Tampilkan postingan dengan label Jurnal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jurnal. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Mei 2020

APD-ku Menuai Hoaks

Foto @dwi_klarasari
Kira-kira dua minggu yang lalu, aku menelepon tetangga yang belum lama kembali dari rumah sakit. Dengan gembira si ibu yang biasa kusapa Simbah itu mengabarkan kondisinya yang sudah membaik. Selain mengucapkan terima kasih, dengan sedih Simbah juga bercerita bahwa beliau diminta oleh RT untuk menyerahkan surat dari RS yang menjelaskan sakitnya sekaligus untuk membuktikan bahwa ia tidak terkena covid-19. Kuhibur Simbah, kukatakan untuk tidak sedih dan tersinggung karena dalam situasi sekarang kita semua memang harus terbuka dan jujur demi keselamatan bersama. Simbah itu pun akhirnya legowo.

Seminggu kemudian, sepulang dari bank aku mampir ke rumah ibu pengurus RT untuk menyerahkan uang arisan dan iuran. Kebetulan aku masih ber-“APD” lengkap—topi rajut, masker, dan outer berlengan panjang—dan tak ketinggalan kacamata yang setia menemaniku. Sambil menandatangani sebuah formulir aku berbasa-basi mengeluhkan situasi jalanan yang tetap ramai meskipun diberlakukan PSBB. Tak lupa kuingatkan si ibu untuk tidak lupa cuci tangan setelah memegang uang.

Kostum bepergian dengan “Alat Perlindungan Diri” yang cukup rapat rupanya membuat seorang ibu lain yang juga berada di sana tidak mengenaliku. Ibu pengurus RT pun kontan tertawa dan nyelutuk, “Iya lho! Malam itu waktu antar Simbah, Mbak Dwi itu dikira petugas rumah sakit yang datang menjemput pasien covid!” Rasa terkejutku berubah menjadi senyuman membayangkan diriku sempat menjadi “trending topic”... hehe. Ibu pengurus RT pun menjelaskan supaya tidak terjadi prasangka maka Simbah pun dimintai surat keterangan dari rumah sakit. Penjelasan itu membuat kami tertawa mafhum. 

Ceritanya, malam itu cucu Simbah menghubungiku dan menyampaikan bahwa Simbah muntah darah dan harus dibawa ke rumah sakit. Di masa pandemi ini sebenarnya ada rasa takut bila harus ke rumah sakit, tetapi tidak ada pilihan. Aku harus membantu mereka. Karena kupikir akan repot jika harus pesan taksi maka kutelepon Ibu RT untuk membantu kami meminjamkan ambulance milik Masjid RW. Singkat cerita ambulance pun datang dan menunggu di ujung gang. Diiringi gerimis, Bu RT dan beberapa tetangga mengantar kami—aku, simbah, dan cucunya—sampai ke ambulance. Bu RT meminta maaf karena tidak bisa menemani.

Malam itu aku mengantar Simbah dengan pakaian dan “APD” seperti biasa. Jangankan hendak mengantar orang ke rumah sakit, hanya berbelanja ke pasar saja aku ber-“APD” lengkap. Namun, karena terburu-buru, aku asal ambil saja baju teratas yang ada di tumpukan. Tanpa kusadari yang kuambil adalah celana berwarna krem cerah, kaus putih, dan hoodie atau jaket bertudung yang juga berwarna putih. Entah bagaimana pula masker, tas kain, dan sepatu yang kupilih pun berwarna putih. 

Alhasil, semua yang kukenakan malam itu—dari ujung kepala hingga ujung kaki—didominasi oleh warna putih, mirip petugas RS. Boleh jadi ada yang melihat dari kejauhan lalu menebar info seperti ini: ada seorang ber-APD lengkap keluar dari Gang 8 seraya memapah seseorang masuk ke dalam ambulance. Bagaimanapun kedatangan ambulance serta petugas medis ber-APD putih identik dengan penjemputan orang yang diduga positif covid-19. Mungkin, ya mungkin saja seperti itulah hoaks mulai terbangun. Oh my God!

Di masa pandemi ini, situasi memang sangat sensitif. Sedikit banyak menyerupai masa-masa menjelang pilpres atau pilkada. Setiap tampilan dan gerakan bahkan bisa memiliki lebih dari satu persepsi, tergantung siapa yang melihat dan menilai. Namun, kita jangan menjadi apatis! Teruslah saling bersimpati dan menolong. Cukup pastikan untuk tetap waspada dan lindungi diri masing-masing. Selalu kenakan ‘Alat Perlindungan Diri’ karena baik diri kita maupun orang lain sama-sama berpotensi menjadi pembawa virus yang tak kasat mata bernama corona. Jangan lupa saling berbagi semangat, alih-alih menyebarkan hoaks. Yuk, bersama kita lawan covid-19!

Depok, 23 Mei 2019


#stayathome #staysafe #stayhealthy

Senin, 18 Mei 2020

Bahasa Batak, Credo, dan Taizé:

Kenanganku tentang Alm. Romo Frietz R. Tambunan, Pr

Bersama Romo Frietz dalam rangkaian Konser Credo Choir di Yogyakarta (dokpri, Foto by Pakde)

Dimula ni mulana ditompa Debata ma langit dohot tano on. 

Bahasa Batak yang berarti “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” tersebut merupakan kalimat pertama pada Kitab Kejadian Bab 1 yang akan selalu membawa saya pada kenangan akan sosok Alm. Romo Frietz R. Tambunan, Pr. Mengingatnya pun selalu membuat saya tersenyum sendiri.

Suatu malam di tahun 1999 sebelum memimpin ibadat bersama kelompok Paduan Suara Credo (Credo Choir) Romo Frietz meminta saya membaca Kitab Suci. Saya langsung menyanggupi tanpa lebih dahulu bertanya perikop mana yang nantinya harus dibaca. Namun, alangkah terkejutnya saya ketika Romo Frietz menyerahkan Kitab Suci yang sudah terbuka. Kitab Suci tersebut bertuliskan bahasa Batak, saudara-saudara! Meskipun cukup syok, saya tetap membacanya sebaik mungkin. Alhasil, dalam kekhidmatan ibadat beberapa teman tampak menyunggingkan senyuman pertanda geli. Bagaimana tidak? Saya membaca Kitab Suci berbahasa Batak dengan logat Jawa yang sangat kental. Alamak!

Paduan Suara Credo yang didirikan Romo Frietz pada awal Januari 1999 ini beranggotakan kaum muda lajang dari berbagai latar belakang--mahasiswa, dosen, pegawai, dll. Sebagai pendatang baru di kota Medan, tentu saya sangat senang ketika diajak bergabung. Meskipun di Jawa saya juga turut dalam kelompok paduan suara, tetapi sebenarnya suara saya pas-pasan. Seingat saya dari 40-an anggota Credo Choir, sekitar 90%-nya menyandang marga/boru Batak yang terkenal hebat dalam bernyanyi. Selebihnya ada juga dari suku Nias, Cina, Manado, dll., termasuk saya yang orang Jawa. Jadi, walaupun terkesan ngeprank, kala itu saya menangkap bahwa maksud Romo Frietz meminta saya membacakan Kitab Suci berbahasa Batak adalah untuk membuat saya tidak merasa minder sebagai minoritas. Melalui selera humornya yang paten itu, beliau hendak mengatakan bahwa saya diterima dengan baik sekaligus mengajak saya untuk mulai mencintai lingkungan, budaya, dan komunitas baru yang akan menjadi keseharian saya. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

Meskipun tidak fasih dalam percakapan--yang paling kuhafal cuma “horas” dan “mauliate”--belakangan saya dituntut lancar menyanyikan sejumlah lagu bahasa Batak yang diajarkan dalam Credo Choir. Meskipun cenderung belepotan, tetapi saya sangat suka dengan satu lagu berirama rancak yang diajarkan. Judulnya “Marmutik Inggir-Inggir”. Marmutik inggir inggir/marparbue tada tada/ro ahu nuaeng sinuru ni halak amanta/ mangalehon sada tin tin ima tin tin namar mata... dago da ito dago da ito/ dai da go ale ito... . 

Begitulah! Karena semenjak awal Romo Frietz sudah mengajari untuk mencintai bahasa yang bukan bahasa ibu saya maka saya pun dapat menyanyi dengan setulus hati. Romo selalu mengingatkan bahwa musik tidak mengenal batas-batas etnis.

Romo yang berperawakan tinggi besar serta murah senyum ini mengajarkan beragam jenis lagu dalam kelompok Credo Choir. Selain lagu-lagu gerejawi umum atau bernuansa etnis, kami juga diajari lagu-lagu gerejawi klasik karya Friedrich Händel, Franz Schubert, Carl Boberg, Verdi, dll. yang umumnya dipelajari juga oleh kelompok paduan suara gerejawi lain. Namun, ada satu keistimewaan Credo Choir! Secara khusus Romo Frietz mengajari kami menyanyikan lagu-lagu Taizé, yang kemudian bahkan menjadi semacam “trade mark” bagi paduan suara kami.

Romo Frietz bukan sekadar mengajari kami menyanyi lagu-lagu Taizé, tetapi melatih bagaimana menyanyikannya dari dalam hati dengan penuh penghayatan. Seperti diketahui, lagu-lagu Taizé meskipun sederhana tetapi mampu membawa umat kepada suasana meditatif yang mendalam. Dengan sabar Romo mengajari bagaimana cara menyanyikan lagu tersebut dengan pelan dan lembut tetapi mengalirkan energi yang kuat serta mampu menghadirkan suasana doa yang khidmat. Tentu tidak mudah bagi teman-teman dari etnis Batak yang biasa menyanyi dengan powerful ‘lantang’; tidak juga bagi orang Jawa seperti saya yang bukan dari golongan priyayi nan lemah lembut. Nyatanya Romo Frietz berhasil menempa kami hingga boleh dibilang Credo Choir selalu mengesankan dalam setiap penampilan! Syahdu membawakan lagu-lagu Taizé, tetapi tetap gegap gempita menyanyikan Halleluja Händel.

Beberapa hari sebelum mendengar kabar berpulangnya Romo Frietz, tanpa saya sadari ada kerinduan mendalam untuk beribadat Taizé seperti saat masih bersama Credo Choir. Saya menyukai semua lagu Taizé. Namun, kemarin hampir tiap hari saya menyanyikan Nada te Turbe ‘Janganlah Cemas’. Saya bahkan iseng membuat video rekaman ecek-ecek. Menurut Romo, lagu ini harus dinyanyikan dengan ringan dan riang untuk mengajak orang agar tidak cemas ataupun takut karena di dalam Tuhan berlimpah rahmat. Saat membawakan lagu ini biasanya kami duduk dengan kedua tangan ditepuk-tepukkan pelan di atas paha disertai ekspresi gembira serta sedikit berayun-ayun. Kekhidmatan selalu ada dalam lantunan lagu-lagu Taizé. Saya ingat betapa dalam banyak kesempatan Romo Frietz selalu mengajak kami melakukan misa atau ibadat meditatif dengan iringan lagu-lagu Taizé. Saya yakin teman-teman anggota Credo Choir juga memiliki kesan mendalam seperti yang saya rasakan. Di antara banyak misa dan ibadat bersama beliau, ada satu yang sangat berkesan dan membekas dalam ingatan saya, yaitu yang kami lakukan di atas kapal kecil yang terombang-ambing di tengah Danau Toba.

Sosok Romo yang cerdas, ramah, murah hati, dan energik serta suka bercanda ini sungguh menginspirasi saya dan semestinya juga siapa pun yang pernah mengenalnya. Melalui ketekunan beliau, kami telah ditempa sekaligus disadarkan bahwa Tuhan berkenan bekerja melalui setiap pribadi, termasuk lewat suara yang mungkin bahkan tidak merdu. Dengan tekun Romo melatih hingga suara kami padu, lalu mengajak kami melayani Tuhan ke mana pun seturut kehendak-Nya. Kala itu, didukung oleh Yayasan Aku Percaya pimpinan Bapak Antonius Sujata SH, Romo Frietz juga telah membawa Credo Choir jajah deso milang kori ‘menjelajah banyak tempat’ untuk merasul dan mewartakan kasih Allah lewat beragam lagu gerejawi sekaligus mempopulerkan lagu-lagu Taizé. Kala itu kami melang-lang buana ke berbagai daerah, mengadakan sejumlah konser di Medan, Samosir, Jakarta, dan Yogyakarta, bahkan sempat pula masuk dapur rekaman MMA Record dan melahirkan album (ketika itu masih berupa kaset). Kiranya Tuhan sungguh berkenan dan memberkati usaha dan perjuangan Romo Frietz menghimpun dan membina persaudaraan sekaligus menempa laskar Kristus untuk mewartakan kasih-Nya lewat suara. Hingga kini nama Credo Choir masih tetap eksis, begitupun persaudaraan di antara para anggota dan mantan anggotanya.

Sayang kemudian hari saya harus meninggalkan kota Medan dan berpisah dengan beliau juga teman-teman di Credo Choir. Bagaimanapun saya sangat bersyukur karena Tuhan pernah mempertemukan saya dengan Romo Frietz. Melalui mars Credo Choir, “Aku Percaya” yang ditulis Bapak Antonius Sujata dan diaransemen oleh Romo Frietz saya selalu diingatkan bahwa Credo “Aku Percaya” bukan sekadar pernyataan basa-basi, tetapi juga keyakinan dan kekuatan iman yang senantiasa percaya akan janji Tuhan. Oleh karenanya, saya pun mengimani dan percaya bahwa malaikat Allah telah membawa jiwa romo/guru/pembimbing/sahabat kami tercinta untuk berkumpul bersama para kudus-Nya di surga.

Selamat jalan Romo. You’ll never be forgotten, may you rest in peace.

Depok, 18 Mei 2020

Catatan:
Tulisan ini dibuat untuk mengenang 7 hari berpulangnya Dr. RD. Frietz R. Tambunan, Pr. - Rektor Unika Santo Thomas Medan; Pendiri, Pembimbing, dan Pelatih Credo Choir Medan. Tulisan ini sebelumnya saya bagikan di akun facebook saya.

Jumat, 20 Maret 2020

Saya Seorang Writerpreneur

Foto: @dwi_klarasari, Lokasi: Watt Coffe, Capitol park Residence 

Ketika mulai bekerja di sebuah penerbitan yang cenderung mengkhususkan diri pada produk buku-buku pelajaran (SD s/d SMA/SMK), saya dikenal sebagai editor--sebagaimana tugas utama saya dalam proses penerbitan buku. Hampir sepuluh tahun profesi tersebut melekat pada nama saya. Jika ditelusuri puluhan buku atau e-book yang terbit menuliskan nama saya sebagai penyunting/editor pada halaman hak cipta (copyright), padahal di balik layar sering kali saya juga harus berperan sebagai penulis bayangan (ghostwriter).

Namun, sejak memutuskan untuk bekerja mandiri pada tahun 2011, saya justru kebingungan ketika orang bertanya mengenai profesi saya. Apalagi masih ada sebagian orang yang memandang sebelah mata pekerja lepas (freelancer) seperti saya. Paling gampang saya akan menjawab bekerja di bidang penerbitan (publishing). Meskipun demikian ada juga orang yang belum dapat membedakan antara penerbit dan percetakan. Kadang-kadang saya bahkan mendapat pertanyaan seperti 'kalau cetak undangan manten berapa per lembar?' atau pertanyaan sejenis itu.

Saya juga mengalami kesulitan untuk memberikan jawaban yang memuaskan bagi mereka yang memahami seluk-beluk dunia penerbitan karena pertanyannya cenderung panjang lebar. Kalau dituliskan dalam format tanya-jawab kurang lebih seperti percakapan berikut.

Oh, kamu sekarang kerja jadi editor lepas? Memang bedanya apa dengan editor di kantor dulu? Ya, saya editor independen! Sama saja dengan di kantor penerbit. Bedanya, ya saya harus mencari dan melobi sendiri klien untuk mendapatkan sebuah proyek. Saya harus menandatangani sendiri kontrak untuk pekerjaan penyuntingan (editing). Saya dibayar untuk menyunting naskah dengan hitungan harga per kata, per halaman, per buku, atau sesuai kesepakatan dalam kontrak. Ada klien yang hanya meminta saya sekadar memperbaiki 'salah ketik'. Namun, secara umum ya saya harus turut mengoreksi kebenaran materi/sumber bacaan, penyesuaian tulisan seturut kaidah tata bahasa Indonesia, juga memastikan agar tulisan enak dibaca.

Tapi beberapa teman bilang kamu penulis! Jadi kamu itu editor atau penulis sih? Ya, saya editor yang juga penulis! Saya memperoleh imbalan untuk sejumlah artikel yang saya tulis/kirim ke koran atau majalah. Saya juga menawarkan naskah buku saya ke penerbit, yang mau membeli putus atau menerbitkan dengan sistem royalti. Sesekali saya juga membuat resensi buku baru untuk dikirimkan ke media cetak yang memberikan honor pemuatan.

Katanya penulis, kok namamu tidak tercantum pada artikel/buku yang kamu tulis? Kamu jangan mengada-ada lho ya! Memang tidak semua buku yang saya tulis terbit dengan nama saya. Kalau tidak ada nama saya, boleh jadi dalam artikel/buku tersebut saya berperan sebagai penulis bayangan (ghostwriter). Sebagai ghostwriter meskipun saya dibayar untuk menuliskan ide/gasasan orang lain atau instansi tertentu, saya tidak berhak mencantunkan nama saya. Jika perlu saya bahkan harus merahasiakan bahwa sayalah yang menulis artikel/buku tersebut.

Terus, kalau kamu pamit hendak melakukan liputan, pemotretan, dll. itu pekerjaan apa? Kamu merangkap jadi jurnalis/wartawan juga? Oh, kalau itu kebetulan saya menjadi staf redaksi lepas di sebuah majalah arsitektur. Saya bertugas menulis artikel bertema arsitektur & interior, dan kadang-kadang juga harus membuat ulasan (review) untuk rumah tinggal, apartemen, kawasan permukiman, dll. Nah, untuk menuliskan review saya boleh jadi harus mendampingi fotografer saat melakukan pemotretan. Di lokasi saya akan membantunya menata spot-spot menarik yang akan dipotret untuk ditampilkan dalam ulasan. Saya juga harus melakukan wawancara dengan pemilik rumah atau arsiteknya untuk menelusuri konsep desain, penggunaan material, dan sebagainya. Kalau hendak menulis berita tentang peluncuran produk perumahan saya pun harus mengikuti konferensi pers (press conference) untuk mendengar paparan dari pengembang (developer) dan sejumah pihak terkait. Jika kebetulan ada tokoh dalam dunia properti yang layak diangkat, saya pun harus siap untuk datang mewawancarai ybs. Kira-kira seperti itulah tugas-tugas yang harus saya lakukan sebelum membuat tulisan yang akan diterbitkan oleh majalah tersebut.

Lalu, kenapa di akun medsos kamu sok-sokan promosi mau membantu klien menerbitkan bukunya sendiri? Memangnya kamu sudah punya penerbitan? Amin semoga kelak bisa punya penerbit sendiri. Hmm... ya, anggap saja itu adalah langkah awalnya. Saya tidak menawarkan bantuan cuma-cuma. Ya namanya profesi, tentu ada imbalannya. Prinsipnya, saya membantu para penulis untuk membukukan karyanya (jurnal, kumpulan puisi/prosa, biografi/autobiografi, dsb.). Saya bekerja mulai dari membaca dan mengulas draft naskahnya, membuatkan kerangka buku (outline), dst. sampai melakukan penyuntingan, baik perombakan kalimat atau sekadar salah ketik. Pokoknya sampai naskah layak baca deh! Selanjutnya saya akan menyiapkan seorang desainer kover untuk mendesain kover dan seorang penata letak untuk me-lay out naskah sampai menjadi file buku siap cetak. Sementara itu saya juga akan mengontak penerbit (sekaligus yang memiliki percetakan) untuk mendapatkan ISBN dari Perpustakaan Nasional. Setelah ISBN terbit, saya pun akan segera memesan pencetakan sejumlah eksemplar yang diinginkan penulis dengan sistem POD (Print on Demand). Ketika buku sudah terbit, saya dengan sukarela membantu promosi/pemasarannya. Begitulah!

Saya masih nggak ngerti profesi kamu sebenarnya! Kamu mau juga diajak teman untuk memberi pelatihan menulis; ada proyek terjemahan kamu ambil juga! Kamu ini serakah, semua pekerjaan kamu terima. Harusnya kamu itu punya spesialisasi, misalnya, editor atau penulis saja!
Haruskah menjadi spesialis? Saya belum tahu! Sampai saat ini saya seorang generalis, tetapi bukan berarti saya serakah. Semua pekerjaan itu datangnya juga bergiliran sesuai kehendak Tuhan. Kalau saya mampu dan klien percaya, ya tentu akan saya terima. Itulah yang disebut rezeki. Jadi, tolong jangan sebut saya serakah. Bagaimanapun asap dapur dan jaringan internet kan tidak boleh sampai mati. Hehehe...

Atas berbagai pertanyaan di atas--yang sesekali mengandung tuduhan--saya pun selalu introspeksi diri mempertanyakan jalan profesi yang saya tempuh. Namun, saya tidak pernah menyesalinya dan tetap bertekun menapakinya.

Lebih dari itu saya merasa sangat terdukung setiap kali membaca buku berjudul Writerpreneur; Cerdas dan Cergas Berbisnis Tulisan, karangan Bambang Trimansyah. Dalam bukunya tersebut, Komporis Buku Indonesia salah satu idola saya ini, menyebut profesi yang saya lakoni itu sebagai writerpreneur. Padanan dalam bahasa Indonesia, kurang lebih adalah seseorang yang menjadikan kegiatan tulis-menulis sebagai jalan usaha (bisnis).
Buku yang meyakinkan saya di jalan aksara


Nama writerpreneur terdengar keren ya? Terus terang saya suka dengan penamaan tersebut! Walaupun begitu, menekuni profesi ini tidak mudah. Masih banyak yang harus saya pelajari untuk dapat menjadi seperti beliau dan writerpreneur hebat lain. Beruntung, saya punya mental pembelajar. Sampai sekarang saya tidak pernah bosan dan selalu bersemangat mempelajari banyak hal baru terkait writerpreneurship, baik secara autodidak maupun dari mentor-mentor terbaik.

Ada yang berminat jadi writerpreneur juga? Yuk, berbagi pengalaman! Atau, ada yang ingin menggunakan jasa saya? Terima kasih untuk tidak ragu menghubungi saya!
Salam literasi!


Depok, 20 Maret 2020


Minggu, 21 Oktober 2018

Pernahkah Kamu Rindu Berbahasa Daerah?


Foto @dwi_klarasari
Sebelum saya beropini, mari baca lebih dahulu kisah lucu berdasarkan pengalaman seorang teman—sebut saja Cantik, dalam artikel "Dalam Bahasa Jawa, Mlayu Artinya Lari"!

Ketika mendengar kisah tersebut, kami teman-teman sekantor Cantik tertawa terpingkal-pingkal membayangkan si cantik nan elegan harus berlari-lari. Semua itu terjadi karena bahasa Jawa yang menjadi bahasa sehari-hari di kampung halamannya masih sangat menguasai pikiran Cantik. Maklum waktu itu Cantik pendatang baru di Jakarta.

Namun, lama sesudah kejadian lucu tersebut, bahasa Jawa tetap akrab dengan keseharian Cantik. Bahkan setelah bertahun-tahun tinggal di Jakarta, Cantik masih suka mengobrol dengan bahasa daerah bila bertemu keluarga/saudara/teman sesuku, termasuk saya. Kami dan beberapa teman yang kebetulan berasal dari keluarga Jawa, merasa lebih akrab bila mengobrol dengan bahasa daerah (bahasa Jawa). Di mana pun bertemu, bahkan di dalam angkot sekali pun, kami tak segan saling menyapa, bercanda dan mengobrol dalam bahasa Jawa. Tentu saja menjadi pengecualian saat kami harus berbicara dalam rapat atau forum resmi lain di lingkungan kerja.

Saya senang memiliki teman-teman seperti Cantik. Dalam keseharian di Jakarta yang cenderung harus selalu berbahasa Indonesia, rasanya bahagia bila sesekali bisa mengobrol dalam bahasa daerah. Bagaimanapun tinggal di metropolitan yang multietnis ini, menggunakan bahasa Indonesia adalah yang paling pas. Banyak orang yang saya temui dalam urusan pekerjaan atau relasi di komunitas/masyarakat datang dari berbagai daerah di Indonesia-Aceh, Batak, Karo, Minang, Sunda, Jawa, Madura, Bali, Flores, Makassar, Papua, dan sebagainya.

Sudah lama Cantik kembali ke Yogya, dan saya juga terpisah dengan teman-teman dekat yang suka banget berbahasa Jawa. Meskipun di lingkungan masyarakat ada orang-orang sesuku atau sedaerah, tetapi mereka jarang mau berbahasa Jawa. Adakalanya mencuat kerinduan untuk berbahasa daerah. Jadi, kalau tiba-tiba bertemu dengan teman-teman yang 'orang Jawa', refleks saya akan mengajaknya berbahasa Jawa. Ketika berkenalan dengan seseorang, dan setelah lama mengobrol mengetahui bahwa ybs. adalah orang Jawa, saya pun sering berusaha mengajak berbahasa Jawa.

Namun, tidak semua orang Jawa yang sudah "menjadi" penduduk Jakarta mau serta merta berbahasa Jawa. Terlebih lagi bila berada di tempat umum, seperti angkot atau mal. Bukan berprasangka, tetapi pada beberapa orang saya merasakan ada "gengsi" menyelimuti. Ada juga yang terkesan "tidak suka". Mungkin bagi mereka saya terkesan sok akrab.

Ada beragam reaksi saat saya mengajak bicara dengan bahasa Jawa. Ada yang menjawab dalam bahasa Jawa, tetapi dengan suara pelan. Ada juga yang cuek dan tetap menjawab dalam bahasa Indonesia. Uniknya, ada teman yang saya kenal di kampung eyang saya, meskipun berkali-kali saya bertanya dalam bahasa Jawa tetap saja dijawabnya dengan bahasa Indonesia. Lebih parah lagi bila sama-sama orang Jawa yang merantau di Jakarta, ketika bertemu di kampung halaman sama sekali tak mau berbahasa Jawa.

Kadang kala tebersit rasa iri bila mendengar orang-orang dari suku lain dengan asyiknya mengobrol dalam bahasa daerah meskipun mereka ada di ruang publik. Namun, saya bersyukur karena masih memiliki teman-teman seperti Cantik, Indah, Manis, Elok, Ayu, dll. yang mau dan suka diajak mengobrol dalam bahasa daerah di sela-sela penggunaan bahasa Indonesia.

Saya sangat maklum dan menghormati bila beberapa orang tidak berkenan berbahasa daerah saat berada di ruang publik ibu kota. Meskipun demikian, saya yang bukan siapa-siapa ini, sering kali berharap mereka masih mau menggunakan bahasa daerah di lingkungan keluarga, masyarakat sedaerah, komunitas sesuku, dan sebagainya. Bagaimanapun bahasa daerah adalah bagian dari identitas dan warisan budaya kita.

Www.ethnologue.com mencatat di wilayah Indonesia ada lebih dari 700 bahasa daerah atau bahasa ibu (mother language). Menurut para ahli, ratusan bahasa tersebut berpotensi punah bila tidak ada lagi masyarakat yang menggunakan. Sebenarnya tak sedikit orang asing tertarik dan mencintai berbagai bahasa daerah di Nusantara. Namun, sebagai penutur asli semestinya kita bertanggung jawab menyelamatkan bahasa kita sendiri dari kepunahan.

Pernahkah kamu rindu berbahasa daerah? Yuk, kita rayakan Bulan Bahasa dan Sastra dengan berbahasa daerah! Bangga berbahasa daerah; tak lupa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar; dan terus berupaya menguasai bahasa asing sebagai bekal di kancah internasional.

Masak bakmi lengane jelantah/Ojo gengsi nganggo basa daerah.

Medio Oktober 2018


Artikel ini juga ada di blog kompasiana saya di link ini