Tampilkan postingan dengan label penyuntingan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penyuntingan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Juli 2020

Penulisan Kata "Maha"


Sumber: republika.co.id

Dalam sila pertama Pancasila dituliskan “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Sementara dalam Pembukaan UUD 1945, tepatnya pada alinea ke-3 tertulis “Tuhan Yang Maha Kuasa”.

Penulisan “Maha” dalam sila pertama Pancasila maupun alinea ke-3 Pembukaan UUD 1945 termasuk ke dalam pengecualian.

Lokasi: Museum Kepresidenan RI Balai Kirti, Bogor (Foto: @dwi_klarasari)
Selain pengecualian tersebut, menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) ada 2 cara penulisan "maha" sebagaimana berikut.
  1. Penulisannya dipisah jika diikuti oleh kata turunan atau kata berimbuhan; dan dipakai huruf kapital bila mengacu pada nama atau sifat Tuhan. Contoh: Maha Pengasih; Maha Pengampun; dan Maha Pemurah. 
  2. Penulisannya dirangkai jika diikuti kata dasar (kecuali 'esa') dan ditulis kapital untuk nama atau sifat Tuhan. Contoh: Tuhan Maha Esa, Mahakuasa, dan Mahakasih; mahasiswa/mahasiswi; maharupa; mahaguru; mahapatih; dan maharesi.
Untuk lebih jelas, silakan merujuk pada Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) daring pada tautan ini.

Write from the heart, edit from the head ~ Stuart Aken

Depok, 6 Juni 2020

Selasa, 10 Desember 2019

Peralatan Kerja Editor


Foto oleh Daniel Friesenecker dari Pixabay
Seperti dalam bidang pekerjaan lain, bekerja sebagai editor juga memerlukan sejumlah tools 'peralatan'. Untuk melakukan penyuntingan, editor tentu tak bsa lepas dari peralatan seperti alat tulis, komputer/laptop, dan buku-buku pegangan. Namun, selain sejumlah perangkat keras yang kasat mata tersebut, seorang editor juga perlu membekali diri dengan "peralatan tempur" tak kasat mata. Apa itu? Ya, peralatan yang tidak kalah penting tersebut adalah ilmu dan keterampilan.

Tugas penyuntingan cukup beragam dan berkembang sesuai material yang disunting, tetapi pada dasarnya cukup kompleks. Oleh karena itu, seorang editor dituntut untuk melengkapi dirinya dengan berbagai macam ilmu. Salah satu di antaranya yang utama adalah ilmu kebahasaan. Contoh soal, saya diminta mengedit naskah bertema arsitektur dalam bahasa Indonesia. Sekalipun naskah tersebut sesuai dengan latar belakang pendidikan saya, tetapi mustahil saya dapat menyuntingnya dengan baik dan benar jika tidak memahami kosa kata dan tata bahasa Indonesia. Artinya, apa pun latar belakang pendidikannya, tetap saja seorang editor harus membekali diri dengan ilmu kebahasaan. Termasuk di dalamnya juga tuntutan untuk menguasai bahasa asing.

Masih terkait dengan ilmu kebahasaan adalah perlunya keterampilan menulis. Sebagai editor, mau tidak mau saya harus terus-menerus belajar untuk meningkatkan kemampuan berbahasa dan menulis. Hingga pada akhirnya mampu menghasilkan tulisan yang tidak saja sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, tetapi juga menarik minat baca. Editor dituntut pula untuk memperkaya diri dengan kosa kata, gaya bahasa, tema penulisan, dan sebagainya. Berbagai keterampilan tersebut juga perlu didukung dengan kemampuan mengolah ide/gagasan. 

Seorang editor juga dituntut memiliki keterampilan atau piawai melakukan penelusuran informasi secara langsung maupun daring (online). Pengetahuan dan keterampilan lain yang juga harus dimiliki berkaitan erat dengan seluk-beluk penerbitan sebuah naskah/buku. Sangat membantu jika editor juga menguasai ilmu dan keterampilan grafis, seperti Corel Draw, Photoshop, In-Design, dan sebagainya. sebagainya.

Jadi, pemuktahiran alat kerja seperti komputer/laptop, ponsel, dan jaringan internet adalah penting. Namun, upaya peningkatan keterampilan dan kemampuan tak kasat mata merupakan sebuah keharusan.

Depok, Desember 2019