Tampilkan postingan dengan label Ethics. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ethics. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Mei 2018

Tangkal Hoaks, Galakkan Jurnalisme Perdamaian

(Sumber: GDJ - Pixabay.com)

Dalam suasana duka atas teror di Mako Brimob Depok disusul tragedi bom di tiga gereja di Surabaya, ternyata masih saja tersebar banyak berita terkait ancaman bom. Bukan hanya di Surabaya, tetapi juga di kota-kota lain, seperti Sidoarjo, Semarang, Jakarta, dan lain-lain. Tragisnya, berita yang sontak menimbulkan keresahan dan ketakutan di masyarakat ternyata adalah berita palse/bohong (fake news) alias hoax!

Hoax adalah berita palsu yang sama sekali tidak benar, bahkan sumber beritanya pun tidak jelas dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Namun ketika menerima berita bohong semacam itu, tidak sedikit orang yang langsung menyebarluaskannya ke berbagai grup WA/BBM atau media sosial lain yang diikutinya. Mereka tidak lagi memeriksa kebenaran berita dan/atau kredibilitas sumber berita. Sebagian orang bahkan "merasa berjasa" jika menjadi orang pertama yang berhasil menghadirkan "berita bohong" tersebut ke ruang-ruang komunikasi di media sosial. Mereka seakan tidak peduli bila nantinya berita tersebut memicu polemik; berakibat munculnya kericuhan atau perselisihan antarkelompok; terusiknya kedamaian dan perdamaian karena merasa ketakutan atau terpicu kebencian; dan berbagai dampak buruk lain.

Sikap "asal sebar berita" dan "tidak peduli dampak berita" tersebut agaknya ingin diantisipasi oleh Paus Fransiskus-Pemimpin Gereja Katolik seluruh dunia-lewat pesan yang dikeluarkan pada Hari Komunikasi Sedunia (World Communications Day) pada 13 Mei 2018 yang lalu. Pesan Paus Fransiskus yang menjadi tema perayaan ini adalah "Berita Palsu dan Jurnalisme Perdamaian". Dengan pesan ini, Paus menegaskan bahwa Gereja Katolik menaruh perhatian serius atas ancaman beredarnya berita bohong (hoax) yang kian marak dan memprihatinkan. Seruan Paus Fransiskus terkait pentingnya "jurnalisme perdamaian" ini pertama kali disampaikan pada Pesta St. Fransiskus de Sales, Pelindung Para Jurnalis, pada tanggal 24 Januari 2018.

Sebagai informasi, Hari Komunikasi Sedunia (World Communications Day) menjadi satu-satunya perayaan di seluruh dunia yang diminta oleh Konsili Vatikan Kedua (Inter Mirifica-Dekret tentang Upaya-Upaya Komunikasi Sosial-salah satu dekret dari Konsili Vatikan II pada 1963). Setiap tahun Hari Komunikasi Sedunia dirayakan sebelum Perayaan Pentakosta. Hari Komunikasi Sedunia pertama kali dirayakan pada 7 Mei 1967, dan tahun ini menjadi perayaan yang ke-52.

Kembali kepada Surat Paus Fransiskus, kita diingatkan bahwa komunikasi adalah bagian dari rencana Allah bagi manusia serta jalan utama menjalin persahabatan. Sebagai manusia yang diciptakan seturut gambar dan rupa Sang Pencipta, idealnya kita mengungkapkan serta membagikan hal-hal yang benar, baik, dan indah. Kita perlu waspada karena keegoisan dan kebanggaan diri mampu merusak cara kita menggunakan kemampuan berkomunikasi. Kemampuan memutarbalikkan kebenaran menjadi gejalanya. Terlebih lagi pada era komunikasi dan sistem digital yang berubah demikian cepat ini.
Sumber: www.vaticannews.va & www.dbb.org.au

Paus Fransiskus mengajak dunia, terutama Umat Katolik, untuk memahami berbagai hal terkait makna berita palsu/bohong (fake news) atau hoax; bagaimana mengenali berita bohong; juga cara mempertahankan diri dari kepalsuan dan/atau menangkal berita bohong. Beberapa hal penting terkait berita bohong (hoax) yang disampaikan Paus Fransiskus dalam suratnya saya catat dalam poin-poin berikut.
  • Berita palsu/bohong didasarkan pada data yang TIDAK ADA atau TERDISTORSI untuk menipu dan/atau memanipulasi penerima berita. Pada umumnya memiliki tujuan tersembunyi, seperti memengaruhi keputusan politik, melayani kepentingan ekonomi, dan sebagainya.
  • Berita palsu/bohong biasanya terlihat masuk akal atau meyakinkan dan mampu menarik perhatian karena memunculkan stereotip serta hal-hal yang ingin diketahui masyarakat, dan mengeksploitasi beragam emosi sesaat, seperti kecemasan, kemarahan, penghinaan, dan frustasi.
  • Berita palsu/bohong cenderung berkembang karena adanya interaksi masyarakat dalam lingkungan digital yang homogen yang cenderung tidak mempan ditembus perbedaan pendapat (sudut pandang). Kondisi demikian semakin berkembang karena tidak ada sumber informasi lain yang secara efektif mampu menandingi prasangka serta menghasilkan dialog yang konstrukstif. Akibatnya si penerima berita pun kemudian justru menjadi "penyebar" berita terkait.
  • Berita palsu/bohong cenderung mendeskreditkan orang lain, menghadirkan mereka sebagai musuh, sampai pada titik yang menjelekkan mereka dan menimbulkan konflik.    
  • Berita bohong mencirikan sikap tidak toleran dan hipersensitif, dan hanya mengarah pada penyebaran arogansi dan kebencian.
  • Berita palsu/bohong SELALU BERBAHAYA, sekalipun hanya sedikit saja fakta yang terdistorsi; dan memercayai berita bohong mengemban konsekuensi yang sangat buruk.
  • Berita palsu/bohong menyebar dengan cepat, menjadi viral, dan sulit dihentikan, BUKAN karena tingginya rasa berbagi sebagaimana jiwa media sosial, melainkan karena terangsangnya keserakahan/ego dalam diri manusia yang cenderung tak kunjung terpuaskan. Misalnya, rasa haus akan kekuasaan dan keinginan untuk memiliki atau menikmati sesuatu.

Waspada fake news alias hoax (Sumber: Geralt - Pixabay.com)

Paus Fransiskus berpesan bahwa meskipun bukan pekerjaan gampang, kita semua bertanggung jawab menangkal berita bohong. Pada salah satu bagian Bapa Paus menyebut perlunya pendidikan tentang kebenaran, agar kita dapat membedakan, mengevaluasi, dan memahami keinginan terdalam kita. Jangan sampai kita kehilangan pandangan tentang apa yang baik dan menyerah pada setiap godaan. Selanjutnya beliau juga menyampaikan bahwa untuk mempertahankan diri dari kebohongan kita perlu memiliki penangkal jitu, yakni pemurnian oleh kebenaran.

Kebenaran bukan hanya tentang benar-salah atau sekadar mengungkap yang tersembunyi, tetapi mencakup keseluruhan hidup kita. Dalam Alkitab, kebenaran bermakna dukungan, solidaritas, juga kepercayaan. Kebenaran dapat menjadi tempat bersandar agar tidak jatuh. Satu-satunya yang sungguh dapat diandalkan serta dipercaya adalah Tuhan yang hidup. Dalam iman Kristiani, Kristuslah Kebenaran. Kita menemukan dan kembali menemukan kebenaran ketika kita mengalaminya sendiri, dalam kesetiaan dan kepercayaan kepada Sang Kebenaran yang mengasihi kita. Dengan demikian kebenaran akan membebaskan kita, sebagaimana kutipan yang dipilih "Kebenaran akan memerdekakan kamu" (Yoh. 8:32).

Paus Fansiskus menekankan agar kata maupun perbuatan kita hendaknya bebas dari kepalsuan. Kita pun harus senantiasa mencari relasi. Dengan demikian kata dan sikap kita benar, otentik, dan dapat dipercaya. Sementara, untuk mengenal kebenaran, kita diajak mengenali segala hal yang mendorong kerukunan serta memajukan kebaikan; bukan yang cenderung mengasingkan, memecah belah, dan menentang. Menurut Bapa Paus, kita dapat mengenali kebenaran dari suatu pernyataan melalui buah-buahnya. Apakah perkataan tersebut memancing pertengkaran, memunculkan perpecahan, mendorong pengunduran diri; ataukah sebaliknya yaitu mengembangkan informasi dan refleksi matang yang mengarah kepada dialog konstrukstif yang bermanfaat.
 
Sebagai penutup, Paus Fransiskus mengajak semua orang untuk memajukan jurnalisme perdamaian. Jurnalisme perdamaian adalah jurnalisme yang jujur serta menentang kebohongan, slogan-slogan retoris, dan berita utama yang sensaisonal. Jurnalisme perdamaian diciptakan oleh masyarakat dan untuk masyarakat, melayani semua orang, terutama mereka yang tidak bersuara. Jurnalisme perdamaian tidak terfokus pada "breaking news" saja, tetapi juga berupaya menyelidiki penyebab konflik guna mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam dan berkontribusi memberi solusi dimulai dengan proses yang baik. Jurnalisme perdamaian berkomitmen menunjukkan berbagai alternatif terkait peningkatan perselisihan dan kekerasan verbal.
Berhati-hati sebelum membagikan berita/informasi di media sosial (Sumber: stux - pixabay.com)

Meskipun Paus Fransiskus secara khusus menyebut "jurnalis" atau "pewarta", sebenarnya surat beliau menyapa semua orang dari segala profesi. Surat ini juga relevan untuk masyarakat universal. Bagaimanapun harus disadari bahwa saat ini bukan jurnalis/pewarta saja yang memiliki kemampuan "menyebarkan" berita tetapi juga masyarakat awam.  Semakin canggihnya gawai dan pesatnya perkembangan media sosial daring (online), membuat sebuah berita/informasi dapat tersebar dengan sangat cepat hanya dalam hitungan detik.  Oleh karena itu, setiap pribadi diketuk untuk memiliki tanggung jawab sosial membantu menghentikan penyebaran berita/informasi bohong. Yuk tangkal hoax, galakkan jurnalisme perdamaian!

Depok, 15 Mei 2018
@dwiklarasari


Sumber bacaan:
Surat Paus Fransiskus pada World Communication Day 2018 yang secara lengkap dapat dibaca lewat tautan ini.

Artikel ini juga tayang di akun Kompasiana saya 


Jumat, 05 Juli 2013

Ketulusan dalam Berbuat Baik

Foto: klimkin, Pixabay

Pada suatu masa seseorang memberiku makanan yang tidak kusuka. Lalu kutolak dengan kata-kata paling halus dan sopan yang kupunya. Namun, dia tetap memaksa. Seorang kawan yang bersama kami berujar ‘Ayolah diterima, tidak baik menolak pemberian orang lain’. Kemudian kawan lain pun menimpali, ‘Betul! Sakit hati kita meminta tidak diberi, tetapi lebih sakit hati jika memberi tidak diterima’.

Ujaran kawan tersebut begitu mengejutkan dan terasa menohok. Entah bagaimana, lalu kupikir ada benarnya juga. Sepertinya kurang manusiawi menolak kebaikan hati orang.

Namun di kemudian hari, lebih banyak pengalaman ternyata mengajarkan perihal perspektif lain dalam memberi dikaitkan dengan kebaikan hati.

Banyak orang yang merasa telah berbuat baik justru menjadi sakit hati atau kecewa karena merasa kebaikannya tidak dihargai, ditolak, tidak diacuhkan, dan sebagainya. Mungkin saja kita sering merasa sudah melakukan hal-hal baik untuk saudara, keluarga, sahabat, orang lain, komunitas, dan lain-lain, tetapi berakhir dengan rasa sakit hati karena kebaikan kita tidak diterima dengan baik sebagaimana yang kita harapkan.

Jika direnungkan, ternyata sakit hati atau apa pun sebutannya, terjadi karena sadar atau tidak, ada sebuah harapan/keinginan dari lubuk hati kita yang terdalam bahwa kebaikan kita akan diterima dengan baik dan penuh rasa terima kasih oleh si penerima.

Konon, keinginan agar kebaikan kita diterima adalah salah satu tanda ketidaktulusan kita dalam berbuat baik. Berbuat baik atau memberi bantuan (benda atau yang lain) haruslah dengan ketulusan.

Ketulusan adalah kesungguhan dan keikhlasan dari lubuk hati yang jujur.
Kebaikan yang sungguh tulus tidak mengharapkan balasan apa pun.
Bahkan sekadar sebuah harapan bahwa kebaikan itu akan diterima.
Tidak pula untuk sekadar mendengar ucapan terima kasih.

Di dunia ini semua bersifat relatif, termasuk kebaikan.
Baik menurut kita belum tentu baik bagi orang lain. 
Namun tetaplah berbuat baik dari hati tulusmu.


Depok, 5 Juli 2013

Senin, 09 Maret 2009

Berpamitan


Sudah seharusnya berpamitan saat pergi dari suatu tempat di mana kita masih meninggalkan orang lain. Entah keluarga di rumah, atasan/rekan di kantor, bahkan teman-teman di tempat nongkrong. Berpamitan menjadi sangat penting saat kita bertamu. Hanya maling yang konon tidak pernah berpamitan. (Datang pun dia tidak permisi! Hehehe...)

Berpamitan menjadi tata krama yang sangat dijunjung tinggi dalam berbagai adat/ kelompok masyarakat. Orang yang tidak berpamitan saat meninggalkan tempat, bisa dibilang “tak punya adat”. Dalam keluarga muslim, mengucapkan Assalamualaikum1) sebelum pergi atau saat datang wajib hukumnya.

Dari empat bersaudara, aku bisa dibilang paling bandel. Saat masih duduk di Sekolah Dasar, aku kadang berpamitan sesukaku. Aku sering berteriak sambil berlari keluar rumah. Alhasil, ibuku akan menyuruhku kembali untuk memperbaiki caraku berpamitan. Dengan cemberut atau berkeluh kesah, biasanya aku akan kembali, menghampiri Ibu atau Ayah lalu mencium punggung tangan beliau sambil bergumam kesal “Bu/Ayah, berangkat sekolah”.

Setelah besar kebandelanku dalam berpamitan kadang kala masih kuulang. (Bukan bandel ... hanya iseng!) Saat jadi perantau di Medan, aku tinggal bersama sebuah keluarga Batak Karo. Pada Mamak (Ibu kost yang sudah menjadi orang tua sendiri), aku sering bercanda. “Mak, Laos aku … Vietnam, Kamboja, Thailand!” Laos dalam bahasa Karo berarti pergi. Ibu kost yang kupanggil Mamak pun biasanya hanya tersenyum sumringah menanggapi kebandelanku.

Konon katanya, kalau disuguh makan besar saat bertamu, tidak sopan jika segera sesudah menghabiskan makan kita langsung berpamitan. Entah hanya Ibuku yang memiliki prinsip ini dan mengajarkan pada anak-anaknya atau memang semua ibu demikian. Setelah aku semakin berumur, prinsip tersebut benar-benar kuakui kebenarannya. Bukan hanya menyangkut kesopanan tapi juga kesehatan. Secara biologis, berpamitan sesudah selesai menyantap makan besar memang tidak tepat karena proses pencernaan belum lagi sempurna. Mungkin perlu waktu 10-15 menit. Kalau beruntung, mungkin masih ada tawaran semangkuk es krim sebagai makanan penutup. :)

Pernah aku main ke rumah temanku dan disuguh makan siang. Sesudah menghabiskan makan siang aku pamit pulang. “Wah, SMP ya?” Seloroh ayah temanku. Aku hanya tersenyum tak mengerti. Wah, beliau menyangka aku anak SMP! Mungkin ayah temanku memang tidak tahu kalau aku ini teman sekolah anaknya di SMA. Namun, beberapa tahun kemudian seloroh yang sama kudengar dari kakak sepupuku. Waktu itu karena takut kemalaman pulang dari rumahnya, sesudah makan malam aku buru-buru pamit. “Kok SMP, gak elok! Ngobrol dulu sebentar!” Demikian kata kakakku. Selidik punya selidik, ternyata akronim SMP seperti seloroh ayah teman SMA-ku adalah kependekan dari Sesudah Makan Pulang. Ha...ha... ha...

Ada satu hal tentang berpamitan yang selalu membuatku tersenyum. Tamu di rumah orang tuaku selalu berpamitan lebih dari satu kali. Makin akrab tamu itu dengan keluarga kami semakin banyaklah salam pamit akan disampaikan.

Pertama, jika tamu seorang rekanan biasa. Beranjak dari kursi tamu ia akan mengucapkan salam pamit dan bersalaman. Ayah atau Ibuku biasanya akan mengantar sampai pintu. Di pintu sekali lagi mereka berpamitan dan menghilanglah tamu di kelokan teras. Mengucapkan kata pamit dan bersalaman dalam 2 waktu berbeda, bisa dihitung dua kali berpamitan!

Kedua, jika tamu itu adalah teman dekat. Biasanya sambil menyeruput suguhan minuman untuk terakhir kali, mereka akan melontarkan kalimat pamit. “Sampun cekap, nyuwun pamit”. Beranjak dari kursi mereka akan bersalaman dengan Ayah/Ibuku dan kembali mengucapkan salam pamit lengkap dengan ucapan terima kasih untuk suguhannya. Tapi jangan salah, obrolan masih akan berlanjut karena Ayah/Ibuku akan mengantar hingga ke depan rumah sampai mereka lenyap di ujung jalan. Maklum teman dekat! Di teras rumah, biasanya sang tamu akan berpamitan lagi. Lalu di atas kendaraan atau di dalam mobil mereka kembali berpamitan. Jika dihitung jumlahnya empat kali!

Ketiga, jika sang tamu adalah keluarga dekat. Tamu golongan ini tentu akan menembus batas-batas area publik. Saat pertama datang bisa langsung ngobrol di dapur bersama Ibu, pindah ke ruang keluarga, ruang tamu, teras, atau ruang mana pun. Saat mereka sudah berpamitan pulang, mungkin saja Ibu baru selesai memasak lalu menawarkan makan. Selesai ngobrol di ruang makan pamitan kembali diulang, sambil berjalan ke ruang tamu. Bukan langsung keluar mereka masih duduk lagi di ruang tamu. Ngobrol lagi. Lalu sambil menandaskan suguhan kopi enak bikinan ibu sang tamu akan berpamitan lagi. Lalu di pintu,di teras rumah, juga di mobil. Jumlahnya , enam kali! ­­

Keempat, bagaimana jika tamunya seorang pelupa? Berurusan dengan tamu pelupa, tentu lebih banyak lagi salam pamit yang akan kami terima. Terlebih lagi jika tamu pelupa itu adalah keluarga dekat. Wah, bisa lebih dari sepuluh kali salam pamit terucap. Bagaimana tidak? Sejak beranjak pertama kali hingga berada di atas kendaraan saja sudah 5 kali pamit. Bayangkan, jika tamu itu kembali masuk ke rumah untuk mengambil barang yang tertinggal. Tebaklah, dia tentu akan berpamitan lagi, lagi, lagi, lagi. dan lagi.

Ternyata bukan hanya tamu di rumah orang tuaku yang pamit berkali-kali. Beberapa temanku mengaku selalu berpamitan lebih dari 2 kali. Bahkan, ada seorang teman yang punya kenangan lucu tentang berpamitan. Setelah berkali-kali pamit, akhirnya justru dia pergi bersama seluruh penghuni rumah (yang telah diberi salam pamit).

Pada waktu itu temanku berada di rumah tunangannya. Dia dan tunangannya berencana pergi ke gereja. Sebelum pergi, temanku pamit pada calon mertua dan seisi rumah. Eh, baru sampai di teras rumah, hujan turun dengan lebat.

“Tunggulah reda,” kata tunangannya. Mereka pun duduk dan ngobrol di teras.

Setelah reda, temanku berpamitan lagi. Kedua calon mertua mengantar sampai di teras. Beberapa kali motor dihidupkan selalu gagal. Olala... ternyata busi motor harus dibersihkan. Terpaksa temanku duduk di teras, sementara tunangannya membereskan motor. Setelah motor selesai diperbaiki... sekali lagi mereka berpamitan... untuk ke-3 kalinya. Bremmm... kali ini benar-benar berangkat! Tapi, belum jauh berkendara, tepatnya ketika sampai di gerbang, sebuah mobil membunyikan klakson hendak masuk halaman. Pengendaranya adalah tante sang tunangan.

“Ngobrol dululah. Tante kan belum kenal...,” kata sang Tante dari dalam mobil.

“Kita ke gereja yang ke-2 saja,” bisik tunangannya.

Motor dimatikan dan mereka kembali masuk ke rumah. Bersama tunangan dan kedua calon mertuanya, temanku menemani sang tante ngobrol. Setelah ngobrol cukup lama, calon mertua memutuskan untuk ke gereja bersama-sama sang tante. Temanku dan tunangannya juga diajak semobil. Akhirnya... temanku, tunangannya, dan seluruh keluarga bermobil bersama ke gereja. Jadi untuk apa dari tadi pamit berkali-kali, begitu cerita temanku sedikit kesal.

Pernah terlintas di benakku bahwa berpamitan berulang kali adalah sebuah basa basi yang sangat basi. Dan, aku berniat menghilangkannya! Aku hanya akan berpamitan satu kali jika bertamu, begitu janjiku! Tapi janji itu ternyata susah diterapkan! Setelah diantar tuan rumah hingga pintu gerbang halaman dan tidak berpamitan sekali lagi, aku merasa seperti orang yang tidak punya sopan santun. Ah peduli amat jika basa basi ini memang basi! Mungkin basa basi adalah salah satu keindahan hidup di negara timur. 

Kalimalang, Maret 2009

Catatan:
1. Assalamualaikum: salam dalam bahasa arab
2. Mak, laos aku (Bhs. Karo): Mak, pergi/berangkat aku.
4. sumringah (Bhs. Jawa): gembira
5. gak elok (Bahasa Jawa): tidak sopan/baik.
6. Sampun cekap, nyuwun pamit (Bahasa Jawa): Sudah cukup, mohon pamit

Kamis, 11 Desember 2008

Bolehkah Menulis Phonebook Sesuka Hati?


Tahun 2000 aku mulai turut dalam era baru komunikasi. Era telepon seluler alias ponsel. Lalu, segera saja kuakrabi berbagai istilah baru, seperti SMS-Short Message Service, misscall, phonebook, dan sebagainya. 

Bagiku, keberadaan phonebook cukup fenomenal. Sisi positif dan negatif tumpang tindih tak jelas batasannya. Satu sisi positif: bila ingin bertelepon, tinggal klik phonebook, pilih nama, dan ”Haloo...” tersambung! Tak perlu lagi mengingat puluhan nomor atau membuka buku telepon. 

Satu sisi negatif: phonebook menurunkan daya ingatku. Bagaimana tidak, aku tak lagi berminat menghafal nomor telepon. Jika sebelumnya bisa kuhafal lebih dari sepuluh nomor, setelah ber-ponsel hanya 4 nomor yang bisa langsung kutekan tanpa membuka catatan. Nomor rumah, nomor kantor, nomor ponselku, dan... tak ada lagi. Ah, ternyata hanya tiga nomor! 

Pernah, saat mengurus penggantian sim card yang rusak, aku harus mengisi form pernyataan. Salah satu item yang tertera adalah diminta menulis 5 nomor dalam sim card yang paling sering dihubungi. Ternyata hanya 2 nomor yang kuhapal, rumah dan kantor. Nomor orang-orang terdekat (keluarga, adik, kakak, sepupu), bahkan telepon tempat indekos dan nomor teman sekamarku tidak ada yang dapat kuingat dengan benar. Olala!

Phonebook juga memberi pelajaran, kelucuan, dan banyak pengalaman.
Dengan seizin pemiliknya, aku suka membaca phonebook di ponsel orang lain. (Swear... hanya phonebook kok!) Seru juga lho membaca nama-nama dalam phonebook! Melalui phonebook bisa lho diketahui sifat pemilik ponsel. Apakah dia orang yang sangat sopan, seorang biasa, atau seorang selengekan/iseng. 

Teman-temanku yang sangat sopan, daftar nama dalam phonebook-nya sebagian besar diawali huruf B, P, dan M. Ada juga I , K dan M. Simak ya... semua yang sebaya orangtuanya akan ditulis dengan awalan Bu/ Pak atau Ibu/Bpk. Temen etnis jawa juga memakai huruf B dan P untuk awalan Budhe/Pakdhe atau Bulik/Paklik untuk menyebut saudara-saudara Bapak/Ibunya. Lalu, rekanan kantor/klien yang senior ditulis dengan awalan Mas/Mbak. Dalam phonebook beberapa teman asal Medan kutemui awalan Kak/Bang. Nama yang tidak ditulis dengan semua panggilan kesopanan tersebut, tentu adalah teman-teman sebaya.

Bila kuamati, teman-teman ber-phonebook sangat sopan ternyata tidak efektif. Bisa dibilang percuma memiliki fasilitas phonebook. Jika harus menghubungi seseorang dalam keadaan darurat dia benar-benar kewalahan. Bagaimana tidak? Isi phonebook-nya sebagian besar berawalan M. Hanya untuk mencari nama Mbak Diah, dia harus memilih di antara puluhan nama berawal M. Ada puluhan Mas dan Mbak dalam daftar itu. Belum lagi jika di sekitar nama Mbak Diah ada nama-nama seperti Mbak Dian, Mbak Diana, Mbak Dianing, Mbak Diandra, Mbak Dina, Mbak Dinda, atau Mbak Dita. Saat terburu-buru, peluang salah pilih nama dan salah kirim SMS juga sangat besar. SMS untuk Mbak Dian sering nyasar ke Mbak Diah atau Mbak Diana. Wah... panjang urusannya! 

Tapi apa pun masalahnya, dua temanku yang ber-phonebook sangat sopan mempunyai alasan sangat sopan menanggapi kritik itu. Katanya: aku takut kalau orang ybs melihat ponselku dan menemukan namanya tidak kuberi awalan Mbak/Mas atau Bpk/Ibu. Aku akan di-cap tidak sopan. Ha..ha..ha... ada-ada aja!

Dalam phonebook seorang biasa, sebutan Ibu/Bu, Bapak/Pak, Mas/Mbak, Bang/Kak tetap ada, tetapi tidak semuanya. Hanya orang-orang tertentu saja, misalnya Bapak/Ibu dan kakak kandung atau atasan di kantor. Sisanya adalah nama-nama panggilan yang wajar. Misalnya: Agung, Budi, Citra, Dewi, Eni, Fitri, Gina, Hasan, Ina, Joni, Kusno, Lina, Mirna, Neni, Oki, Panca, Rita, Sasa, Tania, Umi, Wati, atau Yanti. Phonebook biasa ini memiliki mungkin absensia untuk huruf-huruf tertentu, seperti huruf Q, V, dan Z, karena jarang dipakai sebagai awalan nama.
Paling seru mengintip phonebook seorang selengekan/iseng. Lupakan sebutan Bapak/Ibu, Mas/Mbak, Pakde/Bude, Bang/Kak, Uda/Uni, dan panggilan sopan lain. Semua akan sulit ditemukan! Dalam phonebook saudaraku yang selengekan tak ada nama Bapak, Ayah, ataupun Papa, karena untuk nomor Ayah kami diberi identitas Pak Uban. Rambut Ayah sudah putih semua, begitu alasannya. Lalu sebutan Bos OK, untuk atasannya. Reserse, untuk sepupu kami yang polisi. Markas, untuk telepon rumah. Tomingse untuk temannya yang (maaf) agak tonggos. Katanya, kependekan dari Tolong mingkem sedikit. Gondes untuk temannya berambut panjang yang dijuluki gondrong desa. Misstel untuk kawan yang suka telat/terlambat. Lalu, nickname unik seperti Panjul, Tato, Ndut, Gokil, Pitik alias ayam dalam bahasa Jawa. 

Kalau phonebook-ku gimana ya? Entahlah...mungkin kombinasi antara biasa, selengekan, dan praktis. Beberapa nama kutulis sewajarnya: Agus, Beni, dll. Beberapa yang lain kutulis sesingkat mungkin. BQ untuk Becky, CT untuk Siti, EQ untuk Eki, UQ untuk Uki, IK untuk Ika, AVX untuk Afiks, ND untuk Endi, D7 untuk Desi, V6 untuk Vela, U3 untuk Umi, Q- untuk Kimin, QQ untuk Kiki. Lalu ada Na2, Ta2, To2k, juga Yo2. Beberapa nama kutulis sebagai nickname. Misalnya, Godek (cambang, bhs jawa), untuk teman yang bercambang. Mistar untuk temanku Miss. Tari. Nama lain kubuat iseng saja, seperti Sea Gate untuk Sigit, Tea Us untuk Tyas, Two Nick untuk Tunik, By U untuk Bayu, atau Cow2 untuk Koko. Nah saat orang tuaku hanya punya satu ponsel untuk berdua, nama mereka kutulis ABun alias Ayah Bunda.

Kalimalang, Desember 2008

PS: 
Sejauh mana kita punya hak mengelola phonebook di ponsel kita? Salahkah bila menuliskan dengan selengekan?