Hari-hari di rumah saja selama pandemi covid-19 ngapain aja? Banyak di antara kita, termasuk saya, belajar ini-itu demi mengisi waktu atau menambah ilmu.
Kebetulan pula, hari ini tanpa sengaja saya menemukan unggahan Instagram
@arcanafoundation tentang even pelatihan menulis kreatif. Acara yang diberi tajuk
#ProsaDiRumahAja ini digelar oleh Galeri Indonesia Kaya. Tidak tanggung-tanggung, pengajar
yang akan memandu pelatihan dua hari tersebut adalah penulis kondang Putu FajarArcana atau akrab disapa “Blli Can”.
Namun, kta harus melalui seleksi untuk bisa ikutan.
Yuk, langsung aja simak aturannya pada unggahan tersebut di atas!
Sebagian areal hutan mangrove di pesisir Jakarta Utara (dokpri).
Ketenaran
hutan beton rupanya telah menenggelamkan keberadaan hutan sungguhan
yang tersebar di beberapa titik di Jakarta. Ternyata, sedikitnya ada 6-8
lokasi di metropolitan yang layak disebut hutan; dan satu yang sangat
ikonik adalah hutan bakau (hutan mangrove). Bayangkan!
Indonesia memiliki hutan mangrove terluas di dunia (sekitar 23%);
ternyata ada 'sepotong' kecil terhampar di Jakarta. Konon, ada tiga
kawasan hutan bakau yang letaknya saling berdekatan di pesisir Jakarta
Utara, tepatnya di Kelurahan Penjaringan.
Salah satu hutan bakau
yang populer sebagai tujuan wisata adalah Taman Wisata Alam (TWA) Angke
Kapuk. Hutan wisata yang dikelola swasta ini berlokasi di Kompleks
Perumahan Pantai Indah Kapuk 2 (PIK 2).
Beberapa waktu yang lalu, oleh ajakan CLICKompasiana,
saya berkesempatan mengunjungi tempat wisata alam yang eksotik ini.
Cuaca yang super panas tidak menyurutkan langkah untuk menjelajah
rimbunnya hutan yang jauh dari hiruk pikuk ibukota. Yuk, simak
informasinya berikut ini!
Bagaimana Mencapai TWA Angke Kapuk?
Untuk
mencapai TWA Angke Kapuk, selain dengan kendaraan pribadi, taksi, atau
ojek-yang sekali jalan langsung sampai-kita dapat menggunakan
transportasi umum. Ya, memang harus sambung-menyambung dan perlu waktu
lebih lama, tetapi relatif mudah serta terjangkau. Contohnya seperti
yang kami lakukan, yaitu menggabungkan moda transportasi KRL Commuter Line, Transjakarta, dan angkutan kota.
Dari
titik temu di Stasiun Jakarta Kota, kami berjalan kaki melewati
terowongan menuju halte bus Transjakarta Jakarta Kota yang berada di
seberang Museum Bank Mandiri. Alih-alih naik bus BKTB (Bus Kota
Terintegrasi Busway) jurusan PIK, kami keliru naik Transjakarta jurusan
Pluit (koridor 12). Namun tak jadi soal karena kami bisa turun di
Penjaringan dan melanjutkan dengan moda angkot bernomor B01 (warna
merah). Jika mengikuti rute angkot, kami masih harus berjalan kaki ke
lokasi. Beruntunglah, sopir angkot berbaik hati mengantar kami sampai di
depan gerbang TWA Angke Kapuk yang berseberangan dengan gerbang
Kompleks Tzu Chi School.
Pintu masuk utama TWA Angke Kapuk berseberangan dengan Kompleks Tzu Chi School (Dokpri.)
Sebenarnya
TWA Angke Kapuk sudah dibuka mulai pukul 7 pagi. Meskipun demikian, tak
perlu ragu untuk datang agak siang seperti yang kami lakukan.
Semilir
angin laut serta kawasan hutan yang rindang membuat acara jalan-jalan
tetap terasa nyaman meskipun matahari menyengat. Lagipula kawasan ini
baru ditutup pukul 17.30 WIB. Jadi, akan ada cukup waktu untuk
menjelajah setiap sudut hutan.
Tiket Masuk dan Aturan Lain
Harga
tiket masuk kawasan TWA Angke Kapuk berbeda untuk hari biasa dan akhir
pekan; berbeda antara pengunjung dewasa dan anak-anak; dan berbeda pula
untuk wisatawan lokal dan turis asing. Kendaraan pun dikenakan biaya
parkir tersendiri. Saat kami berkunjung Harga Tiket Masuk (HTM) yang
tercantum pada kaca loket Pos Jaga 1 konon adalah yang terbaru.
Harga Tiket Masuk saat kedatangan kami, September 2018 (Dokpri).
Karena
tidak berencana melakukan pemotretan khusus, kami hanya membawa ponsel
berkamera untuk mengabadikan acara jalan-jalan di TWA. Sebagai
informasi, semua jenis kamera (LSR, kamera saku, dan perekam) harus
dititipkan kepada petugas.
Pengunjung boleh menggunakannya jika
sudah mengantongi izin atau membayar biaya khusus. Apabila tertangkap
menggunakannya tanpa izin, pengunjung akan dikenai denda sebesar
Rp1.500.000,00. Wow!
Selain tiket masuk dan aturan penggunaan
kamera, ada beberapa larangan yang perlu diketahui bila Anda ingin
berkunjung ke taman wisata ini. Di antaranya, larangan membawa hewan
piaraan; larangan memberi makan satwa liar, terutama monyet; dan
larangan memancing di perairan yang ada di kawasan hutan ini.
Sebelum Penjelajahan
Pemandangan
serta suasana hutan bakau yang khas sudah sangat terasa sejak dari
pintu masuk. Tepat setelah melewati gerbang pengunjung akan bertemu
dengan Masjid Al Hikmah yang relatif besar, berada tepat di kiri jalan
utama di antara rimbunnya pohon bakau. Adanya sarana ibadah ini membuat
pengunjung Muslim tak perlu khawatir bila berada di lokasi bertepatan
dengan waktu-waktu sholat, termasuk ibadah Sholat Jum'at.
Masjid Al Hikmah dekat pintu masuk TWA Angke Kapuk (Dokpri).
Beranjak
dari masjid, pengunjung bisa menapaki jalan utama di antara tanah rawa
yang ditumbuhi aneka spesies hutan bakau. Setelah melintasi area parkir
yang cukup luas, pengunjung akan tiba di Pos Jaga 2 di mana tiket akan
diperiksa. Lolos dari pemeriksaan, pengunjung dapat melanjutkan
perjalanan sesuka hati, sesuai penunjuk arah. Ada papan panduan cukup
besar di samping Pos Jaga 2.
Bila mau, sebelum melakukan
penjelajahan, pengunjung dapat mengisi perut lebih dahulu. Tak jauh dari
Pos Jaga 2 terdapat kantin lengkap dengan area makan terbuka dan
beberapa gazebo yang cukup representatif.
Di sini pengunjung
dapat sekadar menikmati es kelapa muda atau memesan makanan berat. Oya,
sebaiknya berhati-hati bila makan-minum di area terbuka, karena dari
antara celah-celah pohon bakau bisa tiba-tiba muncul monyet liar yang
serta-merta merebut makanan kita-seperti yang sempat kami alami. Tak
heran, jika ada larangan memberi makan satwa liar.
Area makan terbuka. Waspadai keberadaan monyet-monyet liar (Dokpri.)
Ragam Aktivitas di TWA Angke Kapuk
Dari
kantin dan area makan, jalan utama mulai memiliki banyak cabang. Ada
yang mengarah ke area bermain anak; lapangan terbuka dengan spot-spot
menarik; aula dan pondok penginapan; petak-petak hutan mangrove; dan sebagainya. Dari sini, mulai banyak spot menarik yang dapat diabadikan.
Tak perlu takut tersesat di hutan mangrove (Dokpri.)
TWA
Angke Kapuk seluas hampir 100 hektar ini, ditata sedemikian rupa serta
dilengkapi berbagai sarana-prasarana yang cukup mendukung. Setidaknya
ada empat kelompok aktivitas wisata yang diwadahi TWA, yaitu wisata
hutan, wisata air, penginapan, dan konservasi.
Wisata Hutan
Kita
dapat menjelajah kerimbunan hutan mangrove melewati "jalan setapak"
yang disediakan. Jalan utama terbuat dari kombinasi tanah dengan
perkerasan conblock. Sementara, jalan di sela-sela hutan
mangrove terbuat dari bilah-bilah bambu yang disusun sedemikian rupa
hingga dijamin aman. Namun, pastikan Anda memakai alas kaki yang aman
dan nyaman. Sebaiknya gunakan sepatu beralas datar dan hindari sepatu
berhak tinggi.
Sebagian jalur penjelajahan hutan mangrove (Dokpri)
Di kawasan hutan mangrove kita pun dapat berkemah, melakukan out bound, berburu objek fotografi atau spot untuk berswafoto, bahkan melakukan penelitian.
Ada berbagai sarana prasarana yang cukup mendukung. Untuk kegiatan berkemah dan out bond,
tersedia tanah lapang yang cukup luas dengan aneka kelengkapan
pendukung. Di sekelilingnya juga terdapat aula semiterbuka, gazebo, bale
bengong, dan tempat-tempat nyaman untuk beraktivitas.
Para
pehobi fotografi dapat berburu objek dan spot foto menarik, seperti
jembatan gantung, dermaga, jalan setapak, dan sebagainya. Kawasan ini
juga cocok untuk lokasi pembuatan foto pre-wedding berkonsep outdoor. Oya, ada juga menara pandang untuk mengintai objek burung atau mengabadikan hutan mangrove dari ketinggian.
Berbagai fasilitas penunjang di TWA Angke Kapuk (Dokpri.)
Berbagai fasilitas penunjang di TWA Angke Kapuk (Dokpri.)
Bagi
yang ingin melakukan penelitian habitat hutan bakau, tersedia papan
informasi tentang berbagai spesies hutan. Sebagai informasi, ekosistem
hutan di daerah pasang-surut laut ini termasuk salah satu yang sangat
khas. Selain bakau, hanya sedikit jenis tumbuhan yang dapat beradaptasi
dan bertahan hidup di tanah dan air dengan kadar garam tinggi. Di dalam
kawasan juga terdapat kandang satwa, pembibitan tanaman, dan
sebagainya.
Banyak hal dapat dipelajari dari ekosistem hutan bakau yang sangat khas (Dokpri.)
Banyak hal dapat dipelajari dari ekosistem hutan bakau yang sangat khas (Dokpri.)
Wisata Air
Wisata air dapat menjadi alternatif, jika pengunjung bosan berjalan kaki. Di TWA Angke Kapuk tersedia perahu motor (boat) maupun perahu dayung. Untuk sekali jalan mengelilingi areal hutan mangrove, boat berkapasitas
6 orang dapat disewa dengan harga 350 ribu, sedangkan untuk kapasitas 8
orang berharga 450 ribu. Sementara perahu dayung ataupun kano/kayak
harga sewanya 100 ribu.
Sarana wisata air untuk mengelilingi areal hutan mangrove (Dokpri.)
Penginapan
Jika
ingin tinggal lebih lama di kawasan hutan mangrove ini, pengunjung bisa
menyewa pondok kemah. Pondok kemah berkapasitas 2-3 orang ini dibangun
berjajar-jajar di sela-sela hutan mangrove. Tersedia pula vila berukuran
lebih besar yang berada di bagian tengah kawasan berdekatan dengan
fasilitas seperti aula, area out bound, area bermain anak, dan sebagainya.
Sebagian pondok kemah dan vila yang dapat disewa (Dokpri.)
Sebagian pondok kemah dan vila yang dapat disewa (Dokpri.)
Konservasi
Di
TWA Angke Kapuk ini tersedia pula area yang disiapkan bagi siapa pun
yang ingin berpartisipasi dalam kegiatan konservasi. Pengelola
menyiapkan bibit bakau berikut sarana penanaman dan area khusus untuk
ditanami. Kami menemukan jejak para partisipan konservasi melalui papan
penanda yang ditancapkan. Kebanyakan dari instansi sekolah/perguruan
tinggi, korporat, dan komunitas; meskipun ada juga yang berasal dari
individu.
Bibit bakau dan sebagian yang telah ditanam dalam kegiatan konservasi
oleh instansi pendidikan, korporat, komunitas, maupuan individu
(Dokpri.)
Nah,
bagi Anda di Jakarta yang merindukan tempat liburan alternatif yang
berbeda dan jauh dari hiruk-pikuk, TWA Angke Kapuk bisa menjadi salah
satu pilihan.
Di kawasan dengan suasana alami ini, Anda bisa
menghirup udara segar; memanjakan mata dengan nuansa hijau; memotret
objek-objek natural atau berswafoto sekaligus melenturkan otot-otot
kaki.
Di sini Anda juga dapat belajar atau melakukan penelitian
tentang karakteristik serta pentingnya hutan mangrove bagi kehidupan.
Wisata hutan mangrove dapat dilakukan secara perorangan maupun kelompok.
Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, segera jelajahi sepotong hutan di pesisir
Jakarta ini!
Pantai Indah Kapuk, September 2018
Tulisan ini juga dapat ditemukan di akun Kompasiana saya di link ini
Apa yang terlintas dalam benak saat Anda mendengar kata "duyung"?
Mungkinkah Anda membayangkan sosok cantik "puteri duyung" berwujud
separuh manusia separuh ikan? Bagaimanapun, mitos "mermaid"
yang melegenda dan sudah ditulis serta difilmkan dalam berbagai versi
dan bahasa cukup familier bagi anak-anak maupun orang dewasa. Tak heran
banyak orang tahu dongeng "Puteri Duyung", tetapi tidak mengenal
"duyung".
Selidik punya selidik, ternyata "duyung" adalah nama
populer untuk satwa laut "dugong". Alih-alih mendengar mitos puteri
duyung, baiklah kita akrabi "duyung" yang memang benar-benar ada. Yuk,
simak penelusuran saya berikut!
Sosok Pemalu dari Perairan Hangat
Kebanyakan orang menyebut duyung sebagai "ikan duyung", padahal satwa bernama ilmiah Dugong dugon ini bukan jenis ikan, lho!
Duyung atau dugong termasuk mamalia (hewan menyusui) seperti paus,
lumba-lumba, dan anjing laut. Namun, berbeda dengan mamalia laut lain,
duyung tidak memangsa ikan atau satwa laut lain. Duyung termasuk ordo Sirenia, yaitu kelompok mamalia pemakan tumbuhan (herbivora) yang hidup di perairan.
Duyung
diyakini berevolusi dari mamalia darat (lebih dari 60 juta tahun y.l.)
dan berkerabat dekat dengan gajah. Seperti gajah, tubuhnya besar dan
gempal. Panjangnya mencapai 3 meter dengan berat hingga 450 kilogram.
Wow! Bentuk moncongnya mirip belalai gajah tetapi pendek dan mengarah ke
bawah. Meskipun berekor seperti ikan, tubuh duyung tidak bersisik.
Kecepatan berenangnya relatif lamban (10-22 km/jam), tetapi mampu
bertahan dalam air hingga 12 menit terutama saat mencari makan di dasar
laut.
Duyung (dugong) hidup di perairan hangat dengan area
jelajah cukup luas. Petualang laut ini tidak hanya hidup di perairan
dangkal yang tenang, tetapi konon juga ditemukan di sepanjang cekungan
samudera (ocean basin), misalnya di Samudera Hindia dan
Pasifik. Populasi duyung terutama tersebar di perairan Indo-Pasifik,
mencakup sekitar 37 negara. Di Indonesia, duyung dapat dijumpai di
kawasan timur seperti perairan Maluku dan Papua atau perairan sebelah
utara Australia. Populasi terbanyak diketahui ada di perairan Pulau
Bintan (Kepulauan Riau).
Sosok duyung
yang lucu dan imut (Sumber:Jin Kemoole Flickr - theconversation.com)
Mamalia berwajah lucu dan imut yang juga dikenal sebagai sapi laut (sea cow)
ini, ternyata "pemalu" alias sulit didekati. Namun, satwa yang mampu
hidup hingga 70 tahun ini, sebenarnya tergolong jinak dan tidak
berbahaya. Konon, bila sudah "kenal" manusia, seekor duyung mau mendekat
bahkan diajak "bermain". Simak pertemuan para penyelam dengan seekor
duyung di perairan Pulau Bangka lewat rekaman ini atau yang ini.
Penduduk
Pulau Alor, NTT, bahkan menamai beberapa duyung yang tinggal di
perairan mereka. Dengan izin khusus serta di bawah pengawasan, wisatawan
dapat bertemu duyung secara langsung. Berikut video aksi lucu salah satu duyung bernama Mawar.
Simbiosis Mutualisme Duyung dan Padang Lamun
Tumbuhan apa yang jadi makanan
duyung? Lamun! Pernahkah Anda mendengar nama tumbuhan tersebut?
Bagi sebagian orang, nama "lamun" sama asingnya dengan "dugong".
Faktanya, lamun memang kalah populer dibandingkan rumput laut.
Ketahuilah, lamun adalah sejenis rumput, tetapi lamun (seagrass) berbeda dengan rumput laut (seaweed). Rumput laut termasuk ganggang (algae), sedangkan lamun adalah tumbuhan air berbunga dan berbiji tunggal (monokotil) dari kelas Angiospermae.
Lamun memiliki akar, batang menjalar (rimpang/rizoma), dan daun sejati.
Batangnya yang menjalar dapat menghasilkan tunas dan akar baru,
sehingga lamun tumbuh membentuk hamparan atau padang lamun
di dasar laut sebagaimana padang rumput di daratan. Lamun memiliki
banyak nama daerah, seperti rumput setu (Riau), samo-samo (Kep. Seribu,
Sulawesi Selatan, dan Maluku), rumput unas (Kalimantan), dan sebagainya.
Lamun atau
seagrass (Sumber: marinescience.untan.ac.id)
Lamun adalah satu-satunya tumbuhan yang dapat hidup
terendam dalam air asin, baik yang bersubstrat pasir; lumpur; atau campuran
pasir, lumpur dan karang. Padang lamun (seagrass bed) dijumpai di
perairan laut dangkal yang masih terjangkau sinar matahari.
Di Indonesia, lamun terhampar dari perairan Sumatera
hingga Maluku dan Papua. Biasanya padang lamun terdapat di daerah pasang-surut
dan pulau-pulau karang. Indonesia kaya akan lamun. Dari 60 jenis lamun di
dunia, LIPI mencatat 13 jenis ada di perairan Indonesia, a.l. Enhalus
acoroides dan Thalassia hemprichii.
Hamparan lamun di dasar laut di Teluk Ambon (Sumber: www.tribun-maluku.com)
Padang lamun merupakan habitat bagi aneka biota laut untuk berlindung
dari predator; mencari makanan; juga berkembang biak. Dalam ekosistem
lamun bisa dijumpai beragam jenis ikan (baronang, kakap, dll.); krustase
(udang-udangan, seperti lobster, rajungan, kepiting, dll.);
kerang-kerangan; dan satwa besar seperti penyu hijau dan duyung. Video
berikut akan memberi gambaran kehidupan ekosistem lamun.
Tahukah Anda? Dalam ekosistem lamun, duyung merupakan satwa paling istimewa. Duyung dan lamun memiliki hubungan simbiosis mutualisme; dan keduanya sangat tergantung satu sama lain.
Padang
lamun bukan sekadar habitat, tetapi sumber makanan duyung. Seekor
duyung mengonsumsi lamun sekitar 20-50 kg per hari. Lamun adalah makanan
utama tak tergantikan. Artinya, ketiadaan dan/atau kerusakan padang
lamun berpotensi mengancam kelangsungan hidup mammal herbivora ini.
Sebaliknya, keberadaan duyung sangat dibutuhkan ekosistem lamun karena vegetarian ini menyokong kesuburan lamun. Cara duyung mengais hamparan lamun
membantu terjadinya daur hara (nutrien) dalam substrat, sedangkan hasil
ekskresinya menjadi "pupuk" penyubur. Tanpa duyung, padang lamun
cenderung kurang subur dan mudah terserang wabah hingga punah. LIPI
menyebut duyung sebagai spesies kunci ekosistem lamun.
Benarkah Duyung dan Lamun Terancam Punah?
Menurut Daftar Merah Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN Red List), duyung berstatus rentan (vulnerable/VU)
terhadap kepunahan, kecuali jika keselamatan dan reproduksinya
ditangani dengan baik. Faktanya, populasi duyung menurun dari waktu ke
waktu. Menurut WWF populasi duyung menurun tajam sejak tahun 2011.
Penurunan
populasi duyung antara lain akibat perburuan. Sejak ribuan tahun lalu,
duyung telah diburu untuk diambil daging, minyak, dan bagian lain
tubuhnya seperti tulang, taring, dan gading. Bahkan, karena pengaruh
mitos, air mata duyung pun menjadi incaran. Selain akibat perburuan,
juga karena terdampak pencemaran, tertabrak kapal, tertangkap jaring
tanpa sengaja (bycatch), atau terdampar di pantai. Satu lagi
penyebab kepunahan duyung paling krusial adalah ketiadaan atau kerusakan
sumber makanannya, yaitu padang lamun.
Sebenarnya, padang lamun
hanya menempati sekitar 0,2% lautan dunia. Jumlah yang "tidak seberapa"
itu pun ditengarai dalam kondisi yang cenderung menurun. Menurut data
LIPI (2017) Indonesia memiliki 1.507 km2 padang lamun, tetapi hanya 5%-nya (75,35 km2)
yang sehat. Selebihnya, terdeteksi kurang sehat (80%) dan tidak sehat
(15%). Berbagai penyebab kerusakan atau kepunahan padang lamun, antara
lain hilangnya mangrove termasuk oleh kegiatan reklamasi; penangkapan
ikan secara destrukstif (dengan bom, pukat, dan bahan kimia); dan
pencemaran oleh tumpahan minyak ataupun limbah (industri, pertanian, dan
rumah tangga). Sebagai gambaran, simaklah kajian LIPI terkait kondisi padang lamun di perairan Indonesia.
Konservasi Padang Lamun untuk Duyung dan Kita
Ancaman
kepunahan padang lamun sudah mengkhawatirkan. Oleh karena itu,
penyelamatannya harus menjadi perhatian serius. Mengingat hubungan
simbiosis lamun dan duyung maka konservasi padang lamun sangat mendesak
bagi penyelamatan duyung. Bila lamun yang menjadi habitat dan makanannya
subur, duyung pun terselamatkan.
Namun, hal yang sepenuhnya harus kita sadari adalah: konservasi padang lamun juga sangat mendesak bagi kehidupan kita.
Kenapa begitu? Ketahuilah, padang lamun bukan saja rumah bagi duyung
dan aneka biota laut, tetapi juga memberikan banyak sekali manfaat bagi
manusia. Bagaimana hal ini dijelaskan?
Pertama,seperti halnya terumbu karang (coral reef),
padang lamun adalah habitat penting bagi beragam biota laut yang
menjadi tangkapan utama nelayan, seperti puluhan jenis ikan,
udang-udangan, cumi-cumi, dan kerang-kerangan. Kerusakan padang lamun
berdampak menurunnya populasi biota laut yang hidup di dalamnya.
Akibatnya, tangkapan nelayan akan berkurang, mata pencahariannya
terganggu, dan pada akhirnya kondisi ekonominya pun terancam. Di lain
pihak, berkurangnya pasokan ikan berdampak turunnya konsumsi ikan
sebagai sumber protein penting. Akibatnya, terjadilah penurunan gizi
masyarakat.
Kedua,
seperti juga mangrove, padang lamun berpotensi mengantisipasi erosi
wilayah pesisir serta mengurangi dampak tsunami. Cengkeraman rimpang
mampu mengantisipasi gerusan ombak, sedangkan lebatnya dedaunan lamun
dapat melemahkan gelombang/arus laut yang menuju pesisir.
Ketiga,
padang lamun oleh sistem perakarannya mampu menyaring limbah dan
sedimentasi sehingga kejernihan dan kualitas air laut dapat terjaga.
Keempat, padang lamun berperan menangkap karbon dioksida (CO2)
dan mengubahnya menjadi oksigen yang berguna bagi kehidupan dan
perkembangbiakan biota laut di dalamnya, termasuk duyung. Penyeraban
emisi karbon juga berguna mengurangi laju perubahan iklim.
Jelaslah
bahwa padang lamun berperan penting bagi manusia, secara langsung
maupun tidak langsung. Jadi, konservasi padang lamun bukan saja demi
kelangsungan hidup duyung, tetapi juga demi kesejahteraan umat manusia.
Dukungan untuk DSCP Indonesia
Masyarakat
dunia sepakat melindungi duyung dan lamun. Di Indonesia, larangan
perburuan dan konsumsi duyung dikukuhkan dengan Permen RI No. 7 Tahun
1999. Sayang, kepedulian masyarakat terhadap kelestarian duyung dan
lamun masih perlu ditingkatkan.
Oleh karena itu, kehadiran Proyek Konservasi Dugong dan Lamun (Dugong and Seagrass Conservation Project/DSCP)
sangatlah relevan. Proyek yang melibatkan delapan negara (Indonesia,
Madagaskar, Malaysia, Mozambik, Kepulauan Solomon, Timor Leste, Vanuatu,
dan Abu Dhabi) ini mengupayakan konservasi dugong dan ekosistem lamun
dengan berbagai cara, termasuk dengan melibatkan masyarakat. Artinya,
melalui "Dugong and Seagrass Conservation Project Indonesia"
atau "DSCP Indonesia" kita dapat mendukung upaya konservasi duyung dan
lamun yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia. Partisipasi dapat
dimulai dari hal-hal kecil, seperti contoh berikut.
Turut mempelajari dan mengenal duyung dan lamun serta manfaatnya untuk meningkatkan kepekaan diri.
Turut meningkatkan kesadaran masyarakat (public awarenes)
dengan membagikan informasi tentang duyung dan lamun serta manfaatnya,
juga menyosialisasi larangan perburuan dan konsumsi duyung, melalui
tulisan, foto, video, atau karya lain. Contohnya seperti video ini.
Lewat
cara sama kita dapat melakukan promosi wisata bahari untuk mengakrabi
duyung dan lamun; kampanye praktik penangkapan ikan yang ramah
lingkungan; dan berbagai tindakan kepedulian terhadap duyung dan lamun.
Tidak mencemari wilayah perairan (danau, rawa, sungai, dan laut) dengan sampah, bahan kimia, dan/atau bahan pencemar lain.
Melaporkan
kepada aparat setempat jika mengetahui penangkapan duyung; melihat
duyung mati atau terdampar di pantai; mencurigai adanya perusakan
habitat lamun; dan sebagainya.
Turut serta dalam kegiatan
pengelolaan dan/atau rehabilitasi padang lamun di perairan Indonesia.
Atau, berpartisipasi dalam berbagai kegiatan lain (Pantau infonya lewat
fanpage DSCP Indonesia di sini atau akun twitter-nya di sini )
Beberapa lokasi kegiatan DSCP Indonesia dalam pengelolaan dan konservasi
dugong dan lamun berbasis masyarakat (Sumber: factsheet DSCP Indonesia)
Tak kenal maka tak sayang!Ketertarikan
akan berkembang menjadi rasa sayang; dan dari rasa sayang akan tumbuh
rasa memiliki serta kesadaran untuk turut melindungi. Nah, tunggu apa
lagi? Daripada melamun, yuk bantu konservasi duyung (dugong) dan lamun!