Minggu, 21 Oktober 2018

Pernahkah Kamu Rindu Berbahasa Daerah?


Foto @dwi_klarasari
Sebelum saya beropini, mari baca lebih dahulu kisah lucu berdasarkan pengalaman seorang teman—sebut saja Cantik, dalam artikel "Dalam Bahasa Jawa, Mlayu Artinya Lari"!

Ketika mendengar kisah tersebut, kami teman-teman sekantor Cantik tertawa terpingkal-pingkal membayangkan si cantik nan elegan harus berlari-lari. Semua itu terjadi karena bahasa Jawa yang menjadi bahasa sehari-hari di kampung halamannya masih sangat menguasai pikiran Cantik. Maklum waktu itu Cantik pendatang baru di Jakarta.

Namun, lama sesudah kejadian lucu tersebut, bahasa Jawa tetap akrab dengan keseharian Cantik. Bahkan setelah bertahun-tahun tinggal di Jakarta, Cantik masih suka mengobrol dengan bahasa daerah bila bertemu keluarga/saudara/teman sesuku, termasuk saya. Kami dan beberapa teman yang kebetulan berasal dari keluarga Jawa, merasa lebih akrab bila mengobrol dengan bahasa daerah (bahasa Jawa). Di mana pun bertemu, bahkan di dalam angkot sekali pun, kami tak segan saling menyapa, bercanda dan mengobrol dalam bahasa Jawa. Tentu saja menjadi pengecualian saat kami harus berbicara dalam rapat atau forum resmi lain di lingkungan kerja.

Saya senang memiliki teman-teman seperti Cantik. Dalam keseharian di Jakarta yang cenderung harus selalu berbahasa Indonesia, rasanya bahagia bila sesekali bisa mengobrol dalam bahasa daerah. Bagaimanapun tinggal di metropolitan yang multietnis ini, menggunakan bahasa Indonesia adalah yang paling pas. Banyak orang yang saya temui dalam urusan pekerjaan atau relasi di komunitas/masyarakat datang dari berbagai daerah di Indonesia-Aceh, Batak, Karo, Minang, Sunda, Jawa, Madura, Bali, Flores, Makassar, Papua, dan sebagainya.

Sudah lama Cantik kembali ke Yogya, dan saya juga terpisah dengan teman-teman dekat yang suka banget berbahasa Jawa. Meskipun di lingkungan masyarakat ada orang-orang sesuku atau sedaerah, tetapi mereka jarang mau berbahasa Jawa. Adakalanya mencuat kerinduan untuk berbahasa daerah. Jadi, kalau tiba-tiba bertemu dengan teman-teman yang 'orang Jawa', refleks saya akan mengajaknya berbahasa Jawa. Ketika berkenalan dengan seseorang, dan setelah lama mengobrol mengetahui bahwa ybs. adalah orang Jawa, saya pun sering berusaha mengajak berbahasa Jawa.

Namun, tidak semua orang Jawa yang sudah "menjadi" penduduk Jakarta mau serta merta berbahasa Jawa. Terlebih lagi bila berada di tempat umum, seperti angkot atau mal. Bukan berprasangka, tetapi pada beberapa orang saya merasakan ada "gengsi" menyelimuti. Ada juga yang terkesan "tidak suka". Mungkin bagi mereka saya terkesan sok akrab.

Ada beragam reaksi saat saya mengajak bicara dengan bahasa Jawa. Ada yang menjawab dalam bahasa Jawa, tetapi dengan suara pelan. Ada juga yang cuek dan tetap menjawab dalam bahasa Indonesia. Uniknya, ada teman yang saya kenal di kampung eyang saya, meskipun berkali-kali saya bertanya dalam bahasa Jawa tetap saja dijawabnya dengan bahasa Indonesia. Lebih parah lagi bila sama-sama orang Jawa yang merantau di Jakarta, ketika bertemu di kampung halaman sama sekali tak mau berbahasa Jawa.

Kadang kala tebersit rasa iri bila mendengar orang-orang dari suku lain dengan asyiknya mengobrol dalam bahasa daerah meskipun mereka ada di ruang publik. Namun, saya bersyukur karena masih memiliki teman-teman seperti Cantik, Indah, Manis, Elok, Ayu, dll. yang mau dan suka diajak mengobrol dalam bahasa daerah di sela-sela penggunaan bahasa Indonesia.

Saya sangat maklum dan menghormati bila beberapa orang tidak berkenan berbahasa daerah saat berada di ruang publik ibu kota. Meskipun demikian, saya yang bukan siapa-siapa ini, sering kali berharap mereka masih mau menggunakan bahasa daerah di lingkungan keluarga, masyarakat sedaerah, komunitas sesuku, dan sebagainya. Bagaimanapun bahasa daerah adalah bagian dari identitas dan warisan budaya kita.

Www.ethnologue.com mencatat di wilayah Indonesia ada lebih dari 700 bahasa daerah atau bahasa ibu (mother language). Menurut para ahli, ratusan bahasa tersebut berpotensi punah bila tidak ada lagi masyarakat yang menggunakan. Sebenarnya tak sedikit orang asing tertarik dan mencintai berbagai bahasa daerah di Nusantara. Namun, sebagai penutur asli semestinya kita bertanggung jawab menyelamatkan bahasa kita sendiri dari kepunahan.

Pernahkah kamu rindu berbahasa daerah? Yuk, kita rayakan Bulan Bahasa dan Sastra dengan berbahasa daerah! Bangga berbahasa daerah; tak lupa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar; dan terus berupaya menguasai bahasa asing sebagai bekal di kancah internasional.

Masak bakmi lengane jelantah/Ojo gengsi nganggo basa daerah.

Medio Oktober 2018


Artikel ini juga ada di blog kompasiana saya di link ini  

Kamis, 18 Oktober 2018

Menjelajah Hutan di Pesisir Jakarta

Sebagian areal hutan mangrove di pesisir Jakarta Utara (dokpri).
Sebagian areal hutan mangrove di pesisir Jakarta Utara (dokpri).

Ketenaran hutan beton rupanya telah menenggelamkan keberadaan hutan sungguhan yang tersebar di beberapa titik di Jakarta. Ternyata, sedikitnya ada 6-8 lokasi di metropolitan yang layak disebut hutan; dan satu yang sangat ikonik adalah hutan bakau (hutan mangrove). Bayangkan! Indonesia memiliki hutan mangrove terluas di dunia (sekitar 23%); ternyata ada 'sepotong' kecil terhampar di Jakarta. Konon, ada tiga kawasan hutan bakau yang letaknya saling berdekatan di pesisir Jakarta Utara, tepatnya di Kelurahan Penjaringan.

Salah satu hutan bakau yang populer sebagai tujuan wisata adalah Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk. Hutan wisata yang dikelola swasta ini berlokasi di Kompleks Perumahan Pantai Indah Kapuk 2 (PIK 2).

Beberapa waktu yang lalu, oleh ajakan CLICKompasiana, saya berkesempatan mengunjungi tempat wisata alam yang eksotik ini. Cuaca yang super panas tidak menyurutkan langkah untuk menjelajah rimbunnya hutan yang jauh dari hiruk pikuk ibukota. Yuk, simak informasinya berikut ini!

Bagaimana Mencapai TWA Angke Kapuk?
Untuk mencapai TWA Angke Kapuk, selain dengan kendaraan pribadi, taksi, atau ojek-yang sekali jalan langsung sampai-kita dapat menggunakan transportasi umum. Ya, memang harus sambung-menyambung dan perlu waktu lebih lama, tetapi relatif mudah serta terjangkau. Contohnya seperti yang kami lakukan, yaitu menggabungkan moda transportasi KRL Commuter Line, Transjakarta, dan angkutan kota.

Dari titik temu di Stasiun Jakarta Kota, kami berjalan kaki melewati terowongan menuju halte bus Transjakarta Jakarta Kota yang berada di seberang Museum Bank Mandiri. Alih-alih naik bus BKTB (Bus Kota Terintegrasi Busway) jurusan PIK, kami keliru naik Transjakarta jurusan Pluit (koridor 12). Namun tak jadi soal karena kami bisa turun di Penjaringan dan melanjutkan dengan moda angkot bernomor B01 (warna merah). Jika mengikuti rute angkot, kami masih harus berjalan kaki ke lokasi. Beruntunglah, sopir angkot berbaik hati mengantar kami sampai di depan gerbang TWA Angke Kapuk yang berseberangan dengan gerbang Kompleks Tzu Chi School.  

Pintu masuk utama TWA Angke Kapuk berseberangan dengan Kompleks Tzu Chi School (Dokpri.)
Pintu masuk utama TWA Angke Kapuk berseberangan dengan Kompleks Tzu Chi School (Dokpri.)
Sebenarnya TWA Angke Kapuk sudah dibuka mulai pukul 7 pagi. Meskipun demikian, tak perlu ragu untuk datang agak siang seperti yang kami lakukan.

Semilir angin laut serta kawasan hutan yang rindang membuat acara jalan-jalan tetap terasa nyaman meskipun matahari menyengat. Lagipula kawasan ini baru ditutup pukul 17.30 WIB. Jadi, akan ada cukup waktu untuk menjelajah setiap sudut hutan.

Tiket Masuk dan Aturan Lain
Harga tiket masuk kawasan TWA Angke Kapuk berbeda untuk hari biasa dan akhir pekan; berbeda antara pengunjung dewasa dan anak-anak; dan berbeda pula untuk wisatawan lokal dan turis asing. Kendaraan pun dikenakan biaya parkir tersendiri. Saat kami berkunjung Harga Tiket Masuk (HTM) yang tercantum pada kaca loket Pos Jaga 1 konon adalah yang terbaru.

Harga Tiket Masuk saat kedatangan kami, September 2018 (Dokpri).
Harga Tiket Masuk saat kedatangan kami, September 2018 (Dokpri).

Karena tidak berencana melakukan pemotretan khusus, kami hanya membawa ponsel berkamera untuk mengabadikan acara jalan-jalan di TWA. Sebagai informasi, semua jenis kamera (LSR, kamera saku, dan perekam) harus dititipkan kepada petugas.

Pengunjung boleh menggunakannya jika sudah mengantongi izin atau membayar biaya khusus. Apabila tertangkap menggunakannya tanpa izin, pengunjung akan dikenai denda sebesar Rp1.500.000,00. Wow!

Selain tiket masuk dan aturan penggunaan kamera, ada beberapa larangan yang perlu diketahui bila Anda ingin berkunjung ke taman wisata ini. Di antaranya, larangan membawa hewan piaraan; larangan memberi makan satwa liar, terutama monyet; dan larangan memancing di perairan yang ada di kawasan hutan ini.
 
Sebelum Penjelajahan
Pemandangan serta suasana hutan bakau yang khas sudah sangat terasa sejak dari pintu masuk. Tepat setelah melewati gerbang pengunjung akan bertemu dengan Masjid Al Hikmah yang relatif besar, berada tepat di kiri jalan utama di antara rimbunnya pohon bakau. Adanya sarana ibadah ini membuat pengunjung Muslim tak perlu khawatir bila berada di lokasi bertepatan dengan waktu-waktu sholat, termasuk ibadah Sholat Jum'at.

Masjid Al Hikmah dekat pintu masuk TWA Angke Kapuk (Dokpri).
Masjid Al Hikmah dekat pintu masuk TWA Angke Kapuk (Dokpri).
Beranjak dari masjid, pengunjung bisa menapaki jalan utama di antara tanah rawa yang ditumbuhi aneka spesies hutan bakau. Setelah melintasi area parkir yang cukup luas, pengunjung akan tiba di Pos Jaga 2 di mana tiket akan diperiksa. Lolos dari pemeriksaan, pengunjung dapat melanjutkan perjalanan sesuka hati, sesuai penunjuk arah. Ada papan panduan cukup besar di samping Pos Jaga 2.
Bila mau, sebelum melakukan penjelajahan, pengunjung dapat mengisi perut lebih dahulu. Tak jauh dari Pos Jaga 2 terdapat kantin lengkap dengan area makan terbuka dan beberapa gazebo yang cukup representatif.

Di sini pengunjung dapat sekadar menikmati es kelapa muda atau memesan makanan berat. Oya, sebaiknya berhati-hati bila makan-minum di area terbuka, karena dari antara celah-celah pohon bakau bisa tiba-tiba muncul monyet liar yang serta-merta merebut makanan kita-seperti yang sempat kami alami. Tak heran, jika ada larangan memberi makan satwa liar.

Area makan terbuka. Waspadai keberadaan monyet-monyet liar (Dokpri.)
Area makan terbuka. Waspadai keberadaan monyet-monyet liar (Dokpri.)


Ragam Aktivitas di TWA Angke Kapuk
Dari kantin dan area makan, jalan utama mulai memiliki banyak cabang. Ada yang mengarah ke area bermain anak; lapangan terbuka dengan spot-spot menarik; aula dan pondok penginapan; petak-petak hutan mangrove; dan sebagainya. Dari sini, mulai banyak spot menarik yang dapat diabadikan.

Tak perlu takut tersesat di hutan mangrove (Dokpri.)
Tak perlu takut tersesat di hutan mangrove (Dokpri.)


TWA Angke Kapuk seluas hampir 100 hektar ini, ditata sedemikian rupa serta dilengkapi berbagai sarana-prasarana yang cukup mendukung. Setidaknya ada empat kelompok aktivitas wisata yang diwadahi TWA, yaitu wisata hutan, wisata air, penginapan, dan konservasi.

Wisata Hutan
Kita dapat menjelajah kerimbunan hutan mangrove melewati "jalan setapak" yang disediakan. Jalan utama terbuat dari kombinasi tanah dengan perkerasan conblock. Sementara, jalan di sela-sela hutan mangrove terbuat dari bilah-bilah bambu yang disusun sedemikian rupa hingga dijamin aman. Namun, pastikan Anda memakai alas kaki yang aman dan nyaman. Sebaiknya gunakan sepatu beralas datar dan hindari sepatu berhak tinggi.

Sebagian jalur penjelajahan hutan mangrove (Dokpri)
Sebagian jalur penjelajahan hutan mangrove (Dokpri)

Di kawasan hutan mangrove kita pun dapat berkemah, melakukan out bound, berburu objek fotografi atau spot untuk berswafoto, bahkan melakukan penelitian. 

Ada berbagai sarana prasarana yang cukup mendukung. Untuk kegiatan berkemah dan out bond, tersedia tanah lapang yang cukup luas dengan aneka kelengkapan pendukung. Di sekelilingnya juga terdapat aula semiterbuka, gazebo, bale bengong, dan tempat-tempat nyaman untuk beraktivitas.

Para pehobi fotografi dapat berburu objek dan spot foto menarik, seperti jembatan gantung, dermaga, jalan setapak, dan sebagainya. Kawasan ini juga cocok untuk lokasi pembuatan foto pre-wedding berkonsep outdoor. Oya, ada juga menara pandang untuk mengintai objek burung atau mengabadikan hutan mangrove dari ketinggian.

dokumentasi pribadi
Berbagai fasilitas penunjang di TWA Angke Kapuk (Dokpri.)

Berbagai fasilitas penunjang di TWA Angke Kapuk (Dokpri.)
Berbagai fasilitas penunjang di TWA Angke Kapuk (Dokpri.)

Bagi yang ingin melakukan penelitian habitat hutan bakau, tersedia papan informasi tentang berbagai spesies hutan. Sebagai informasi, ekosistem hutan  di daerah pasang-surut laut ini termasuk salah satu yang sangat khas. Selain bakau, hanya sedikit jenis  tumbuhan yang dapat beradaptasi dan bertahan hidup di tanah dan air dengan kadar garam tinggi. Di dalam kawasan juga terdapat kandang satwa, pembibitan tanaman, dan sebagainya.

Dokumen pribadi
Banyak hal dapat dipelajari dari ekosistem hutan bakau yang sangat khas (Dokpri.)

Banyak hal dapat dipelajari dari ekosistem hutan bakau yang sangat khas (Dokpri.)
Banyak hal dapat dipelajari dari ekosistem hutan bakau yang sangat khas (Dokpri.)

Wisata Air
Wisata air dapat menjadi alternatif, jika pengunjung bosan berjalan kaki. Di TWA Angke Kapuk tersedia perahu motor (boat) maupun perahu dayung. Untuk sekali jalan mengelilingi areal hutan mangrove, boat berkapasitas 6 orang dapat disewa dengan harga 350 ribu, sedangkan untuk kapasitas 8 orang berharga 450 ribu. Sementara perahu dayung ataupun kano/kayak harga sewanya 100 ribu.

Sarana wisata air untuk mengelilingi areal hutan mangrove (Dokpri.)
Sarana wisata air untuk mengelilingi areal hutan mangrove (Dokpri.)

Penginapan
Jika ingin tinggal lebih lama di kawasan hutan mangrove ini, pengunjung bisa menyewa pondok kemah. Pondok kemah berkapasitas 2-3 orang ini dibangun berjajar-jajar di sela-sela hutan mangrove. Tersedia pula vila berukuran lebih besar yang berada di bagian tengah kawasan berdekatan dengan fasilitas seperti aula, area out bound, area bermain anak, dan sebagainya.

Dokumen pribadi
Sebagian pondok kemah dan vila yang dapat disewa (Dokpri.)

Sebagian pondok kemah dan vila yang dapat disewa (Dokpri.)
Sebagian pondok kemah dan vila yang dapat disewa (Dokpri.)
 
Konservasi
Di TWA Angke Kapuk ini tersedia pula area yang disiapkan bagi siapa pun yang ingin berpartisipasi dalam kegiatan konservasi. Pengelola menyiapkan bibit bakau berikut sarana penanaman dan area khusus untuk ditanami. Kami menemukan jejak para partisipan konservasi melalui papan penanda yang ditancapkan. Kebanyakan dari instansi sekolah/perguruan tinggi, korporat, dan komunitas; meskipun ada juga yang berasal dari individu.

Bibit bakau dan sebagian yang telah ditanam dalam kegiatan konservasi oleh instansi pendidikan, korporat, komunitas, maupuan individu (Dokpri.)
Bibit bakau dan sebagian yang telah ditanam dalam kegiatan konservasi oleh instansi pendidikan, korporat, komunitas, maupuan individu (Dokpri.)


Nah, bagi Anda di Jakarta yang merindukan tempat liburan alternatif yang berbeda dan jauh dari hiruk-pikuk, TWA Angke Kapuk bisa menjadi salah satu pilihan.

Di kawasan dengan suasana alami ini, Anda bisa menghirup udara segar; memanjakan mata dengan nuansa hijau; memotret objek-objek natural atau berswafoto sekaligus melenturkan otot-otot kaki.

Di sini Anda juga dapat belajar atau melakukan penelitian tentang karakteristik serta pentingnya hutan mangrove bagi kehidupan. Wisata hutan mangrove dapat dilakukan secara perorangan maupun kelompok. Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, segera jelajahi sepotong hutan di pesisir Jakarta ini!


Pantai Indah Kapuk, September 2018

Tulisan ini juga dapat ditemukan di akun Kompasiana saya di link ini