Tampilkan postingan dengan label Info. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 April 2020

Kesempatan Berguru pada Putu Fajar Arcana


Sumber: Instagram Arcana Foundation

Hari-hari di rumah saja selama pandemi covid-19 ngapain aja? Banyak di antara kita, termasuk saya, belajar ini-itu demi mengisi waktu atau menambah ilmu. 

Kebetulan pula, hari ini tanpa sengaja saya menemukan unggahan Instagram @arcanafoundation tentang even pelatihan menulis kreatif. Acara yang diberi tajuk #ProsaDiRumahAja ini digelar oleh Galeri Indonesia Kaya. Tidak tanggung-tanggung, pengajar yang akan memandu pelatihan dua hari tersebut adalah penulis kondang Putu FajarArcana atau akrab disapa “Blli Can”.

Namun, kta harus melalui seleksi untuk bisa ikutan. Yuk, langsung aja simak aturannya pada unggahan tersebut di atas! 

Depok, April 2020

Kamis, 18 Oktober 2018

Menjelajah Hutan di Pesisir Jakarta

Sebagian areal hutan mangrove di pesisir Jakarta Utara (dokpri).
Sebagian areal hutan mangrove di pesisir Jakarta Utara (dokpri).

Ketenaran hutan beton rupanya telah menenggelamkan keberadaan hutan sungguhan yang tersebar di beberapa titik di Jakarta. Ternyata, sedikitnya ada 6-8 lokasi di metropolitan yang layak disebut hutan; dan satu yang sangat ikonik adalah hutan bakau (hutan mangrove). Bayangkan! Indonesia memiliki hutan mangrove terluas di dunia (sekitar 23%); ternyata ada 'sepotong' kecil terhampar di Jakarta. Konon, ada tiga kawasan hutan bakau yang letaknya saling berdekatan di pesisir Jakarta Utara, tepatnya di Kelurahan Penjaringan.

Salah satu hutan bakau yang populer sebagai tujuan wisata adalah Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk. Hutan wisata yang dikelola swasta ini berlokasi di Kompleks Perumahan Pantai Indah Kapuk 2 (PIK 2).

Beberapa waktu yang lalu, oleh ajakan CLICKompasiana, saya berkesempatan mengunjungi tempat wisata alam yang eksotik ini. Cuaca yang super panas tidak menyurutkan langkah untuk menjelajah rimbunnya hutan yang jauh dari hiruk pikuk ibukota. Yuk, simak informasinya berikut ini!

Bagaimana Mencapai TWA Angke Kapuk?
Untuk mencapai TWA Angke Kapuk, selain dengan kendaraan pribadi, taksi, atau ojek-yang sekali jalan langsung sampai-kita dapat menggunakan transportasi umum. Ya, memang harus sambung-menyambung dan perlu waktu lebih lama, tetapi relatif mudah serta terjangkau. Contohnya seperti yang kami lakukan, yaitu menggabungkan moda transportasi KRL Commuter Line, Transjakarta, dan angkutan kota.

Dari titik temu di Stasiun Jakarta Kota, kami berjalan kaki melewati terowongan menuju halte bus Transjakarta Jakarta Kota yang berada di seberang Museum Bank Mandiri. Alih-alih naik bus BKTB (Bus Kota Terintegrasi Busway) jurusan PIK, kami keliru naik Transjakarta jurusan Pluit (koridor 12). Namun tak jadi soal karena kami bisa turun di Penjaringan dan melanjutkan dengan moda angkot bernomor B01 (warna merah). Jika mengikuti rute angkot, kami masih harus berjalan kaki ke lokasi. Beruntunglah, sopir angkot berbaik hati mengantar kami sampai di depan gerbang TWA Angke Kapuk yang berseberangan dengan gerbang Kompleks Tzu Chi School.  

Pintu masuk utama TWA Angke Kapuk berseberangan dengan Kompleks Tzu Chi School (Dokpri.)
Pintu masuk utama TWA Angke Kapuk berseberangan dengan Kompleks Tzu Chi School (Dokpri.)
Sebenarnya TWA Angke Kapuk sudah dibuka mulai pukul 7 pagi. Meskipun demikian, tak perlu ragu untuk datang agak siang seperti yang kami lakukan.

Semilir angin laut serta kawasan hutan yang rindang membuat acara jalan-jalan tetap terasa nyaman meskipun matahari menyengat. Lagipula kawasan ini baru ditutup pukul 17.30 WIB. Jadi, akan ada cukup waktu untuk menjelajah setiap sudut hutan.

Tiket Masuk dan Aturan Lain
Harga tiket masuk kawasan TWA Angke Kapuk berbeda untuk hari biasa dan akhir pekan; berbeda antara pengunjung dewasa dan anak-anak; dan berbeda pula untuk wisatawan lokal dan turis asing. Kendaraan pun dikenakan biaya parkir tersendiri. Saat kami berkunjung Harga Tiket Masuk (HTM) yang tercantum pada kaca loket Pos Jaga 1 konon adalah yang terbaru.

Harga Tiket Masuk saat kedatangan kami, September 2018 (Dokpri).
Harga Tiket Masuk saat kedatangan kami, September 2018 (Dokpri).

Karena tidak berencana melakukan pemotretan khusus, kami hanya membawa ponsel berkamera untuk mengabadikan acara jalan-jalan di TWA. Sebagai informasi, semua jenis kamera (LSR, kamera saku, dan perekam) harus dititipkan kepada petugas.

Pengunjung boleh menggunakannya jika sudah mengantongi izin atau membayar biaya khusus. Apabila tertangkap menggunakannya tanpa izin, pengunjung akan dikenai denda sebesar Rp1.500.000,00. Wow!

Selain tiket masuk dan aturan penggunaan kamera, ada beberapa larangan yang perlu diketahui bila Anda ingin berkunjung ke taman wisata ini. Di antaranya, larangan membawa hewan piaraan; larangan memberi makan satwa liar, terutama monyet; dan larangan memancing di perairan yang ada di kawasan hutan ini.
 
Sebelum Penjelajahan
Pemandangan serta suasana hutan bakau yang khas sudah sangat terasa sejak dari pintu masuk. Tepat setelah melewati gerbang pengunjung akan bertemu dengan Masjid Al Hikmah yang relatif besar, berada tepat di kiri jalan utama di antara rimbunnya pohon bakau. Adanya sarana ibadah ini membuat pengunjung Muslim tak perlu khawatir bila berada di lokasi bertepatan dengan waktu-waktu sholat, termasuk ibadah Sholat Jum'at.

Masjid Al Hikmah dekat pintu masuk TWA Angke Kapuk (Dokpri).
Masjid Al Hikmah dekat pintu masuk TWA Angke Kapuk (Dokpri).
Beranjak dari masjid, pengunjung bisa menapaki jalan utama di antara tanah rawa yang ditumbuhi aneka spesies hutan bakau. Setelah melintasi area parkir yang cukup luas, pengunjung akan tiba di Pos Jaga 2 di mana tiket akan diperiksa. Lolos dari pemeriksaan, pengunjung dapat melanjutkan perjalanan sesuka hati, sesuai penunjuk arah. Ada papan panduan cukup besar di samping Pos Jaga 2.
Bila mau, sebelum melakukan penjelajahan, pengunjung dapat mengisi perut lebih dahulu. Tak jauh dari Pos Jaga 2 terdapat kantin lengkap dengan area makan terbuka dan beberapa gazebo yang cukup representatif.

Di sini pengunjung dapat sekadar menikmati es kelapa muda atau memesan makanan berat. Oya, sebaiknya berhati-hati bila makan-minum di area terbuka, karena dari antara celah-celah pohon bakau bisa tiba-tiba muncul monyet liar yang serta-merta merebut makanan kita-seperti yang sempat kami alami. Tak heran, jika ada larangan memberi makan satwa liar.

Area makan terbuka. Waspadai keberadaan monyet-monyet liar (Dokpri.)
Area makan terbuka. Waspadai keberadaan monyet-monyet liar (Dokpri.)


Ragam Aktivitas di TWA Angke Kapuk
Dari kantin dan area makan, jalan utama mulai memiliki banyak cabang. Ada yang mengarah ke area bermain anak; lapangan terbuka dengan spot-spot menarik; aula dan pondok penginapan; petak-petak hutan mangrove; dan sebagainya. Dari sini, mulai banyak spot menarik yang dapat diabadikan.

Tak perlu takut tersesat di hutan mangrove (Dokpri.)
Tak perlu takut tersesat di hutan mangrove (Dokpri.)


TWA Angke Kapuk seluas hampir 100 hektar ini, ditata sedemikian rupa serta dilengkapi berbagai sarana-prasarana yang cukup mendukung. Setidaknya ada empat kelompok aktivitas wisata yang diwadahi TWA, yaitu wisata hutan, wisata air, penginapan, dan konservasi.

Wisata Hutan
Kita dapat menjelajah kerimbunan hutan mangrove melewati "jalan setapak" yang disediakan. Jalan utama terbuat dari kombinasi tanah dengan perkerasan conblock. Sementara, jalan di sela-sela hutan mangrove terbuat dari bilah-bilah bambu yang disusun sedemikian rupa hingga dijamin aman. Namun, pastikan Anda memakai alas kaki yang aman dan nyaman. Sebaiknya gunakan sepatu beralas datar dan hindari sepatu berhak tinggi.

Sebagian jalur penjelajahan hutan mangrove (Dokpri)
Sebagian jalur penjelajahan hutan mangrove (Dokpri)

Di kawasan hutan mangrove kita pun dapat berkemah, melakukan out bound, berburu objek fotografi atau spot untuk berswafoto, bahkan melakukan penelitian. 

Ada berbagai sarana prasarana yang cukup mendukung. Untuk kegiatan berkemah dan out bond, tersedia tanah lapang yang cukup luas dengan aneka kelengkapan pendukung. Di sekelilingnya juga terdapat aula semiterbuka, gazebo, bale bengong, dan tempat-tempat nyaman untuk beraktivitas.

Para pehobi fotografi dapat berburu objek dan spot foto menarik, seperti jembatan gantung, dermaga, jalan setapak, dan sebagainya. Kawasan ini juga cocok untuk lokasi pembuatan foto pre-wedding berkonsep outdoor. Oya, ada juga menara pandang untuk mengintai objek burung atau mengabadikan hutan mangrove dari ketinggian.

dokumentasi pribadi
Berbagai fasilitas penunjang di TWA Angke Kapuk (Dokpri.)

Berbagai fasilitas penunjang di TWA Angke Kapuk (Dokpri.)
Berbagai fasilitas penunjang di TWA Angke Kapuk (Dokpri.)

Bagi yang ingin melakukan penelitian habitat hutan bakau, tersedia papan informasi tentang berbagai spesies hutan. Sebagai informasi, ekosistem hutan  di daerah pasang-surut laut ini termasuk salah satu yang sangat khas. Selain bakau, hanya sedikit jenis  tumbuhan yang dapat beradaptasi dan bertahan hidup di tanah dan air dengan kadar garam tinggi. Di dalam kawasan juga terdapat kandang satwa, pembibitan tanaman, dan sebagainya.

Dokumen pribadi
Banyak hal dapat dipelajari dari ekosistem hutan bakau yang sangat khas (Dokpri.)

Banyak hal dapat dipelajari dari ekosistem hutan bakau yang sangat khas (Dokpri.)
Banyak hal dapat dipelajari dari ekosistem hutan bakau yang sangat khas (Dokpri.)

Wisata Air
Wisata air dapat menjadi alternatif, jika pengunjung bosan berjalan kaki. Di TWA Angke Kapuk tersedia perahu motor (boat) maupun perahu dayung. Untuk sekali jalan mengelilingi areal hutan mangrove, boat berkapasitas 6 orang dapat disewa dengan harga 350 ribu, sedangkan untuk kapasitas 8 orang berharga 450 ribu. Sementara perahu dayung ataupun kano/kayak harga sewanya 100 ribu.

Sarana wisata air untuk mengelilingi areal hutan mangrove (Dokpri.)
Sarana wisata air untuk mengelilingi areal hutan mangrove (Dokpri.)

Penginapan
Jika ingin tinggal lebih lama di kawasan hutan mangrove ini, pengunjung bisa menyewa pondok kemah. Pondok kemah berkapasitas 2-3 orang ini dibangun berjajar-jajar di sela-sela hutan mangrove. Tersedia pula vila berukuran lebih besar yang berada di bagian tengah kawasan berdekatan dengan fasilitas seperti aula, area out bound, area bermain anak, dan sebagainya.

Dokumen pribadi
Sebagian pondok kemah dan vila yang dapat disewa (Dokpri.)

Sebagian pondok kemah dan vila yang dapat disewa (Dokpri.)
Sebagian pondok kemah dan vila yang dapat disewa (Dokpri.)
 
Konservasi
Di TWA Angke Kapuk ini tersedia pula area yang disiapkan bagi siapa pun yang ingin berpartisipasi dalam kegiatan konservasi. Pengelola menyiapkan bibit bakau berikut sarana penanaman dan area khusus untuk ditanami. Kami menemukan jejak para partisipan konservasi melalui papan penanda yang ditancapkan. Kebanyakan dari instansi sekolah/perguruan tinggi, korporat, dan komunitas; meskipun ada juga yang berasal dari individu.

Bibit bakau dan sebagian yang telah ditanam dalam kegiatan konservasi oleh instansi pendidikan, korporat, komunitas, maupuan individu (Dokpri.)
Bibit bakau dan sebagian yang telah ditanam dalam kegiatan konservasi oleh instansi pendidikan, korporat, komunitas, maupuan individu (Dokpri.)


Nah, bagi Anda di Jakarta yang merindukan tempat liburan alternatif yang berbeda dan jauh dari hiruk-pikuk, TWA Angke Kapuk bisa menjadi salah satu pilihan.

Di kawasan dengan suasana alami ini, Anda bisa menghirup udara segar; memanjakan mata dengan nuansa hijau; memotret objek-objek natural atau berswafoto sekaligus melenturkan otot-otot kaki.

Di sini Anda juga dapat belajar atau melakukan penelitian tentang karakteristik serta pentingnya hutan mangrove bagi kehidupan. Wisata hutan mangrove dapat dilakukan secara perorangan maupun kelompok. Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, segera jelajahi sepotong hutan di pesisir Jakarta ini!


Pantai Indah Kapuk, September 2018

Tulisan ini juga dapat ditemukan di akun Kompasiana saya di link ini

Rabu, 16 Mei 2018

Daripada Melamun, Yuk Bantu Konservasi Duyung dan Lamun!


Sumber: www.wwf.org.au

Apa yang terlintas dalam benak saat Anda mendengar kata "duyung"? Mungkinkah Anda membayangkan sosok cantik "puteri duyung" berwujud separuh manusia separuh ikan? Bagaimanapun, mitos "mermaid" yang melegenda dan sudah ditulis serta difilmkan dalam berbagai versi dan bahasa cukup familier bagi anak-anak maupun orang dewasa. Tak heran banyak orang tahu dongeng "Puteri Duyung", tetapi tidak mengenal "duyung".

Selidik punya selidik, ternyata "duyung" adalah nama populer untuk satwa laut "dugong". Alih-alih mendengar mitos puteri duyung, baiklah kita akrabi "duyung" yang memang benar-benar ada. Yuk, simak penelusuran saya berikut!

Sosok Pemalu dari Perairan Hangat 
Kebanyakan orang menyebut duyung sebagai "ikan duyung", padahal satwa bernama ilmiah Dugong dugon ini bukan jenis ikan, lho! Duyung atau dugong termasuk mamalia (hewan menyusui) seperti paus, lumba-lumba, dan anjing laut. Namun, berbeda dengan mamalia laut lain, duyung tidak memangsa ikan atau satwa laut lain. Duyung termasuk ordo Sirenia, yaitu kelompok mamalia pemakan tumbuhan (herbivora) yang hidup di perairan.

Duyung diyakini berevolusi dari mamalia darat (lebih dari 60 juta tahun y.l.) dan berkerabat dekat dengan gajah. Seperti gajah, tubuhnya besar dan gempal. Panjangnya mencapai 3 meter dengan berat hingga 450 kilogram. Wow! Bentuk moncongnya mirip belalai gajah tetapi pendek dan mengarah ke bawah. Meskipun berekor seperti ikan, tubuh duyung tidak bersisik. Kecepatan berenangnya relatif lamban (10-22 km/jam), tetapi mampu bertahan dalam air hingga 12 menit terutama saat mencari makan di dasar laut.

Duyung (dugong) hidup di perairan hangat dengan area jelajah cukup luas. Petualang laut ini tidak hanya hidup di perairan dangkal yang tenang, tetapi konon juga ditemukan di sepanjang cekungan samudera (ocean basin), misalnya di Samudera Hindia dan Pasifik. Populasi duyung terutama tersebar di perairan Indo-Pasifik, mencakup sekitar 37 negara. Di Indonesia, duyung dapat dijumpai di kawasan timur seperti perairan Maluku dan Papua atau perairan sebelah utara Australia. Populasi terbanyak diketahui ada di perairan Pulau Bintan (Kepulauan Riau).

Sosok duyung yang lucu dan imut (Sumber:Jin Kemoole Flickr - theconversation.com)

Mamalia berwajah lucu dan imut yang juga dikenal sebagai sapi laut (sea cow) ini, ternyata "pemalu" alias sulit didekati. Namun, satwa yang mampu hidup hingga 70 tahun ini, sebenarnya tergolong jinak dan tidak berbahaya. Konon, bila sudah "kenal" manusia, seekor duyung mau mendekat bahkan diajak "bermain". Simak pertemuan para penyelam dengan seekor duyung di perairan Pulau Bangka lewat rekaman ini atau yang ini.

Penduduk Pulau Alor, NTT, bahkan menamai beberapa duyung yang tinggal di perairan mereka. Dengan izin khusus serta di bawah pengawasan, wisatawan dapat bertemu duyung secara langsung. Berikut video aksi lucu salah satu duyung bernama Mawar.


Simbiosis Mutualisme Duyung dan Padang Lamun
Tumbuhan apa yang jadi makanan duyung? Lamun! Pernahkah Anda mendengar nama tumbuhan tersebut? Bagi sebagian orang, nama "lamun" sama asingnya dengan "dugong". Faktanya, lamun memang kalah populer dibandingkan rumput laut.

Ketahuilah, lamun adalah sejenis rumput, tetapi lamun (seagrass) berbeda dengan rumput laut (seaweed). Rumput laut termasuk ganggang (algae), sedangkan lamun adalah tumbuhan air berbunga dan berbiji tunggal (monokotil) dari kelas Angiospermae. Lamun memiliki akar, batang menjalar (rimpang/rizoma), dan daun sejati. Batangnya yang menjalar dapat menghasilkan tunas dan akar baru, sehingga lamun tumbuh membentuk hamparan atau padang lamun di dasar laut sebagaimana padang rumput di daratan. Lamun memiliki banyak nama daerah, seperti rumput setu (Riau), samo-samo (Kep. Seribu, Sulawesi Selatan, dan Maluku), rumput unas (Kalimantan), dan sebagainya.


Lamun atau seagrass (Sumber: marinescience.untan.ac.id)


 
Lamun adalah satu-satunya tumbuhan yang dapat hidup terendam dalam air asin, baik yang bersubstrat pasir; lumpur; atau campuran pasir, lumpur dan karang. Padang lamun (seagrass bed) dijumpai di perairan laut dangkal yang masih terjangkau sinar matahari. 

Di Indonesia, lamun terhampar dari perairan Sumatera hingga Maluku dan Papua. Biasanya padang lamun terdapat di daerah pasang-surut dan pulau-pulau karang. Indonesia kaya akan lamun. Dari 60 jenis lamun di dunia, LIPI mencatat 13 jenis ada di perairan Indonesia, a.l. Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii.

Hamparan lamun di dasar laut di Teluk Ambon (Sumber: www.tribun-maluku.com)
Padang lamun merupakan habitat bagi aneka biota laut untuk berlindung dari predator; mencari makanan; juga berkembang biak. Dalam ekosistem lamun bisa dijumpai beragam jenis ikan (baronang, kakap, dll.); krustase (udang-udangan, seperti lobster, rajungan, kepiting, dll.); kerang-kerangan; dan satwa besar seperti penyu hijau dan duyung. Video berikut akan memberi gambaran kehidupan ekosistem lamun. 


Tahukah Anda? Dalam ekosistem lamun, duyung merupakan satwa paling istimewa. Duyung dan lamun memiliki hubungan simbiosis mutualisme; dan keduanya sangat tergantung satu sama lain.

Padang lamun bukan sekadar habitat, tetapi sumber makanan duyung. Seekor duyung mengonsumsi lamun sekitar 20-50 kg per hari. Lamun adalah makanan utama tak tergantikan. Artinya, ketiadaan dan/atau kerusakan padang lamun berpotensi mengancam kelangsungan hidup mammal herbivora ini.

Sebaliknya, keberadaan duyung sangat dibutuhkan ekosistem lamun karena vegetarian ini menyokong kesuburan lamun. Cara duyung mengais hamparan lamun membantu terjadinya daur hara (nutrien) dalam substrat, sedangkan hasil ekskresinya menjadi "pupuk" penyubur. Tanpa duyung, padang lamun cenderung kurang subur dan mudah terserang wabah hingga punah. LIPI menyebut duyung sebagai spesies kunci ekosistem lamun.




Benarkah Duyung dan Lamun Terancam Punah?
Menurut Daftar Merah Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN Red List), duyung berstatus rentan (vulnerable/VU) terhadap kepunahan, kecuali jika keselamatan dan reproduksinya ditangani dengan baik. Faktanya, populasi duyung menurun dari waktu ke waktu. Menurut WWF populasi duyung menurun tajam sejak tahun 2011.

Penurunan populasi duyung antara lain akibat perburuan. Sejak ribuan tahun lalu, duyung telah diburu untuk diambil daging, minyak, dan bagian lain tubuhnya seperti tulang, taring, dan gading. Bahkan, karena pengaruh mitos, air mata duyung pun menjadi incaran. Selain akibat perburuan, juga karena terdampak pencemaran, tertabrak kapal, tertangkap jaring tanpa sengaja (bycatch), atau terdampar di pantai. Satu lagi penyebab kepunahan duyung paling krusial adalah ketiadaan atau kerusakan sumber makanannya, yaitu padang lamun.

Sebenarnya, padang lamun hanya menempati sekitar 0,2% lautan dunia. Jumlah yang "tidak seberapa" itu pun ditengarai dalam kondisi yang cenderung menurun. Menurut data LIPI (2017) Indonesia memiliki 1.507 km2 padang lamun, tetapi hanya 5%-nya (75,35 km2) yang sehat. Selebihnya, terdeteksi kurang sehat (80%) dan tidak sehat (15%). Berbagai penyebab kerusakan atau kepunahan padang lamun, antara lain hilangnya mangrove termasuk oleh kegiatan reklamasi; penangkapan ikan secara destrukstif (dengan bom, pukat, dan bahan kimia); dan pencemaran oleh tumpahan minyak ataupun limbah (industri, pertanian, dan rumah tangga). Sebagai gambaran, simaklah kajian LIPI terkait kondisi padang lamun di perairan Indonesia.

Konservasi Padang Lamun untuk Duyung dan Kita
Ancaman kepunahan padang lamun sudah mengkhawatirkan. Oleh karena itu, penyelamatannya harus menjadi perhatian serius. Mengingat hubungan simbiosis lamun dan duyung maka konservasi padang lamun sangat mendesak bagi penyelamatan duyung. Bila lamun yang menjadi habitat dan makanannya subur, duyung pun terselamatkan.

Namun, hal yang sepenuhnya harus kita sadari adalah: konservasi padang lamun juga sangat mendesak bagi kehidupan kita. Kenapa begitu? Ketahuilah, padang lamun bukan saja rumah bagi duyung dan aneka biota laut, tetapi juga memberikan banyak sekali manfaat bagi manusia. Bagaimana hal ini dijelaskan?

Pertama, seperti halnya terumbu karang (coral reef), padang lamun adalah habitat penting bagi beragam biota laut yang menjadi tangkapan utama nelayan, seperti puluhan jenis ikan, udang-udangan, cumi-cumi, dan kerang-kerangan. Kerusakan padang lamun berdampak menurunnya populasi biota laut yang hidup di dalamnya. Akibatnya, tangkapan nelayan akan berkurang, mata pencahariannya terganggu, dan pada akhirnya kondisi ekonominya pun terancam. Di lain pihak, berkurangnya pasokan ikan berdampak turunnya konsumsi ikan sebagai sumber protein penting. Akibatnya, terjadilah penurunan gizi masyarakat.

Kedua, seperti juga mangrove, padang lamun berpotensi mengantisipasi erosi wilayah pesisir serta mengurangi dampak tsunami. Cengkeraman rimpang mampu mengantisipasi gerusan ombak, sedangkan lebatnya dedaunan lamun dapat melemahkan gelombang/arus laut yang menuju pesisir. 

Ketiga, padang lamun oleh sistem perakarannya mampu menyaring limbah dan sedimentasi sehingga kejernihan dan kualitas air laut dapat terjaga. 

Keempat, padang lamun berperan menangkap karbon dioksida (CO2) dan mengubahnya menjadi oksigen yang berguna bagi kehidupan dan perkembangbiakan biota laut di dalamnya, termasuk duyung. Penyeraban emisi karbon juga berguna mengurangi laju perubahan iklim.

Jelaslah bahwa padang lamun berperan penting bagi manusia, secara langsung maupun tidak langsung.  Jadi, konservasi padang lamun bukan saja demi kelangsungan hidup duyung, tetapi juga demi kesejahteraan umat manusia.

Dukungan untuk DSCP Indonesia
Masyarakat dunia sepakat melindungi duyung dan lamun. Di Indonesia, larangan perburuan dan konsumsi duyung dikukuhkan dengan Permen RI No. 7 Tahun 1999. Sayang, kepedulian masyarakat terhadap kelestarian duyung dan lamun masih perlu ditingkatkan.    

Oleh karena itu, kehadiran Proyek Konservasi Dugong dan Lamun (Dugong and Seagrass Conservation Project/DSCP) sangatlah relevan. Proyek yang melibatkan delapan negara (Indonesia, Madagaskar, Malaysia, Mozambik, Kepulauan Solomon, Timor Leste, Vanuatu, dan Abu Dhabi) ini mengupayakan konservasi dugong dan ekosistem lamun dengan berbagai cara, termasuk dengan melibatkan masyarakat. Artinya, melalui "Dugong and Seagrass Conservation Project Indonesia" atau "DSCP Indonesia" kita dapat mendukung upaya konservasi duyung dan lamun yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia. Partisipasi dapat dimulai dari hal-hal kecil, seperti contoh berikut.
  • Turut mempelajari dan mengenal duyung dan lamun serta manfaatnya untuk meningkatkan kepekaan diri.
  • Turut meningkatkan kesadaran masyarakat (public awarenes) dengan membagikan informasi tentang duyung dan lamun serta manfaatnya, juga menyosialisasi larangan perburuan dan konsumsi duyung, melalui tulisan, foto, video, atau karya lain. Contohnya seperti video ini.    
  • Lewat cara sama kita dapat melakukan promosi wisata bahari untuk mengakrabi duyung dan lamun; kampanye praktik penangkapan ikan yang ramah lingkungan; dan berbagai tindakan kepedulian terhadap duyung dan lamun.
  • Tidak mencemari wilayah perairan (danau, rawa, sungai, dan laut) dengan sampah, bahan kimia, dan/atau bahan pencemar lain.
  • Melaporkan kepada aparat setempat jika mengetahui penangkapan duyung; melihat duyung mati atau terdampar di pantai; mencurigai adanya perusakan habitat lamun; dan sebagainya.  
  • Turut serta dalam kegiatan pengelolaan dan/atau rehabilitasi padang lamun di perairan Indonesia. Atau, berpartisipasi dalam berbagai kegiatan lain (Pantau infonya lewat fanpage DSCP Indonesia di sini atau akun twitter-nya di sini )
Beberapa lokasi kegiatan DSCP Indonesia dalam pengelolaan dan konservasi dugong dan lamun berbasis masyarakat (Sumber: factsheet DSCP Indonesia)



Tak kenal maka tak sayang! Ketertarikan akan berkembang menjadi rasa sayang; dan dari rasa sayang akan tumbuh rasa memiliki serta kesadaran untuk turut melindungi. Nah, tunggu apa lagi? Daripada melamun, yuk bantu konservasi duyung (dugong) dan lamun!

Depok, 16 Mei 2018
@dwiklarasari untuk @dscpIndonesia
Artikel ini juga ditayangkan pada akun Kompasiana Dwi Klarasari.