Tampilkan postingan dengan label Mother. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mother. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 September 2016

Mungkin Ibu Tahu Aku Pulang

Ning, kemari! Cepat!
Begitu ayahku memanggil
Setengah berbisik dan tergesa
Seakan tak ingin kehilangan momen
Kutinggalkan kerja dan bergegas datang

Kau dengar sesuatu, tanya dia saat kumendekat
Banyak suara datang menyerbu gendang telingaku
Berisik putaran baling-baling kipas angin tua di dinding
Berulang dentaman palu dan gesekan gergaji para tukang
Juga teriakan mandor bangunan dari rumah tetangga

Bukan, suaranya ada di dekat kita, sanggah ayahku
Saat itu kami ada di depan ruang yang kami namai dapur
Tak ada suara apa pun dari ruang tempatku menjerang air
Kupertajam naluriku untuk dapat mendengar suara lembut
Hanya kudengar keluh hatiku yang dikejar tenggat waktu

Ada suara orang sibuk di dapur, kembali ayah berbisik
Ah, sudah pasti itu ibu, ratu keluarga pemilik dapur
Aku tak punya indra keenam seperti ayahku
Karna tak sedikit pun kudengar suara itu
Namun aku merasa ibu ada di situ

Mungkin ibu tahu aku pulang
Itulah sebab ibuku datang
Ingin memasak untukku
Atau mengingatkanku
Bawa seikat bunga
ke makamnya

Semarang, 6 September 2016


Minggu, 23 Oktober 2011

Ibu, Aku dan Selimut

Saat mengangkat selimut dari tali jemuran, tiba-tiba aku teringat Ibu. Lalu aku tersenyum-senyum sendiri laksana orang yang telah berubah pikiran. Tapi aku sedang sendiri, jadi tiadalah khawatir ada yang mengira aku sudah gila. Andakata ada yang melihat dan menyebut aku gila, aku pun akan terima dengan ikhlas. Karena bagiku kenangan akan Ibu terkait dengan selimut akan membuatku tersenyum sepanjang masa.
Sejak kecil aku memang tidak suka tidur berselimut. Sebenarnya aku tidak merasa terganggu dengan hawa dingin ataupun gangguan nyamuk yang sangat menyebalkan di mata orang lain. Saat menginap di daerah berhawa dingin pun tidak selalu kumanfaatkan selimut. Kecuali tubuhku sedang tak sehat atau benar-benar tak sanggup menahan hawa dingin. Hahaha... sama juga bohong ya? Tapi banyak orang curiga karena aku malas melipat selimut. Hohoho... tuduhan yang semena-mena ya?!
Dan seperti banyak orang, Ibuku tidak merestui ketidaksukaanku itu. Oleh karenanya beliau selalu berusaha membuatku berselimut.. hehe! Meskipun berangkat tidur tidak berselimut, pasti aku bangun dengan selimut yang sudah bergulung-gulung di sudut ranjang... mungkin karena aku bermimpi main bola.. :) Aku yakin pasti semalam Ibu menyelimutiku. Ah, begitulah Ibu... bahkan kasihmu terungkap melalui hal-hal sepele macam itu. Aku bayangkan tentu adegannya seperti di sinetron atau film-film... Ibu masuk ke kamarku dan memandang sedih melihat aku meringkuk kedinginan atau telentang dengan puluhan nyamuk menyambangiku tubuhku. Lalu sambil berbisik sayang diambilnya lipatan selimut dan menyelimutiku rapat-rapat. Jika bukan dengan bisikan sayang mungkin juga dengan omelan (karena keras kepalaku)... "Sudah dibilang berkali-kali kalau malam banyak nyamuk.. susah amat disuruh berselimut!"... bla...bla..bla.. Itulah omelan sayang seorang Ibu. Oh, so sweet... Coba ada CCTV.. :)
Tapi tahukah kamu? Aku suka menggoda Ibuku.. tentu saja dengan kebandelanku! Jika bangun tidur aku tidak langsung melipat selimutku. Sengaja menunggu Ibu melihatnya.. dan Beliau mengatakan: "Kalau bangun tidur itu, selimutnya mbokya langsung dilipat. Cah wadon ki sing rapi.. !" Lalu aku dengan gaya jumawa.. eh, tapi cuma akting kok.. :) akan menjawab, "Lho, semalam aku berangkat tidur gak pakai selimut kok.. siapa yang buka selimut dia yang melipat dong!" Dulu... waktu pertama kali mendapati akting perdanaku.. hahayy.. Ibu mana yang tidak akan shock? Saat melihat mata Ibu melotot dan hampir melantunkan omelan.. segera kupeluk beliau dan berteriak.. "hehehe.. bercanda...!" Lalu, kulipat selimutku dan Ibu tertawa tergelak, sering kali sambil mengaduk-aduk rambutku.
Dan akting itu sering kuulang.. bahkan hingga aku dewasa. Tapi lelucon itu tak pernah terasa garing.. karena tetap berakhir dengan tawa kami berdua. Ah, senangnya bisa menggoda Ibu.. dan kenangan ini selalu membuatku tersenyum. Hanya ada sedikit tanya.. adakah Ibu juga mengingat kenangan ini dan tersenyum dari surga sana?
Sunday, 23 Oktober 2011

Jumat, 02 September 2011

KASIH IBU KEPADA BETA

Malam itu aku masih berumur kurang dari 12 tahun. Persisnya berapa tahun, tidak kuingat secara pasti. Namun dapat dipastikan aku masih duduk di Sekolah Dasar dan dalam tahap mempelajari banyak lagu. Jadi, dapat diperkirakan saat itu aku duduk di kelas 1 atau 2 SD.

Malam itu aku sedang belajar dan Ibu berada di sampingku. Tentu Ibu bermaksud mengajariku. Di rumah hanya ada kami berdua. Entah ke mana Ayah dan saudari-saudariku pergi. Kami berdua duduk di ruang "serupa" ruang belajar. Ya, hanya serupa! Rumah kami hanyalah gubug kecil dengan 2 ruang tidur, dapur dan kamar mandi, serta satu ruang cukup besar di tengahnya. Ruang multifungsi... mungkin adalah nama yang tepat untuk ruang tengah itu, karena bisa berubah fungsi dengan cepat sesuai kebutuhan. Adakalanya akan menjadi ruang makan, ruang belajar, ruang tamu keluarga dekat, ruang setrika, bahkan bisa pula menjadi ruang tidur bila banyak saudara datang dari kampung.

Di ruang serupa ruang belajar itu, seingatku Ibu sedang mengajariku bernyanyi. Tepatnya menghafalkan nyanyian yang telah diajarkan guru di sekolah. Aku menyimak catatan lirik lagu dalam buku tulisku dan Ibu memegang pensil memberikan ketukan sekaligus menunjuk kata-kata yang harus kubaca. Sesekali Ibu memperbaiki artikulasi dan caraku menyanyi. Ibu turut bergumam mengiringiku.

Sepertinya aku cukup berbakat. Rasanya cepat sekali aku menangkap pelajaran itu, karena tiba-tiba saja aku sudah bernyanyi sendiri. Lalu seperti dalam film, gambar wajahku yang tengah bernyanyi perlahan-lahan diperbesar (di-zoom), sedangkan wajah Ibu yang semula di sampingku menjauh secara perlahan pula. Bayangan Ibu semakin kabur dan wajahku semakin nyata. Seiring lenyapnya bayangan Ibu, wajah kecilku pun berubah menjadi remaja dan lalu semakin lama menjadi semakin dewasa.

Ah... rupanya bukan karena aku berbakat menyanyi dan cepat belajar... namun, karena frame itu hanyalah mimpiku yang memang berjalan begitu cepat seperti preview sebuah film. Tiba-tiba aku telah terbangun di ujung pagi, dengan wujud dewasa serta dalam gumaman lagu indahku sepanjang masa ...

Kasih Ibu, kepada beta
tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi, tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia


Depok, September 2011

Selasa, 21 Juni 2011

Rujak Cingur - the Recipe

(dan kenangan akan Ibunda)

Salah satu menu favoritku adalah Rujak Cingur!
Mereka yang bukan berasal dari keluarga Jawa Timur atau tidak pernah tinggal di sisi Timur pulau Jawa ini, pasti terheran-heran bahkan cenderung jijik saat pertama kali melihat sepiring rujak cingur. Bagi mereka yang berani menerima tantangan untuk mencobanya, biasanya akan langsung jatuh cinta. Ah... tidak juga!

Seperti namanya makanan ini berbahan utama CINGUR alias hidung sapi. Dalam sajian kita temukan potongan buah-buahan sebagaimana RUJAK, namun rasanya jauh berbeda dari rujak buah. Sebab ada bumbu utama yang memberikan kekhasan yaitu petis udang.


Bahan-bahan:
  • Lontong (bisa dibeli atau dibuat sendiri)... enakan beli aja, praktis! :)
  • Cingur sapi atau kikil yang direbus
  • Tempe dan tahu yang digoreng dan dipotong dadu
  • Beberapa jenis sayuran (kangkung, kacang panjang, taoge) yang direbus
  • Beberapa buah segar (ketimun, bengkoang, nanas, kedondong, mangga, dll sesuai selera). Semuanya diiris-iris sedang.

Bumbu (semua yang diuleg):
  • Cabai rawit, bawang putih dan kencur
  • Kacang tanah yang disangrai
  • Irisan pisang batu/kluthuk muda
  • Gula merah dan garam
  • Air asam jawa
  • PETIS UDANG
(Bumbu diukur menurut selera masing-masing dan diuleg halus)

Saran penyajian
  1. Siapkan piring lebar yang cantik... ;)
  2. Potong-potong lontong sesuai selera
  3. Tambahkan sayuran rebus di atasnya
  4. Tambahkan tempe dan tahu goreng yang telah diiris-iris sedang
  5. Tambahkan buah-buahan
  6. Tambahkan potongan CINGUR
  7. Tuangkan bumbu yang telah diuleg di atasnya
  8. Taburi kerupuk sebagai pelengkap
  9. Hidangkan dengan senyuman... :))
Pada masa kecilku, Alm. Ibuku memasukkan RUJAK CINGUR sebagai menu favorit keluarga. Yang paling kuingat karena menurutku sangat menarik... Ibu selalu menyiapkan semua bahan dan peralatan di atas tampah lebar. Ya, layaknya seorang pedagang yang hendak berjualan keliling. Lalu, kami dimulai dari Ayah akan memesan sesuai selera kami masing-masing... berapa cabainya, sayuran dan buah apa yang dipilih, dll. Tetapi jumlah cingur-nya adalah hak prerogatif "pedagangnya"... hahahaha. Sudah pasti Ayahku akan mendapat bagian terbanyak.. :(

Ibuku akan menguleg bumbunya satu per satu dan menyajikannya di piring atau daun. Wah kalau jadwal makan rujak cingur keluar... tak ayal lagi hati akan gembira seperti diundang makan ke istana negara. Sayang tak ada dokumentasinya... :))
Tapi aku berhasil meng-copy foto "sepiring rujak cingur" dari sebuah sumber untuk melengkapi tulisan ini


PS: CINGUR itu hidung sapi, sering2 menikmatinya mungkin membuat penciuman kita makin tajam.. LOL



Minggu, 27 Februari 2011

MOTHER


Today it's supposed to be my Mother's birthday. May my beloved mother rest in peace in heaven. I'm very interested in "MOTHER", a song by SEAMO which tells the story about mother in her children's daily lives.

MOTHER 
(A song from SEAMO-Japan Musician)

Hi Mother, Haikei, genki ni shitemasuka?
Saikin renraku shinakute gomen Boku wa nantoka yattemasu...
Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Dakara kodomo ni mo tsutaetai
Chikaku ni iru to iradatsu kuse ni Tooku ni iru to sabishiku kanji
Anata wa sonna sonzai Donna mondai mo Mi wo kezutte kaiketsu suru
Soshite Boku no shitteru dare yori mo Ichi-ban gamandzuyoku TAFU desu
Itsumo massaki ni ki ni suru Jibun janaku boku no karada de
Suiji sentaku Souji ni ikuji Amatta jikan sara ni shigoto shi
Ichi-ban hikui basho ni aru mono shika Motomenakattano Anata yo
Atarimae sugi wakaranakatta Hitori de kurashi hajimete wakatta
Anata no sugosa Taihensa Sore wo omoeba Kyou mo boku ganbareru sa
Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Dakara kodomo ni mo tsutaetai
"Ashita asa shichi-ji ni okoshite" to itte
Anata jikan doori ni okoshite kurete
Shikashi Rifujin na boku wa
Neboke nagara ni iu kotoba wa "Urusee!"
Konna kurikaeshi no RUUTIN Iyana kao hitotsu sezu ni
Anata Mainichi okoshite kureta
Donna mezamashi yori atatakaku seikaku datta
Sore de mo aru hi Gakkou wo ZURUyasumi "Ikitakunai" to ii
FUton kara ichido mo denu boku mae ni Kao wo ryoute de ooikakushi
Oogoe agete naita Boku mo kanashikute naita
Sono toki boku wa "Nante baka na koto wo shitan da" to jibun semeta
Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Kanshashitemasu My Mother
Kodomo ni sakidattareru hodo Tsurai koto nante Kono yo ni nai no dakara
Tatta ichi-byou de mo Anata yori nagaku ikiru koto Kore dake wa mamoru
Kore dake wa...
Anata no kodomo de yokatta Anata ga boku no haha de yokatta
Itsu made mo kawaranai Zutto zutto kawaranai
Boku wa anata no ikiutsushi dakara...
Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Dakara kodomo ni mo tsutaetai
Zutto boku no haha de ite Zutto genki de ite
Anata ni wa mada shigoto ga aru kara Boku no oyakoukou uketoru shigoto ga...

English Version:
Hi Mother, Dear Mother, how are you doing?
Sorry I haven’t called recently, I’m getting by okay…
*Your body is small and so are your hands
White hairs are mixed in and you’ve grown more genial
But to me you’re still bigger than anything, stronger than anyone
I want to tell my kids about this love that supported me
Even though I grow impatient when I’m near you
When you’re far away from me I grow lonely
That’s who you are to me, you can cut through any problem and solve it
And you have the most patience and toughness of anyone I know
You would always be concerned over my well-being before your own
Cooking, doing the laundry, cleaning, raising a child
You even worked during your free time
You would only require things from the lowest places
I didn’t understand even though it was so obvious
It wasn’t until I started living by myself that I understood
Whenever I think of how much you’ve accomplished
And how hard it must have been, I feel like I can try my best today
(Repeat*)
I’d say, “Wake me up at seven a.m.”
And you would wake me up right on time
But I would be unfair to you
And say the words “shut up” while I was still half-asleep
This was the daily routine
You never made one tired face
And woke me up every day
Warmer and more accurately than any alarm clock
But then one day I skipped school and said, “I don’t wanna go”
I wouldn’t leave my futon and you stood in front of me
Hid your face with both hands and cried loudly
I also felt sad and cried
At that time I blamed myself wondering, “How could I be so stupid?”
Your body is small and so are your hands
White hairs are mixed in and you’ve grown more genial
But to me you’re still bigger than anything, stronger than anyone
I give you thanks for this love that supported me, my mother
I know there’s nothing more painful in the world
Than a parent burying their child
So I’ll make sure it never happens
Even if I only live one second longer than you
I’ll make sure of it…
I’m glad I’m your child
I’m glad you’re my mother
And that won’t ever change
It won’t ever change for all time
Because I am the very image of you…
(Repeat*)
Be my mother forever
Be well forever
You still have one more job left to do
And that’s to accept your son’s love and respect for you…

Kalimalang, 27 Februari 2011


Jumat, 12 November 2010

Mie Bakso Kuah (my Mum's Recipe)

Yesterday, i chatted with my best friend Joszef-from Hungary. We talk about Christmas. He asked me the special menu in my family to celebrate Christmas. So, I told him about a special menu in my family every Christmas. The menu is "Mie Bakso Kuah". Hahaha.. it's such a simple menu. Yes, but always be the special for my family. My Mum often cook this menu when we are home (my sister and I have leave home since a long time), especially on Christmas. We will eat "Mie Bakso Kuah" when back home after a Mass on Christmas Eve. It must be special.. a hot menu for the cool night near early morning. So, after my Mum passed away on July 2009 we very missed this special menu on our special day.. :(

Joszef has a talent in cooking. He is a best Chef for his family. Every time I told him about foods from Indonesia, he always ask me how to make it. I love this guy. So, i wrote for him the recipe of “Mie Bakso Kuah”, my Mum's recipe. I don't know, maybe it’s not practical… honestly i have difficulty to write it.. LOL.. :))


Broth/Mayo
nnaise:

  • Boil about 500 gr beef ribs with 2 liters of water and about 6-8 cloves garlic (crushed)
  • When the ribs are tender enough and issue stock, add some ground pepper, salt, and white sugar
  • Add “tongcai” (marinated vegetables, usually made from turnips, maybe you can find it in the chinese store) or if you can’t find it… substitute with slice green onion (about 2 stalks)
  • Put all meatballs into the broth and wait until boil again

Fill Materials:
  • Wet yellow noodles or other kind of noodles (boiled and separated)
  • Mustard greens (boiled and separated)
  • Fried meatballs
  • Tofu meatballs

Spice Supplement
  • Celery (sliced)
  • Shallots and garlics (fried)
  • Boiled sauce (sambal rebus) or you can substitute with chili ketchup
  • Sweet soya sauce
  • Tomato ketchup

How to make boiled sauce:
- 7-10 small ch
ilies (cayenne), boiled
- a clove of garlic, boiled
- grind finely
both chilies and garlic, and give a few of broth

Serve Suggestion
  1. Prepare a pretty sunken bowl
  2. Arrange noodles and mustard greens
  3. Sprinkle with celery and fried shallot/garlic
  4. Add the fried meatballs and tofu meatballs
  5. Pour the meatballs and broth - which had previously been boiled
  6. If you like, serve with the sweet soya sauce, boiled sauce, and tomato sauce
  7. Enjoying while hot…
We can find every kind of "bakso" (also tongcai ) at a C
hinese Store. But, if we can not find we can make it by ourself. It's easy.. just need a routine exercise and patience.. LOL.
How to make meatballs:
  • Refine many cloves of garlic, peppers, and salt
  • Minced finely about 350 gr meat with food processor (select fresh beef, free muscle and less fat)
  • Mixed refined spices and grinded beef with 50 gr tapioca flour, egg, and cool water
  • Slam the dough a few times
  • Ready some boiling water
  • Make rounded meatballs, dip in boiling water, do it until they run out
  • Boil the water again until all meatballs float, then lift all and drain

How to make fried meatballs:

  • Minced until tender about 150 gr chicken and beef
  • Add egg yolk and wheat flour
  • Add spices: nutmeg powder, pepper powder, garlic (that has been fried and mashed)
  • Add oyster sauce and salt
  • Make rounded meatballs
  • Dip the dough balls in dyeing (rice flour, water and salt)
  • Fry in hot oil until golden brown, then remove and drain.

How to make tofu meatba
lls:

  • Take some dough meatballs
  • Enter into the tofu that already cleaved
  • Steam until cooked and drain


Okay...
And below is
the picture of "Mie Bakso Kuah" that i made to remembrance a lovely Mother, like my Mum. I believe that She will proud of me... give me a smile from heaven.














November, 2010
Road to have a 2nd Christmas without Mum..