teringat bagaimana dia tadi sudah berlari sampai terengah-engah karena teriakan si sopir.

Kalimalang, Mei 2009

PS:
Dear Ningsih, here is a funny story based on your experience.

Senin, 09 Maret 2009

Berpamitan


Sudah seharusnya berpamitan saat pergi dari suatu tempat di mana kita masih meninggalkan orang lain. Entah keluarga di rumah, atasan/rekan di kantor, bahkan teman-teman di tempat nongkrong. Berpamitan menjadi sangat penting saat kita bertamu. Hanya maling yang konon tidak pernah berpamitan. (Datang pun dia tidak permisi! Hehehe...)

Berpamitan menjadi tata krama yang sangat dijunjung tinggi dalam berbagai adat/ kelompok masyarakat. Orang yang tidak berpamitan saat meninggalkan tempat, bisa dibilang “tak punya adat”. Dalam keluarga muslim, mengucapkan Assalamualaikum1) sebelum pergi atau saat datang wajib hukumnya.

Dari empat bersaudara, aku bisa dibilang paling bandel. Saat masih duduk di Sekolah Dasar, aku kadang berpamitan sesukaku. Aku sering berteriak sambil berlari keluar rumah. Alhasil, ibuku akan menyuruhku kembali untuk memperbaiki caraku berpamitan. Dengan cemberut atau berkeluh kesah, biasanya aku akan kembali, menghampiri Ibu atau Ayah lalu mencium punggung tangan beliau sambil bergumam kesal “Bu/Ayah, berangkat sekolah”.

Setelah besar kebandelanku dalam berpamitan kadang kala masih kuulang. (Bukan bandel ... hanya iseng!) Saat jadi perantau di Medan, aku tinggal bersama sebuah keluarga Batak Karo. Pada Mamak (Ibu kost yang sudah menjadi orang tua sendiri), aku sering bercanda. “Mak, Laos aku … Vietnam, Kamboja, Thailand!” Laos dalam bahasa Karo berarti pergi. Ibu kost yang kupanggil Mamak pun biasanya hanya tersenyum sumringah menanggapi kebandelanku.

Konon katanya, kalau disuguh makan besar saat bertamu, tidak sopan jika segera sesudah menghabiskan makan kita langsung berpamitan. Entah hanya Ibuku yang memiliki prinsip ini dan mengajarkan pada anak-anaknya atau memang semua ibu demikian. Setelah aku semakin berumur, prinsip tersebut benar-benar kuakui kebenarannya. Bukan hanya menyangkut kesopanan tapi juga kesehatan. Secara biologis, berpamitan sesudah selesai menyantap makan besar memang tidak tepat karena proses pencernaan belum lagi sempurna. Mungkin perlu waktu 10-15 menit. Kalau beruntung, mungkin masih ada tawaran semangkuk es krim sebagai makanan penutup. :)

Pernah aku main ke rumah temanku dan disuguh makan siang. Sesudah menghabiskan makan siang aku pamit pulang. “Wah, SMP ya?” Seloroh ayah temanku. Aku hanya tersenyum tak mengerti. Wah, beliau menyangka aku anak SMP! Mungkin ayah temanku memang tidak tahu kalau aku ini teman sekolah anaknya di SMA. Namun, beberapa tahun kemudian seloroh yang sama kudengar dari kakak sepupuku. Waktu itu karena takut kemalaman pulang dari rumahnya, sesudah makan malam aku buru-buru pamit. “Kok SMP, gak elok! Ngobrol dulu sebentar!” Demikian kata kakakku. Selidik punya selidik, ternyata akronim SMP seperti seloroh ayah teman SMA-ku adalah kependekan dari Sesudah Makan Pulang. Ha...ha... ha...

Ada satu hal tentang berpamitan yang selalu membuatku tersenyum. Tamu di rumah orang tuaku selalu berpamitan lebih dari satu kali. Makin akrab tamu itu dengan keluarga kami semakin banyaklah salam pamit akan disampaikan.

Pertama, jika tamu seorang rekanan biasa. Beranjak dari kursi tamu ia akan mengucapkan salam pamit dan bersalaman. Ayah atau Ibuku biasanya akan mengantar sampai pintu. Di pintu sekali lagi mereka berpamitan dan menghilanglah tamu di kelokan teras. Mengucapkan kata pamit dan bersalaman dalam 2 waktu berbeda, bisa dihitung dua kali berpamitan!

Kedua, jika tamu itu adalah teman dekat. Biasanya sambil menyeruput suguhan minuman untuk terakhir kali, mereka akan melontarkan kalimat pamit. “Sampun cekap, nyuwun pamit”. Beranjak dari kursi mereka akan bersalaman dengan Ayah/Ibuku dan kembali mengucapkan salam pamit lengkap dengan ucapan terima kasih untuk suguhannya. Tapi jangan salah, obrolan masih akan berlanjut karena Ayah/Ibuku akan mengantar hingga ke depan rumah sampai mereka lenyap di ujung jalan. Maklum teman dekat! Di teras rumah, biasanya sang tamu akan berpamitan lagi. Lalu di atas kendaraan atau di dalam mobil mereka kembali berpamitan. Jika dihitung jumlahnya empat kali!

Ketiga, jika sang tamu adalah keluarga dekat. Tamu golongan ini tentu akan menembus batas-batas area publik. Saat pertama datang bisa langsung ngobrol di dapur bersama Ibu, pindah ke ruang keluarga, ruang tamu, teras, atau ruang mana pun. Saat mereka sudah berpamitan pulang, mungkin saja Ibu baru selesai memasak lalu menawarkan makan. Selesai ngobrol di ruang makan pamitan kembali diulang, sambil berjalan ke ruang tamu. Bukan langsung keluar mereka masih duduk lagi di ruang tamu. Ngobrol lagi. Lalu sambil menandaskan suguhan kopi enak bikinan ibu sang tamu akan berpamitan lagi. Lalu di pintu,di teras rumah, juga di mobil. Jumlahnya , enam kali! ­­

Keempat, bagaimana jika tamunya seorang pelupa? Berurusan dengan tamu pelupa, tentu lebih banyak lagi salam pamit yang akan kami terima. Terlebih lagi jika tamu pelupa itu adalah keluarga dekat. Wah, bisa lebih dari sepuluh kali salam pamit terucap. Bagaimana tidak? Sejak beranjak pertama kali hingga berada di atas kendaraan saja sudah 5 kali pamit. Bayangkan, jika tamu itu kembali masuk ke rumah untuk mengambil barang yang tertinggal. Tebaklah, dia tentu akan berpamitan lagi, lagi, lagi, lagi. dan lagi.

Ternyata bukan hanya tamu di rumah orang tuaku yang pamit berkali-kali. Beberapa temanku mengaku selalu berpamitan lebih dari 2 kali. Bahkan, ada seorang teman yang punya kenangan lucu tentang berpamitan. Setelah berkali-kali pamit, akhirnya justru dia pergi bersama seluruh penghuni rumah (yang telah diberi salam pamit).

Pada waktu itu temanku berada di rumah tunangannya. Dia dan tunangannya berencana pergi ke gereja. Sebelum pergi, temanku pamit pada calon mertua dan seisi rumah. Eh, baru sampai di teras rumah, hujan turun dengan lebat.

“Tunggulah reda,” kata tunangannya. Mereka pun duduk dan ngobrol di teras.

Setelah reda, temanku berpamitan lagi. Kedua calon mertua mengantar sampai di teras. Beberapa kali motor dihidupkan selalu gagal. Olala... ternyata busi motor harus dibersihkan. Terpaksa temanku duduk di teras, sementara tunangannya membereskan motor. Setelah motor selesai diperbaiki... sekali lagi mereka berpamitan... untuk ke-3 kalinya. Bremmm... kali ini benar-benar berangkat! Tapi, belum jauh berkendara, tepatnya ketika sampai di gerbang, sebuah mobil membunyikan klakson hendak masuk halaman. Pengendaranya adalah tante sang tunangan.

“Ngobrol dululah. Tante kan belum kenal...,” kata sang Tante dari dalam mobil.

“Kita ke gereja yang ke-2 saja,” bisik tunangannya.

Motor dimatikan dan mereka kembali masuk ke rumah. Bersama tunangan dan kedua calon mertuanya, temanku menemani sang tante ngobrol. Setelah ngobrol cukup lama, calon mertua memutuskan untuk ke gereja bersama-sama sang tante. Temanku dan tunangannya juga diajak semobil. Akhirnya... temanku, tunangannya, dan seluruh keluarga bermobil bersama ke gereja. Jadi untuk apa dari tadi pamit berkali-kali, begitu cerita temanku sedikit kesal.

Pernah terlintas di benakku bahwa berpamitan berulang kali adalah sebuah basa basi yang sangat basi. Dan, aku berniat menghilangkannya! Aku hanya akan berpamitan satu kali jika bertamu, begitu janjiku! Tapi janji itu ternyata susah diterapkan! Setelah diantar tuan rumah hingga pintu gerbang halaman dan tidak berpamitan sekali lagi, aku merasa seperti orang yang tidak punya sopan santun. Ah peduli amat jika basa basi ini memang basi! Mungkin basa basi adalah salah satu keindahan hidup di negara timur. 

Kalimalang, Maret 2009

Catatan:
1. Assalamualaikum: salam dalam bahasa arab
2. Mak, laos aku (Bhs. Karo): Mak, pergi/berangkat aku.
4. sumringah (Bhs. Jawa): gembira
5. gak elok (Bahasa Jawa): tidak sopan/baik.
6. Sampun cekap, nyuwun pamit (Bahasa Jawa): Sudah cukup, mohon pamit

Selasa, 20 Januari 2009

Atasi Masalah Tanpa Masalah dalam Tuhan

Bersama Paklik Atul tercinta di Madiun (Foto: @widhi_three)

Sebuah posting di blog sepupuku Yaved di http://bagi-hidup.blogspot.com/ (Mengatasi Masalah), berhasil menyentilku. Hidup tanpa masalah memang tidak mungkin. Without problems you are a death body, begitu kata seorang bijak. Namun kuakui, aku sering lancang berpikir bahwa orang lain tidak memiliki masalah seberat masalahku. Bahkan sering kukira Tuhan di atas sana hanya berkonsentrasi menguji kekuatanku seorang.

Bagaimana tidak? Sementara aku bingung membuat alokasi gaji yang tidak seberapa untuk begitu banyak kebutuhan, temanku asyik pamer aksesori yang baru dibelinya. Berbagai barang baru tiba ke rumah tetangga-tetanggaku silih berganti. Hari ini ada kiriman sofa baru ke rumah tetangga sebelah kanan. Esok hari tetangga kiri membeli perabot baru lain. Belum berapa lama datang kiriman motor baru ke rumah tetangga lain.

Sementara aku sibuk memikirkan kapan jodohku tiba, temenku bercerita kalau dia baru saja berhasil menggaet pacar baru. Lalu, temanku yang lain bilang sudah bosan dengan suaminya (seperti bosan dengan baju lamanya) dan ingin segera bercerai lalu cari ganti. Teman lain lagi selalu sumringah bercerita tentang akhir pekan bersama keluarganya dan selalu riang menceritakan kelucuan anak-anaknya.

Kenyataan itu sering membuatku merasa iri dan mengira hanya aku yang menanggung beban masalah hidup. Namun… sering kali aku dikejutkan oleh kenyataan yang membuatku tersadar bahwa masih banyak orang lain dengan masalah lebih berat dariku. Bahkan teman-temanku yang kukira bahagia pun ternyata menyimpan masalah pelik. Seandainya ada di posisi mereka belum tentu juga aku sanggup menjalaninya.

Aku sering tercekat setiap kali melihat anak jalanan mengamen dan menawarkan jasanya di persimpangan jalan. Membayangkan kesanggupan mereka bertahan hidup dalam kerasnya metropolitan. Mereka tidak mengalami masa kanak-kanak yang seharusnya. Bagaimana aku tidak bersyukur? Aku lahir dalam sebuah keluarga yang meski sederhana telah mampu menghidupiku hingga aku mandiri. Aku menikmati masa kecilku, bersekolah tanpa beban, bermain dengan riang, … .

Seorang kenalan memiliki 4 anak dari 3 suami. Anak pertama entah ke mana bapaknya. Anak kedua juga tak pernah bertemu bapaknya. Anak ke-3 dan ke-4 masih beruntung bisa bertemu bapaknya meski tidak seharian bersamanya. Maklum, ternyata kenalanku itu berstatus istri muda. Dia yang tidak bekerja, bersama ketiga anaknya terakhir (anak dari suami pertama ikut neneknya) hanya disewakan sebuah rumah petak. Dia sering dikejar2 tukang kredit. Satu di antara anaknya yang belum genap lima tahun sudah bisa bercerita Bapaknya suka melayangkan tangan dan menyakiti Ibunya bila datang ke rumah. Bagaimana aku tidak bersyukur? Aku memiliki keluarga yang utuh dan menyayangiku.

Seorang teman yang selalu gembira yang kukira sehat kuat, ternyata tengah menghadapi sakit berat. Lalu terakhir bertelepon dia cerita bahwa rahimnya telah diangkat. Bagaimana aku tidak bersyukur bahwa sakit2 yang kualami tidak seberat itu.

Kenalan yang kukira bahagia setelah menikahi pria impiannya dan membuatku iri, ternyata sedang bersiap mengajukan pembatalan pernikahan. Ternyata dia menikahi orang yang salah secara jasmani dan rohani. Lalu, mengapa aku tidak bersyukur?

Jadi, aku sangat setuju dengan tulisan Yaved. Kita memang harus berbahagia dengan masalah yang kita hadapi. Bila selalu melihat ke atas memang kita akan merasa bahwa masalah kitalah yang terberat. Kita perlu sering melihat ke bawah… di mana banyak orang memiliki masalah yang jauh lebih berat dari masalah yang kita hadapi.

Dan saat menghadapi masalah ingatlah hanya untuk datang padaNya. Datanglah padaNya untuk mengatasi segala masalah, niscaya segala masalah akan teratasi tanpa menimbulkan masalah baru. Karena hanya Dialah solusi dari segala masalah. Bersujud dan mohon seraya bersyukur, berpikir positif, dan memiliki keyakinan teguh.
1.    Bersyukur, karena masalah membawa kita untuk lebih mengerti rencana Tuhan.
2.    Berpikir positif, karena masalah yang kita hadapi pasti akan membawa kepada kebaikan
3.    Keyakinan, yaitu percaya bahwa kita bisa menghadapinya karena Allah penolong kita.


Kalimalang, 20 Januari 2009

PS:
Jadi, slogan pegadaian “Mengatasi Masalah tanpa Masalah” kiranya dapat diterapkan dalam menanggapi masalah dalam kehidupan ini.

Jumat, 19 Desember 2008

Semoga Tidak Beracun

Sumber: Food Detik

Kisah ini terjadi saat ibuku masih menjadi Pamong Wilayah di Wilayah St. Stephanus, Paroki St. Paulus Semarang. Kebetulan kala itu aku juga masih menjadi guru Sekolah Minggu.

Suatu ketika, keluarga kami mendapat tugas menerima kehadiran anak-anak untuk bersekolah Minggu di rumah. Ibuku menyiapkan menu lele goreng lengkap untuk hidangan makan siang anak-anak yang rata-rata berusia di bawah enam tahun itu.

Saat makan siang tiba, anak-anak duduk mengelilingi meja makan dengan tertib. Kupersilakan seorang anak untuk memimpin doa makan sekaligus melatih keberanian mereka.

Dengan berani, anak yang saya tunjuk segera saja memimpin doa. Beginilah bunyi doanya: "Tuhan terima kasih untuk makanan ini. Berkatilah kami ya Tuhan, berkati juga makanan ini semoga tidak beracun.”

Reflek kubuka mata dan menoleh ke arah Ibuku yang ternyata juga membuka mata dengan terkejut. Kami hanya saling berpandangan dan menahan tawa. Ah, anak-anak memang apa adanya.

Kalimalang, Desember 2008