Tampilkan postingan dengan label Feature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Feature. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Mei 2020

Bahasa Batak, Credo, dan Taizé:

Kenanganku tentang Alm. Romo Frietz R. Tambunan, Pr

Bersama Romo Frietz dalam rangkaian Konser Credo Choir di Yogyakarta (dokpri, Foto by Pakde)

Dimula ni mulana ditompa Debata ma langit dohot tano on. 

Bahasa Batak yang berarti “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” tersebut merupakan kalimat pertama pada Kitab Kejadian Bab 1 yang akan selalu membawa saya pada kenangan akan sosok Alm. Romo Frietz R. Tambunan, Pr. Mengingatnya pun selalu membuat saya tersenyum sendiri.

Suatu malam di tahun 1999 sebelum memimpin ibadat bersama kelompok Paduan Suara Credo (Credo Choir) Romo Frietz meminta saya membaca Kitab Suci. Saya langsung menyanggupi tanpa lebih dahulu bertanya perikop mana yang nantinya harus dibaca. Namun, alangkah terkejutnya saya ketika Romo Frietz menyerahkan Kitab Suci yang sudah terbuka. Kitab Suci tersebut bertuliskan bahasa Batak, saudara-saudara! Meskipun cukup syok, saya tetap membacanya sebaik mungkin. Alhasil, dalam kekhidmatan ibadat beberapa teman tampak menyunggingkan senyuman pertanda geli. Bagaimana tidak? Saya membaca Kitab Suci berbahasa Batak dengan logat Jawa yang sangat kental. Alamak!

Paduan Suara Credo yang didirikan Romo Frietz pada awal Januari 1999 ini beranggotakan kaum muda lajang dari berbagai latar belakang--mahasiswa, dosen, pegawai, dll. Sebagai pendatang baru di kota Medan, tentu saya sangat senang ketika diajak bergabung. Meskipun di Jawa saya juga turut dalam kelompok paduan suara, tetapi sebenarnya suara saya pas-pasan. Seingat saya dari 40-an anggota Credo Choir, sekitar 90%-nya menyandang marga/boru Batak yang terkenal hebat dalam bernyanyi. Selebihnya ada juga dari suku Nias, Cina, Manado, dll., termasuk saya yang orang Jawa. Jadi, walaupun terkesan ngeprank, kala itu saya menangkap bahwa maksud Romo Frietz meminta saya membacakan Kitab Suci berbahasa Batak adalah untuk membuat saya tidak merasa minder sebagai minoritas. Melalui selera humornya yang paten itu, beliau hendak mengatakan bahwa saya diterima dengan baik sekaligus mengajak saya untuk mulai mencintai lingkungan, budaya, dan komunitas baru yang akan menjadi keseharian saya. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

Meskipun tidak fasih dalam percakapan--yang paling kuhafal cuma “horas” dan “mauliate”--belakangan saya dituntut lancar menyanyikan sejumlah lagu bahasa Batak yang diajarkan dalam Credo Choir. Meskipun cenderung belepotan, tetapi saya sangat suka dengan satu lagu berirama rancak yang diajarkan. Judulnya “Marmutik Inggir-Inggir”. Marmutik inggir inggir/marparbue tada tada/ro ahu nuaeng sinuru ni halak amanta/ mangalehon sada tin tin ima tin tin namar mata... dago da ito dago da ito/ dai da go ale ito... . 

Begitulah! Karena semenjak awal Romo Frietz sudah mengajari untuk mencintai bahasa yang bukan bahasa ibu saya maka saya pun dapat menyanyi dengan setulus hati. Romo selalu mengingatkan bahwa musik tidak mengenal batas-batas etnis.

Romo yang berperawakan tinggi besar serta murah senyum ini mengajarkan beragam jenis lagu dalam kelompok Credo Choir. Selain lagu-lagu gerejawi umum atau bernuansa etnis, kami juga diajari lagu-lagu gerejawi klasik karya Friedrich Händel, Franz Schubert, Carl Boberg, Verdi, dll. yang umumnya dipelajari juga oleh kelompok paduan suara gerejawi lain. Namun, ada satu keistimewaan Credo Choir! Secara khusus Romo Frietz mengajari kami menyanyikan lagu-lagu TaizĂ©, yang kemudian bahkan menjadi semacam “trade mark” bagi paduan suara kami.

Romo Frietz bukan sekadar mengajari kami menyanyi lagu-lagu TaizĂ©, tetapi melatih bagaimana menyanyikannya dari dalam hati dengan penuh penghayatan. Seperti diketahui, lagu-lagu TaizĂ© meskipun sederhana tetapi mampu membawa umat kepada suasana meditatif yang mendalam. Dengan sabar Romo mengajari bagaimana cara menyanyikan lagu tersebut dengan pelan dan lembut tetapi mengalirkan energi yang kuat serta mampu menghadirkan suasana doa yang khidmat. Tentu tidak mudah bagi teman-teman dari etnis Batak yang biasa menyanyi dengan powerful ‘lantang’; tidak juga bagi orang Jawa seperti saya yang bukan dari golongan priyayi nan lemah lembut. Nyatanya Romo Frietz berhasil menempa kami hingga boleh dibilang Credo Choir selalu mengesankan dalam setiap penampilan! Syahdu membawakan lagu-lagu TaizĂ©, tetapi tetap gegap gempita menyanyikan Halleluja Händel.

Beberapa hari sebelum mendengar kabar berpulangnya Romo Frietz, tanpa saya sadari ada kerinduan mendalam untuk beribadat TaizĂ© seperti saat masih bersama Credo Choir. Saya menyukai semua lagu TaizĂ©. Namun, kemarin hampir tiap hari saya menyanyikan Nada te Turbe ‘Janganlah Cemas’. Saya bahkan iseng membuat video rekaman ecek-ecek. Menurut Romo, lagu ini harus dinyanyikan dengan ringan dan riang untuk mengajak orang agar tidak cemas ataupun takut karena di dalam Tuhan berlimpah rahmat. Saat membawakan lagu ini biasanya kami duduk dengan kedua tangan ditepuk-tepukkan pelan di atas paha disertai ekspresi gembira serta sedikit berayun-ayun. Kekhidmatan selalu ada dalam lantunan lagu-lagu TaizĂ©. Saya ingat betapa dalam banyak kesempatan Romo Frietz selalu mengajak kami melakukan misa atau ibadat meditatif dengan iringan lagu-lagu TaizĂ©. Saya yakin teman-teman anggota Credo Choir juga memiliki kesan mendalam seperti yang saya rasakan. Di antara banyak misa dan ibadat bersama beliau, ada satu yang sangat berkesan dan membekas dalam ingatan saya, yaitu yang kami lakukan di atas kapal kecil yang terombang-ambing di tengah Danau Toba.

Sosok Romo yang cerdas, ramah, murah hati, dan energik serta suka bercanda ini sungguh menginspirasi saya dan semestinya juga siapa pun yang pernah mengenalnya. Melalui ketekunan beliau, kami telah ditempa sekaligus disadarkan bahwa Tuhan berkenan bekerja melalui setiap pribadi, termasuk lewat suara yang mungkin bahkan tidak merdu. Dengan tekun Romo melatih hingga suara kami padu, lalu mengajak kami melayani Tuhan ke mana pun seturut kehendak-Nya. Kala itu, didukung oleh Yayasan Aku Percaya pimpinan Bapak Antonius Sujata SH, Romo Frietz juga telah membawa Credo Choir jajah deso milang kori ‘menjelajah banyak tempat’ untuk merasul dan mewartakan kasih Allah lewat beragam lagu gerejawi sekaligus mempopulerkan lagu-lagu TaizĂ©. Kala itu kami melang-lang buana ke berbagai daerah, mengadakan sejumlah konser di Medan, Samosir, Jakarta, dan Yogyakarta, bahkan sempat pula masuk dapur rekaman MMA Record dan melahirkan album (ketika itu masih berupa kaset). Kiranya Tuhan sungguh berkenan dan memberkati usaha dan perjuangan Romo Frietz menghimpun dan membina persaudaraan sekaligus menempa laskar Kristus untuk mewartakan kasih-Nya lewat suara. Hingga kini nama Credo Choir masih tetap eksis, begitupun persaudaraan di antara para anggota dan mantan anggotanya.

Sayang kemudian hari saya harus meninggalkan kota Medan dan berpisah dengan beliau juga teman-teman di Credo Choir. Bagaimanapun saya sangat bersyukur karena Tuhan pernah mempertemukan saya dengan Romo Frietz. Melalui mars Credo Choir, “Aku Percaya” yang ditulis Bapak Antonius Sujata dan diaransemen oleh Romo Frietz saya selalu diingatkan bahwa Credo “Aku Percaya” bukan sekadar pernyataan basa-basi, tetapi juga keyakinan dan kekuatan iman yang senantiasa percaya akan janji Tuhan. Oleh karenanya, saya pun mengimani dan percaya bahwa malaikat Allah telah membawa jiwa romo/guru/pembimbing/sahabat kami tercinta untuk berkumpul bersama para kudus-Nya di surga.

Selamat jalan Romo. You’ll never be forgotten, may you rest in peace.

Depok, 18 Mei 2020

Catatan:
Tulisan ini dibuat untuk mengenang 7 hari berpulangnya Dr. RD. Frietz R. Tambunan, Pr. - Rektor Unika Santo Thomas Medan; Pendiri, Pembimbing, dan Pelatih Credo Choir Medan. Tulisan ini sebelumnya saya bagikan di akun facebook saya.

Jumat, 20 Maret 2020

Saya Seorang Writerpreneur

Foto: @dwi_klarasari, Lokasi: Watt Coffe, Capitol park Residence 

Ketika mulai bekerja di sebuah penerbitan yang cenderung mengkhususkan diri pada produk buku-buku pelajaran (SD s/d SMA/SMK), saya dikenal sebagai editor--sebagaimana tugas utama saya dalam proses penerbitan buku. Hampir sepuluh tahun profesi tersebut melekat pada nama saya. Jika ditelusuri puluhan buku atau e-book yang terbit menuliskan nama saya sebagai penyunting/editor pada halaman hak cipta (copyright), padahal di balik layar sering kali saya juga harus berperan sebagai penulis bayangan (ghostwriter).

Namun, sejak memutuskan untuk bekerja mandiri pada tahun 2011, saya justru kebingungan ketika orang bertanya mengenai profesi saya. Apalagi masih ada sebagian orang yang memandang sebelah mata pekerja lepas (freelancer) seperti saya. Paling gampang saya akan menjawab bekerja di bidang penerbitan (publishing). Meskipun demikian ada juga orang yang belum dapat membedakan antara penerbit dan percetakan. Kadang-kadang saya bahkan mendapat pertanyaan seperti 'kalau cetak undangan manten berapa per lembar?' atau pertanyaan sejenis itu.

Saya juga mengalami kesulitan untuk memberikan jawaban yang memuaskan bagi mereka yang memahami seluk-beluk dunia penerbitan karena pertanyannya cenderung panjang lebar. Kalau dituliskan dalam format tanya-jawab kurang lebih seperti percakapan berikut.

Oh, kamu sekarang kerja jadi editor lepas? Memang bedanya apa dengan editor di kantor dulu? Ya, saya editor independen! Sama saja dengan di kantor penerbit. Bedanya, ya saya harus mencari dan melobi sendiri klien untuk mendapatkan sebuah proyek. Saya harus menandatangani sendiri kontrak untuk pekerjaan penyuntingan (editing). Saya dibayar untuk menyunting naskah dengan hitungan harga per kata, per halaman, per buku, atau sesuai kesepakatan dalam kontrak. Ada klien yang hanya meminta saya sekadar memperbaiki 'salah ketik'. Namun, secara umum ya saya harus turut mengoreksi kebenaran materi/sumber bacaan, penyesuaian tulisan seturut kaidah tata bahasa Indonesia, juga memastikan agar tulisan enak dibaca.

Tapi beberapa teman bilang kamu penulis! Jadi kamu itu editor atau penulis sih? Ya, saya editor yang juga penulis! Saya memperoleh imbalan untuk sejumlah artikel yang saya tulis/kirim ke koran atau majalah. Saya juga menawarkan naskah buku saya ke penerbit, yang mau membeli putus atau menerbitkan dengan sistem royalti. Sesekali saya juga membuat resensi buku baru untuk dikirimkan ke media cetak yang memberikan honor pemuatan.

Katanya penulis, kok namamu tidak tercantum pada artikel/buku yang kamu tulis? Kamu jangan mengada-ada lho ya! Memang tidak semua buku yang saya tulis terbit dengan nama saya. Kalau tidak ada nama saya, boleh jadi dalam artikel/buku tersebut saya berperan sebagai penulis bayangan (ghostwriter). Sebagai ghostwriter meskipun saya dibayar untuk menuliskan ide/gasasan orang lain atau instansi tertentu, saya tidak berhak mencantunkan nama saya. Jika perlu saya bahkan harus merahasiakan bahwa sayalah yang menulis artikel/buku tersebut.

Terus, kalau kamu pamit hendak melakukan liputan, pemotretan, dll. itu pekerjaan apa? Kamu merangkap jadi jurnalis/wartawan juga? Oh, kalau itu kebetulan saya menjadi staf redaksi lepas di sebuah majalah arsitektur. Saya bertugas menulis artikel bertema arsitektur & interior, dan kadang-kadang juga harus membuat ulasan (review) untuk rumah tinggal, apartemen, kawasan permukiman, dll. Nah, untuk menuliskan review saya boleh jadi harus mendampingi fotografer saat melakukan pemotretan. Di lokasi saya akan membantunya menata spot-spot menarik yang akan dipotret untuk ditampilkan dalam ulasan. Saya juga harus melakukan wawancara dengan pemilik rumah atau arsiteknya untuk menelusuri konsep desain, penggunaan material, dan sebagainya. Kalau hendak menulis berita tentang peluncuran produk perumahan saya pun harus mengikuti konferensi pers (press conference) untuk mendengar paparan dari pengembang (developer) dan sejumah pihak terkait. Jika kebetulan ada tokoh dalam dunia properti yang layak diangkat, saya pun harus siap untuk datang mewawancarai ybs. Kira-kira seperti itulah tugas-tugas yang harus saya lakukan sebelum membuat tulisan yang akan diterbitkan oleh majalah tersebut.

Lalu, kenapa di akun medsos kamu sok-sokan promosi mau membantu klien menerbitkan bukunya sendiri? Memangnya kamu sudah punya penerbitan? Amin semoga kelak bisa punya penerbit sendiri. Hmm... ya, anggap saja itu adalah langkah awalnya. Saya tidak menawarkan bantuan cuma-cuma. Ya namanya profesi, tentu ada imbalannya. Prinsipnya, saya membantu para penulis untuk membukukan karyanya (jurnal, kumpulan puisi/prosa, biografi/autobiografi, dsb.). Saya bekerja mulai dari membaca dan mengulas draft naskahnya, membuatkan kerangka buku (outline), dst. sampai melakukan penyuntingan, baik perombakan kalimat atau sekadar salah ketik. Pokoknya sampai naskah layak baca deh! Selanjutnya saya akan menyiapkan seorang desainer kover untuk mendesain kover dan seorang penata letak untuk me-lay out naskah sampai menjadi file buku siap cetak. Sementara itu saya juga akan mengontak penerbit (sekaligus yang memiliki percetakan) untuk mendapatkan ISBN dari Perpustakaan Nasional. Setelah ISBN terbit, saya pun akan segera memesan pencetakan sejumlah eksemplar yang diinginkan penulis dengan sistem POD (Print on Demand). Ketika buku sudah terbit, saya dengan sukarela membantu promosi/pemasarannya. Begitulah!

Saya masih nggak ngerti profesi kamu sebenarnya! Kamu mau juga diajak teman untuk memberi pelatihan menulis; ada proyek terjemahan kamu ambil juga! Kamu ini serakah, semua pekerjaan kamu terima. Harusnya kamu itu punya spesialisasi, misalnya, editor atau penulis saja!
Haruskah menjadi spesialis? Saya belum tahu! Sampai saat ini saya seorang generalis, tetapi bukan berarti saya serakah. Semua pekerjaan itu datangnya juga bergiliran sesuai kehendak Tuhan. Kalau saya mampu dan klien percaya, ya tentu akan saya terima. Itulah yang disebut rezeki. Jadi, tolong jangan sebut saya serakah. Bagaimanapun asap dapur dan jaringan internet kan tidak boleh sampai mati. Hehehe...

Atas berbagai pertanyaan di atas--yang sesekali mengandung tuduhan--saya pun selalu introspeksi diri mempertanyakan jalan profesi yang saya tempuh. Namun, saya tidak pernah menyesalinya dan tetap bertekun menapakinya.

Lebih dari itu saya merasa sangat terdukung setiap kali membaca buku berjudul Writerpreneur; Cerdas dan Cergas Berbisnis Tulisan, karangan Bambang Trimansyah. Dalam bukunya tersebut, Komporis Buku Indonesia salah satu idola saya ini, menyebut profesi yang saya lakoni itu sebagai writerpreneur. Padanan dalam bahasa Indonesia, kurang lebih adalah seseorang yang menjadikan kegiatan tulis-menulis sebagai jalan usaha (bisnis).
Buku yang meyakinkan saya di jalan aksara


Nama writerpreneur terdengar keren ya? Terus terang saya suka dengan penamaan tersebut! Walaupun begitu, menekuni profesi ini tidak mudah. Masih banyak yang harus saya pelajari untuk dapat menjadi seperti beliau dan writerpreneur hebat lain. Beruntung, saya punya mental pembelajar. Sampai sekarang saya tidak pernah bosan dan selalu bersemangat mempelajari banyak hal baru terkait writerpreneurship, baik secara autodidak maupun dari mentor-mentor terbaik.

Ada yang berminat jadi writerpreneur juga? Yuk, berbagi pengalaman! Atau, ada yang ingin menggunakan jasa saya? Terima kasih untuk tidak ragu menghubungi saya!
Salam literasi!


Depok, 20 Maret 2020


Rabu, 28 September 2016

Kasih dalam Wedang Jahe Bude


Mengunjungi Bude Parto di Yogyakarta (Foto: @widhi_three) 


Wedang jahe buatan Bude benar-benar maknyus dan ngangeni. “Ndak ada rahasia. Resepnya sama dengan orang-orang, cuma jahe sama gula merah!” tutur Bude tentang minuman tradisional buatannya. Bila lidahku atau orang lain mencecap rasa lebih nikmat, pasti karena Bude membuatnya dengan penuh kasih, sama seperti alasannya hadir dalam setiap kegiatan gereja. Hanya karena kasih Kristus.

Bude! Begitulah aku menyapanya, juga sebagian besar umat di Wilayah St. Sicilia juga Paroki St. Paulus, kota Depok. Wanita sederhana yang sebenarnya bernama Juliana ini juga akrab dipanggil Bude Parto—mengikuti nama almarhum suaminya, Suparto. Bude adalah sosok yang sangat ramah serta murah senyum. Bude juga periang dan humoris. Tak lama setelah berkenalan aku langsung saja merasa akrab seperti bertemu eyangku. Bagaimana tidak? Setiap kugoda atau mendengar leluconku, Bude selalu tergelak riang kadang bahkan turut melucu. Bercanda dengan Bude seperti bercanda dengan teman sebaya. 

Sejatinya wanita yang suka menggelung rambutnya tersebut sudah tidak muda lagi. Tahun 2011 saat aku pertama kali berkenalan, usia Bude tercatat baru 66 tahun. Padahal sebenarnya lebih tua sekitar 5-10 tahun, mungkin 72 atau bahkan 80. Di KTP ditulis lahir tahun empat lima, tapi sebenernya lahirku tahun tiga puluhan, pokok sebelum Indonesia merdeka juga sebelum Jepang datang. Demikian Bude mengisahkan perihal usianya. “Wah jadi muda banget, harusnya Bude dipanggil Tante dong,” candaku. Bude Parto yang tercatat sebagai anggota paguyuban lansia pun tertawa panjang.

Sampai tahun 2014 Bude Parto tinggal sendiri di rumah mungilnya yang bersih dan asri di daerah Kampung Lio. Meskipun hidup sederhana dan seorang diri, Bude bukan lansia yang lemah. Bude bahkan sangat energik. Kerutan di tangan dan kaki, keriput di wajahnya, juga putih rambutnya sama sekali tidak mengaburkan sorot matanya yang memancarkan semangat muda. Sakit pada bagian pinggang dan kakinya yang cukup serius tidak pernah meredupkan semangat Bude untuk berjalan kaki ke mana pun pergi, terlebih untuk kegiatan gereja. Hujan ataupun panas tidak pernah menghalangi langkahnya. Kata ‘malas’ dan ‘lelah’ sepertinya tidak ada dalam kamusnya. Padahal rumah Bude jauh dari jalur angkot. Kebetulan angkot pun hanya mengelilingi wilayah perumahan kami sehingga jalan kaki adalah satu-satunya pilihan jika tidak memiliki kendaraan. Jarak terjauh antarrumah di Wilayah St. Sicilia harus ditempuh dengan berjalan kaki selama 20-30 menit.  

Satu-satunya alasan kita ikut dalam kegiatan gereja semestinya hanya karena dan untuk Tuhan. Jangan kita melayani karena terpaksa bahkan sambil bersungut-sungut. Atau, jangan karena si A tidak datang doa di rumah kita, lalu kita pun “balas dendam” tidak mau hadir saat doa dilakukan di rumah si A. Demikian nasihat seorang prodiakon di wilayahku. Sepertinya Bude telah mengikuti nasihat itu, karena nyaris tidak pernah absen dari kegiatan di lingkungan, wilayah, dan paroki. Tidak hanya misa hari minggu, tetapi Bude juga rajin ikut ibadat/misa wilayah, renungan BKSN/APP/AAP, doa rosario sebulan penuh, novena, arisan, paguyuban lansia, latihan/tugas koor wilayah, tugas tata tertib, dan sebagainya. Di tingkat lingkungan/wilayah, tidak peduli jika umat yang ketempatan itu tidak pernah hadir di rumahnya atau bahkan tidak pernah aktif, Bude tetap saja akan hadir. Hanya satu alasan yang terlintas dalam benak Bude, yaitu ia datang untuk berkumpul dan berdoa dalam nama Yesus. Saat kami yang muda mengeluh capek sepulang kerja, atau beralasan tak ada transportasi, Bude sudah melangkahkan kaki untuk memenuhi setiap undangan. Bude hanya absen jika benar-benar tak sanggup menahan rasa sakitnya atau cuaca benar-benar sangat buruk. Namun hal ini pun jarang terjadi.

Oleh karena itu bila muncul rasa malasku untuk hadir dalam kegiatan lingkungan/wilayah karena harus berjalan jauh, suara hatiku sontak akan menegur keras mengingatkanku pada sosok Bude. Jika Bude yang sudah sepuh dan kurang prima tak pernah absen, kenapa aku yang muda dan sehat justru sedemikian malas? Saat enggan latihan/tugas koor, bayangan Bude—yang kadang menyanyi sampai terbatuk-batuk serta memegang teks dengan tangan gemetar karena usia lanjut—membuatku malu pada diri-sendiri. Saat merasa berat menjalankan tugas tata tertib, bayangan Bude yang sibuk mengumpulkan kantong kolekte dengan setengah terbungkuk dan tangan gemetar, seperti bergegas hadir menamparku.  

“Semangat dan perjuangan hidupnya patut diteladani. Pribadi Bude yang mandiri dan jarang mengeluh meski sakit membangkitkan semangat bagi pengurus dan umat lain untuk terus melayani,” tutur Alex salah satu pengurus wilayah. Lain lagi kisah Ibu Seve, ketua lingkungan di mana Bude pernah tinggal. Suatu hari saat ia berniat absen kegiatan doa karena hujan akhirnya tetap pergi juga tersebab Bude datang ke rumahnya dan mengajak berangkat. Tanpa bermaksud menggurui, Bude telah menjadi panutan dengan sendirinya. Siapa pun yang melihat betapa rajin Bude, pasti merasa sungkan jika tidak hadir dalam doa yang diadakan di rumahnya. Alhasil saat doa/renungan dilakukan di rumah Bude, bisa dibilang yang hadir cukup banyak, bahkan meskipun hujan lebat mengguyur.   

Meski hidup sederhana Bude tidak pernah malu, bahkan cenderung terbuka. Dalam kehidupan menggereja, baik di lingkungan, wilayah maupun paroki, Bude selalu siap memberi sekecil apa pun sesuai kemampuannya. Saat kegiatan doa/renungan diadakan di rumahnya, Bude yang kadang masih menjahit baju, selalu menyiapkan makanan buatan sendiri. Biasanya berupa camilan tradisional, rebusan (pisang, dll), atau bihun goreng, serta tidak ketinggalan adalah wedang jahe andalannya. Bude juga siap menyumbangkan tenaga untuk ikut memasak keperluan kembul bujana (makan bersama untuk mempererat ikatan persaudaraan penuh kasih) di hari perayaan, seperti peringatan hari pangan atau pesta nama paroki. Wedang jahe menjadi minuman favorit sekaligus ciri khas kesertaan Bude Parto. 
   
Sudah dua tahun ini Bude hijrah ke Yogya untuk menghabiskan hari tuanya dekat dengan keluarga. Namun sosok Bude yang penuh semangat masih tertinggal di hatiku dan saudara-saudara seiman di Depok. Sesekali aku suka meneleponnya dan juga berkunjung ke Yogya untuk melepas kangen—menggoda lalu mendengar tawa renyahnya yang mengandung virus semangat. Di kota Gudeg, konon Bude juga aktif di lingkungan St. Fransiskus Xaverius, Paroki St. Paulus, Pringgolayan. Tak ada yang berubah. Tidak hanya tekun dalam doa pribadi, Bude masih rajin menapaki jalan demi menghadiri kegiatan di lingkungan. Selain memberi kebahagiaan, bagi Bude kehidupan menggereja juga menjadi tanda kesetiaannya mengikut Yesus yang telah diimaninya semenjak kecil. “Lha wong ndherek Yesus itu tenang, enak ndak macem-macem, ati tentrem,” tutur wanita yang cenderung menampilkan senyuman malu-malu kucing jika mendapat pujian.      
Sosok Bude memberi teladan yang tampaknya kecil namun sungguh mengena. Dalam kesederhanaan, tanpa jabatan, tanpa pendidikan tinggi, dan tanpa banyak bicara; imannya mewujud lewat kehadiran yang tulus, penuh kasih, serta siap melayani. Bahkan wedang jahe yang dibuat Bude dengan penuh kasih menjadi pengingat akan pesan rasul Paulus: “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.”
 
Andaikan aku lakukan yang luhur mulia
Jika tanpa kasih cinta hampa tak berguna
Andaikan aku dermakan segala milikku
Tapi hanyalah cintaku sanggup membahagiakan

Semarang, 28 September 2016