Selasa, 10 Desember 2019

Peralatan Kerja Editor


Foto oleh Daniel Friesenecker dari Pixabay
Seperti dalam bidang pekerjaan lain, bekerja sebagai editor juga memerlukan sejumlah tools 'peralatan'. Untuk melakukan penyuntingan, editor tentu tak bsa lepas dari peralatan seperti alat tulis, komputer/laptop, dan buku-buku pegangan. Namun, selain sejumlah perangkat keras yang kasat mata tersebut, seorang editor juga perlu membekali diri dengan "peralatan tempur" tak kasat mata. Apa itu? Ya, peralatan yang tidak kalah penting tersebut adalah ilmu dan keterampilan.

Tugas penyuntingan cukup beragam dan berkembang sesuai material yang disunting, tetapi pada dasarnya cukup kompleks. Oleh karena itu, seorang editor dituntut untuk melengkapi dirinya dengan berbagai macam ilmu. Salah satu di antaranya yang utama adalah ilmu kebahasaan. Contoh soal, saya diminta mengedit naskah bertema arsitektur dalam bahasa Indonesia. Sekalipun naskah tersebut sesuai dengan latar belakang pendidikan saya, tetapi mustahil saya dapat menyuntingnya dengan baik dan benar jika tidak memahami kosa kata dan tata bahasa Indonesia. Artinya, apa pun latar belakang pendidikannya, tetap saja seorang editor harus membekali diri dengan ilmu kebahasaan. Termasuk di dalamnya juga tuntutan untuk menguasai bahasa asing.

Masih terkait dengan ilmu kebahasaan adalah perlunya keterampilan menulis. Sebagai editor, mau tidak mau saya harus terus-menerus belajar untuk meningkatkan kemampuan berbahasa dan menulis. Hingga pada akhirnya mampu menghasilkan tulisan yang tidak saja sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, tetapi juga menarik minat baca. Editor dituntut pula untuk memperkaya diri dengan kosa kata, gaya bahasa, tema penulisan, dan sebagainya. Berbagai keterampilan tersebut juga perlu didukung dengan kemampuan mengolah ide/gagasan. 

Seorang editor juga dituntut memiliki keterampilan atau piawai melakukan penelusuran informasi secara langsung maupun daring (online). Pengetahuan dan keterampilan lain yang juga harus dimiliki berkaitan erat dengan seluk-beluk penerbitan sebuah naskah/buku. Sangat membantu jika editor juga menguasai ilmu dan keterampilan grafis, seperti Corel Draw, Photoshop, In-Design, dan sebagainya. sebagainya.

Jadi, pemuktahiran alat kerja seperti komputer/laptop, ponsel, dan jaringan internet adalah penting. Namun, upaya peningkatan keterampilan dan kemampuan tak kasat mata merupakan sebuah keharusan.

Depok, Desember 2019

Selasa, 29 Oktober 2019

Tiga Jurus Menulis Pentigraf

Seperti seorang pesilat tangguh, untuk menulis pentigraf (cerpen tiga paragraf) kita pun memerlukan jurus-jurus handal. Menurut saya ada tiga jurus penting yang harus dikuasai oleh penulis agar dihasilkan pentigraf yang menarik perhatian. Tidak hanya menarik untuk dibaca, tetapi juga mengesankan. Yuk, simak tiga jurus tersebut!

Jurus Pertama
Jurus pertama yang harus kita kuasai adalah menemukan ide atau bahan cerita. Bagaimana kita dapat menemukan ide? Apakah kita harus terus-menerus merenung di pinggir danau untuk mendapatkan ide? Tentu saja, tidak!

Sebenarnya, ide dapat berasal dari diri-sendiri, orang lain, ataupun makhluk hidup lain dan juga dari lingkungan sekitar. Hal-hal berikut ini dapat menerbitkan sebuah gagasan cerita:
* Pengalaman sehari-hari
* Pengalaman hidup yang istimewa
* Realitas faktual
* Segala sesuatu yang terinderai ataupun teramati
* Khayalan atau imajinasi
Mengingat sumber-sumber ide tersebut maka baiklah jika ita banyak beergaul. Dalam pergaulan kita harus banyak mendengar, peka, tekun mengamati, dan sebagainya.

Dua ekor anjing memandang keluar rumah dari jendela melepas kepergian tuannya dengan wajah sedih. Kira-kira ide cerita apa yang akan muncul dalam benak Anda jika melihat atau mengalami kejadian ini?
Oya, ada satu lagi sumber penemuan ide cerita yang tak kalah penting, yaitu buku, media, jurnal, dan berbagai produk literasi. Untuk menemukan ide dari sana, kita harus banyak membaca, tekun melakukan riset, dan tidak bosan memperbarui sumber-sumber bacaan kita.  

Jurus Kedua
Setelah mendapatkan gagasan/ide cerita, kita harus menguasai jurus "mengolah ide/bahan cerita". Perlu kita sepakati bahwa ide/bahan cerita tersebut nantinya TIDAK SEKADAR diceritakan/ditulis ulang, tetapi harus dimatangkan dan diekspresikan menjadi NARASI BARU yang berbeda dan bernilai lebih.

Dalam mengolah ide/bahan cerita kita dapat memperhatikan dua prinsip berikut!
* Ide/bahan cerita dijadikan PLOT CERITA
* Bahan cerita dari REALITA dijadikan NARASI BARU (FIKSI).

Seekor monyet tengah menenggak botol minuman saat berada di antara kawanannya. Tampak reaksi dan tatapan kawan-kawannya yang menimbulkan berbagai macam persepsi. Realita ini mungkin dapat diolah menjadi narasi baru bersifat fiksi, yaitu berupa cerita fabel.


Jurus Ketiga
Jurus penting yang ke-3 adalah kemampuan "menyusun struktur cerita".
Nah, untuk langkah penyusunan struktur cerita kita dapat berpedoman pada rumus 5W + 1 H:
* Who --> Siapa tokohnya
* What --> Apa konflik yang menarik
* When --> Kapan berlangsungnya cerita
* Where --> Di mana lokasi berlangsungnya cerita
* How --> Bagaimana resolusi konflik

Nah, setidaknya itulah 3 jurus sederhana yang harus dikuasai untuk dapat menulis pentigraf yang menarik. Yuk, kita coba praktikkan!

Salam literasi!

Depok, 27 Oktober 2019