Senin, 21 April 2014

Bagaimana Menjadi Kreatif Ala Desainer?




Judul Buku   : Mencuri Kreativitas Desainer
Penulis         : Raul Renanda
Penerbit       : TransMedia Pustaka
Halaman      : 250
ISBN             : 9797992748
Cetakan I     : 2014

Kreatif sudah terbiasa dianggap sebuah aktivitas yang mungkin bersifat ‘desain’ atau ‘’grafis’ atau sesuatu yang ‘fun’. Yang terkadang berarti bila kita tidak bekerja atau berhubungan dengan ‘dunia kraetif’ maka wajar bila kita mengganggap bahwa kita tidak kreatif. (hlmn. 54)

Sesungguhnya ‘kreatif’ bukan hanya milik para desainer—arsitek, desainer interior, perancang busana, desainer grafis, dll.—dan bukan mereka saja yang perlu melakukan ‘kreativitas’ terkait pekerjaannya. Kreativitas pun diperlukan dalam bidang lain, misalnya oleh pemilik usaha. Pada halaman 5, penulis mencontohkan bahwa bisnis kita dapat bekerja dengan cara yang berbeda, bila kita mempunyai cara berpikir yang berbeda—cara berpikir kreatif, tentunya. Pengembangan bisnis yang inovatif juga menuntut kreativitas. Kreativitas diperlukan pula oleh pimpinan ataupun pegawai serta profesional yang bekerja dalam suatu sistem baku. Bahkan, kreativitas berguna untuk pengembangan diri sehingga membuat hidup menjadi lebih berkualitas. Design-your-life. Artinya bahwa kehidupan dan aktivitas kita sehari-hari dapat kita ‘desain’ sehingga kita dapat menjadi pribadi yang unik (hlmn. 195).       

Dan siapa pun bisa menjadi kreatif seperti para penghuni ‘dunia kreatif’ yang umumnya telah melewati pendidikan tertentu. Sembari menyitir quote milik Pablo Picasso "Every child is an artist. The problem is how to remain an artist once he grows up." (hlmn. 27) penulis menyebut bahwa setiap orang terlahir kreatif. Apabila selama ini seseorang merasa diri tidak kreatif atau sudah berusaha menjadi kreatif namun tetap dianggap kurang kreatif, mungkin karena talenta kreatif bawaan perlahan terkikis akibat pendidikan, situasi, kondisi, ataupun tuntutan lingkungan.

Namun tak perlu berkecil hati, karena lewat buku Mencuri Kreativitas Desainer ini, penulis mengajak pembaca “mencuri” ilmu para desainer agar bisa menjadi kreatif dan membuahkan kreativitas. Penulis membocorkan apa saja yang ada dalam benak desainer atau bagaimana pola pikir mereka hingga mampu menghasilkan jawaban kreatif untuk setiap persoalan/penugasan.

Orang yang berprofesi sebagai desainer, setiap hari dituntut oleh para kliennya agar dapat membantu menciptakan benda fungsional yang unik. Mereka harus berpikir dengan cara berbeda dari kliennya, agar dapat memberi masukan yang kreatif. (hlmn. 9). Secara terbuka Raul Renanda, sang penulis yang arsitek sekaligus desainer interior serta konsultan ‘Creative New Business Development’ ini, mengajak pembaca khususnya yang non-desainer untuk berpikir seperti seorang desainer. Bahwa dalam memecahkan persoalan atau melaksanakan tugas, desainer melewati design thinking process, yaitu proses mempertanyakan berbagai hal sehingga didapat solusi yang lebih kreatif. Berbeda dengan cara berpikir konvensional. Dan lewat buku ini penulis berbagi mengenai ‘Design Thinking’.            

’Design Thinking’ bukan sekadar pemikiran namun terkait erat dengan hasil nyata. Untuk memudahkan pemahaman proses design thinking, penulis memperkenalkan metode ‘4 Design Actions!’: Conception, Act Now, Smart Mistakes, Re-discover (hlmn. 105161). 
1.      Desainer memulai setiap pekerjaan dengan konsepsi (conception). Desain kreatif biasanya memiliki ide dan konsep yang baik yang muncul dari proses relatif panjang: penemuan makna penugasan (discover); memerhatikan/mendalami sebab-akibat, berbagai dampak, dll. (care); dan melakukan pendekatan alternatif dengan melihat dari sisi berbeda (alternate). Proses konsepsi menjadi nyawa dari 4 Design Actions.
                                             
2.      Konsep yang baik harus berlanjut dengan perwujudan/tindakan (act now). Tindakan harus dibarengi penajaman konsep untuk pelaksanaannya—bisa atau tidak, mana elemen yang harus diutamakan mana yang tambahan, dsb.

3.      Tindakan dengan target hasil sempurna juga harus dibarengi kepintaran menyiapkan diri akan risiko terjadinya kesalahan namun di bawah kontrol (smart mistakes). Siap pula dengan metode untuk menganalisis kesalahan untuk memperbaiki proses tindakan secepat mungkin.    

4.      Evaluasi dengan mempertanyakan lebih dalam lagi apa yang telah dihasilkan (re-discover) perlu dilakukan untuk mematangkan persiapan jawaban/produk yang lebih baru lagi yang lebih inovatif.

Tak hanya berteori, penulis juga memberikan contoh bagaimana 4 Design Actions diaplikasikan. Halaman 172203 memuat inspirasi untuk para business owner (produk, pemasaran, dan pelayanan) juga untuk pengembangan diri. Penulis juga menyajikan beberapa karyanya (bangunan, interior, produk) sebagai contoh. Dijabarkan satu per satu apa penugasan yang (dahulu) diterima, lalu bagaimana konsep berpikirnya hingga dihasilkan suatu jawaban (desain) yang unik dan menarik sekaligus fungsional.

Memang bukan hal mudah untuk mengubah kebiasaan berpikir dan bertindak mengikuti sistem menjadi berpikir dan bertindak kreatif ala desainer. Namun, semua bisa dipelajari dan dilatih, demikian sinyal dari penulis. Buku ini mengangkat teknik cara berpikir, aplikasi dan contoh kasus yang saya harap dengan pelatihan yang baik, dapat kita terapkan dengan baik. Dan terlebih lagi, saya percaya, bangsa Indonesia justru telah terlahir, KREATIF. (hlmn. 77)


Depok, 15 Maret 2014

Catatan:
Resensi yang saya tulis ini telah dimuat di majalah Rumahku Edisi Cetak bulan April 2014