Tampilkan postingan dengan label Wisata dan Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata dan Kuliner. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Oktober 2011

The Awesome Baduy





If you miss the sacred nature,
shades of green as far as the eye can see,
the nature with clear water like a mirror
If you expect millions of stars
as lights in the dark night..
If you miss a peace of mind
If you could hardly believe
there are still friendliness,
sincerity and honesty
in a world which full of falsehood..
Let's come to BADUY
So you will be amazed
because all of them are real

Baduy is one of several traditional communities in Indonesia. This community which also called Kanekes living in the mountainside of Kendeng at Banten Province, West Java. This place is located about 400 km from Jakarta. If we want to reach that place by public transport, we need about 3 hours traveling by train, then continued 2 hours by car and finally we have to do trekking about 3-4 hours to reach their village. We should be in a good health, because we need to climb up and go down the slope as far as the journey, and also cross rivers.

Baduy community divided by two group named "Outer Baduy" (Baduy Luar) and "Inner Baduy" (Baduy Dalam). The two of groups are living in a simple way.. but the Inner Baduy is more strict.










The Inner Baduy keep their land (from contamination) by tightly. In their village we couldn't find electrical. They only use an oil lamp and fireplace for cooking. Every electronic equipment are not permitted. No cellphone, radio, television, etc. As they do, we should take a bath at the river or stream near village, at the open river with no border. We can not use soap, shampoo, toothpaste, deodorant, or everything which is contain chemical.


All above the natural scene, we will find the simple human there. They don't accept education. They live by farming. They also have a skill in spinning and make many wickerwork. The Baduy community are humble and friendly.

Living just a day in Baduy
will make us aware

the most important in life
is THE LIFE itself
and the duty of us
is keeping our planet

Note:
All photos take at Baduy Luar. Traveler not permitted taking pictures at Baduy Dalam.

Depok, Oktober 2011 


Catatan susulan: 
Dokumentasi pribadi saya ini selanjutnya juga saya gunakan sebagai lampiran kompetisi menulis catatan perjalanan "Traveling Note Competition" yang diadakan oleh DIVA Press September-Desember 2012.

Selasa, 21 Juni 2011

Rujak Cingur - the Recipe

(dan kenangan akan Ibunda)

Salah satu menu favoritku adalah Rujak Cingur!
Mereka yang bukan berasal dari keluarga Jawa Timur atau tidak pernah tinggal di sisi Timur pulau Jawa ini, pasti terheran-heran bahkan cenderung jijik saat pertama kali melihat sepiring rujak cingur. Bagi mereka yang berani menerima tantangan untuk mencobanya, biasanya akan langsung jatuh cinta. Ah... tidak juga!

Seperti namanya makanan ini berbahan utama CINGUR alias hidung sapi. Dalam sajian kita temukan potongan buah-buahan sebagaimana RUJAK, namun rasanya jauh berbeda dari rujak buah. Sebab ada bumbu utama yang memberikan kekhasan yaitu petis udang.


Bahan-bahan:
  • Lontong (bisa dibeli atau dibuat sendiri)... enakan beli aja, praktis! :)
  • Cingur sapi atau kikil yang direbus
  • Tempe dan tahu yang digoreng dan dipotong dadu
  • Beberapa jenis sayuran (kangkung, kacang panjang, taoge) yang direbus
  • Beberapa buah segar (ketimun, bengkoang, nanas, kedondong, mangga, dll sesuai selera). Semuanya diiris-iris sedang.

Bumbu (semua yang diuleg):
  • Cabai rawit, bawang putih dan kencur
  • Kacang tanah yang disangrai
  • Irisan pisang batu/kluthuk muda
  • Gula merah dan garam
  • Air asam jawa
  • PETIS UDANG
(Bumbu diukur menurut selera masing-masing dan diuleg halus)

Saran penyajian
  1. Siapkan piring lebar yang cantik... ;)
  2. Potong-potong lontong sesuai selera
  3. Tambahkan sayuran rebus di atasnya
  4. Tambahkan tempe dan tahu goreng yang telah diiris-iris sedang
  5. Tambahkan buah-buahan
  6. Tambahkan potongan CINGUR
  7. Tuangkan bumbu yang telah diuleg di atasnya
  8. Taburi kerupuk sebagai pelengkap
  9. Hidangkan dengan senyuman... :))
Pada masa kecilku, Alm. Ibuku memasukkan RUJAK CINGUR sebagai menu favorit keluarga. Yang paling kuingat karena menurutku sangat menarik... Ibu selalu menyiapkan semua bahan dan peralatan di atas tampah lebar. Ya, layaknya seorang pedagang yang hendak berjualan keliling. Lalu, kami dimulai dari Ayah akan memesan sesuai selera kami masing-masing... berapa cabainya, sayuran dan buah apa yang dipilih, dll. Tetapi jumlah cingur-nya adalah hak prerogatif "pedagangnya"... hahahaha. Sudah pasti Ayahku akan mendapat bagian terbanyak.. :(

Ibuku akan menguleg bumbunya satu per satu dan menyajikannya di piring atau daun. Wah kalau jadwal makan rujak cingur keluar... tak ayal lagi hati akan gembira seperti diundang makan ke istana negara. Sayang tak ada dokumentasinya... :))
Tapi aku berhasil meng-copy foto "sepiring rujak cingur" dari sebuah sumber untuk melengkapi tulisan ini


PS: CINGUR itu hidung sapi, sering2 menikmatinya mungkin membuat penciuman kita makin tajam.. LOL