Tampilkan postingan dengan label kompasiana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kompasiana. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Mei 2018

Tangkal Hoaks, Galakkan Jurnalisme Perdamaian

(Sumber: GDJ - Pixabay.com)

Dalam suasana duka atas teror di Mako Brimob Depok disusul tragedi bom di tiga gereja di Surabaya, ternyata masih saja tersebar banyak berita terkait ancaman bom. Bukan hanya di Surabaya, tetapi juga di kota-kota lain, seperti Sidoarjo, Semarang, Jakarta, dan lain-lain. Tragisnya, berita yang sontak menimbulkan keresahan dan ketakutan di masyarakat ternyata adalah berita palse/bohong (fake news) alias hoax!

Hoax adalah berita palsu yang sama sekali tidak benar, bahkan sumber beritanya pun tidak jelas dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Namun ketika menerima berita bohong semacam itu, tidak sedikit orang yang langsung menyebarluaskannya ke berbagai grup WA/BBM atau media sosial lain yang diikutinya. Mereka tidak lagi memeriksa kebenaran berita dan/atau kredibilitas sumber berita. Sebagian orang bahkan "merasa berjasa" jika menjadi orang pertama yang berhasil menghadirkan "berita bohong" tersebut ke ruang-ruang komunikasi di media sosial. Mereka seakan tidak peduli bila nantinya berita tersebut memicu polemik; berakibat munculnya kericuhan atau perselisihan antarkelompok; terusiknya kedamaian dan perdamaian karena merasa ketakutan atau terpicu kebencian; dan berbagai dampak buruk lain.

Sikap "asal sebar berita" dan "tidak peduli dampak berita" tersebut agaknya ingin diantisipasi oleh Paus Fransiskus-Pemimpin Gereja Katolik seluruh dunia-lewat pesan yang dikeluarkan pada Hari Komunikasi Sedunia (World Communications Day) pada 13 Mei 2018 yang lalu. Pesan Paus Fransiskus yang menjadi tema perayaan ini adalah "Berita Palsu dan Jurnalisme Perdamaian". Dengan pesan ini, Paus menegaskan bahwa Gereja Katolik menaruh perhatian serius atas ancaman beredarnya berita bohong (hoax) yang kian marak dan memprihatinkan. Seruan Paus Fransiskus terkait pentingnya "jurnalisme perdamaian" ini pertama kali disampaikan pada Pesta St. Fransiskus de Sales, Pelindung Para Jurnalis, pada tanggal 24 Januari 2018.

Sebagai informasi, Hari Komunikasi Sedunia (World Communications Day) menjadi satu-satunya perayaan di seluruh dunia yang diminta oleh Konsili Vatikan Kedua (Inter Mirifica-Dekret tentang Upaya-Upaya Komunikasi Sosial-salah satu dekret dari Konsili Vatikan II pada 1963). Setiap tahun Hari Komunikasi Sedunia dirayakan sebelum Perayaan Pentakosta. Hari Komunikasi Sedunia pertama kali dirayakan pada 7 Mei 1967, dan tahun ini menjadi perayaan yang ke-52.

Kembali kepada Surat Paus Fransiskus, kita diingatkan bahwa komunikasi adalah bagian dari rencana Allah bagi manusia serta jalan utama menjalin persahabatan. Sebagai manusia yang diciptakan seturut gambar dan rupa Sang Pencipta, idealnya kita mengungkapkan serta membagikan hal-hal yang benar, baik, dan indah. Kita perlu waspada karena keegoisan dan kebanggaan diri mampu merusak cara kita menggunakan kemampuan berkomunikasi. Kemampuan memutarbalikkan kebenaran menjadi gejalanya. Terlebih lagi pada era komunikasi dan sistem digital yang berubah demikian cepat ini.
Sumber: www.vaticannews.va & www.dbb.org.au

Paus Fransiskus mengajak dunia, terutama Umat Katolik, untuk memahami berbagai hal terkait makna berita palsu/bohong (fake news) atau hoax; bagaimana mengenali berita bohong; juga cara mempertahankan diri dari kepalsuan dan/atau menangkal berita bohong. Beberapa hal penting terkait berita bohong (hoax) yang disampaikan Paus Fransiskus dalam suratnya saya catat dalam poin-poin berikut.
  • Berita palsu/bohong didasarkan pada data yang TIDAK ADA atau TERDISTORSI untuk menipu dan/atau memanipulasi penerima berita. Pada umumnya memiliki tujuan tersembunyi, seperti memengaruhi keputusan politik, melayani kepentingan ekonomi, dan sebagainya.
  • Berita palsu/bohong biasanya terlihat masuk akal atau meyakinkan dan mampu menarik perhatian karena memunculkan stereotip serta hal-hal yang ingin diketahui masyarakat, dan mengeksploitasi beragam emosi sesaat, seperti kecemasan, kemarahan, penghinaan, dan frustasi.
  • Berita palsu/bohong cenderung berkembang karena adanya interaksi masyarakat dalam lingkungan digital yang homogen yang cenderung tidak mempan ditembus perbedaan pendapat (sudut pandang). Kondisi demikian semakin berkembang karena tidak ada sumber informasi lain yang secara efektif mampu menandingi prasangka serta menghasilkan dialog yang konstrukstif. Akibatnya si penerima berita pun kemudian justru menjadi "penyebar" berita terkait.
  • Berita palsu/bohong cenderung mendeskreditkan orang lain, menghadirkan mereka sebagai musuh, sampai pada titik yang menjelekkan mereka dan menimbulkan konflik.    
  • Berita bohong mencirikan sikap tidak toleran dan hipersensitif, dan hanya mengarah pada penyebaran arogansi dan kebencian.
  • Berita palsu/bohong SELALU BERBAHAYA, sekalipun hanya sedikit saja fakta yang terdistorsi; dan memercayai berita bohong mengemban konsekuensi yang sangat buruk.
  • Berita palsu/bohong menyebar dengan cepat, menjadi viral, dan sulit dihentikan, BUKAN karena tingginya rasa berbagi sebagaimana jiwa media sosial, melainkan karena terangsangnya keserakahan/ego dalam diri manusia yang cenderung tak kunjung terpuaskan. Misalnya, rasa haus akan kekuasaan dan keinginan untuk memiliki atau menikmati sesuatu.

Waspada fake news alias hoax (Sumber: Geralt - Pixabay.com)

Paus Fransiskus berpesan bahwa meskipun bukan pekerjaan gampang, kita semua bertanggung jawab menangkal berita bohong. Pada salah satu bagian Bapa Paus menyebut perlunya pendidikan tentang kebenaran, agar kita dapat membedakan, mengevaluasi, dan memahami keinginan terdalam kita. Jangan sampai kita kehilangan pandangan tentang apa yang baik dan menyerah pada setiap godaan. Selanjutnya beliau juga menyampaikan bahwa untuk mempertahankan diri dari kebohongan kita perlu memiliki penangkal jitu, yakni pemurnian oleh kebenaran.

Kebenaran bukan hanya tentang benar-salah atau sekadar mengungkap yang tersembunyi, tetapi mencakup keseluruhan hidup kita. Dalam Alkitab, kebenaran bermakna dukungan, solidaritas, juga kepercayaan. Kebenaran dapat menjadi tempat bersandar agar tidak jatuh. Satu-satunya yang sungguh dapat diandalkan serta dipercaya adalah Tuhan yang hidup. Dalam iman Kristiani, Kristuslah Kebenaran. Kita menemukan dan kembali menemukan kebenaran ketika kita mengalaminya sendiri, dalam kesetiaan dan kepercayaan kepada Sang Kebenaran yang mengasihi kita. Dengan demikian kebenaran akan membebaskan kita, sebagaimana kutipan yang dipilih "Kebenaran akan memerdekakan kamu" (Yoh. 8:32).

Paus Fansiskus menekankan agar kata maupun perbuatan kita hendaknya bebas dari kepalsuan. Kita pun harus senantiasa mencari relasi. Dengan demikian kata dan sikap kita benar, otentik, dan dapat dipercaya. Sementara, untuk mengenal kebenaran, kita diajak mengenali segala hal yang mendorong kerukunan serta memajukan kebaikan; bukan yang cenderung mengasingkan, memecah belah, dan menentang. Menurut Bapa Paus, kita dapat mengenali kebenaran dari suatu pernyataan melalui buah-buahnya. Apakah perkataan tersebut memancing pertengkaran, memunculkan perpecahan, mendorong pengunduran diri; ataukah sebaliknya yaitu mengembangkan informasi dan refleksi matang yang mengarah kepada dialog konstrukstif yang bermanfaat.
 
Sebagai penutup, Paus Fransiskus mengajak semua orang untuk memajukan jurnalisme perdamaian. Jurnalisme perdamaian adalah jurnalisme yang jujur serta menentang kebohongan, slogan-slogan retoris, dan berita utama yang sensaisonal. Jurnalisme perdamaian diciptakan oleh masyarakat dan untuk masyarakat, melayani semua orang, terutama mereka yang tidak bersuara. Jurnalisme perdamaian tidak terfokus pada "breaking news" saja, tetapi juga berupaya menyelidiki penyebab konflik guna mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam dan berkontribusi memberi solusi dimulai dengan proses yang baik. Jurnalisme perdamaian berkomitmen menunjukkan berbagai alternatif terkait peningkatan perselisihan dan kekerasan verbal.
Berhati-hati sebelum membagikan berita/informasi di media sosial (Sumber: stux - pixabay.com)

Meskipun Paus Fransiskus secara khusus menyebut "jurnalis" atau "pewarta", sebenarnya surat beliau menyapa semua orang dari segala profesi. Surat ini juga relevan untuk masyarakat universal. Bagaimanapun harus disadari bahwa saat ini bukan jurnalis/pewarta saja yang memiliki kemampuan "menyebarkan" berita tetapi juga masyarakat awam.  Semakin canggihnya gawai dan pesatnya perkembangan media sosial daring (online), membuat sebuah berita/informasi dapat tersebar dengan sangat cepat hanya dalam hitungan detik.  Oleh karena itu, setiap pribadi diketuk untuk memiliki tanggung jawab sosial membantu menghentikan penyebaran berita/informasi bohong. Yuk tangkal hoax, galakkan jurnalisme perdamaian!

Depok, 15 Mei 2018
@dwiklarasari


Sumber bacaan:
Surat Paus Fransiskus pada World Communication Day 2018 yang secara lengkap dapat dibaca lewat tautan ini.

Artikel ini juga tayang di akun Kompasiana saya 


Jumat, 27 April 2018

Temukan Makna Healthy Living di Alam Sutera


Temukan Makna Healthy Living di Alam Sutera
Alexas Fotos - pixabay.com
Siapa sih yang tidak ingin punya rumah? Setiap individu, apalagi yang sudah berkeluarga, tentu berencana memiliki rumah, entah itu rumah tapak (landed house) ataupun unit apartemen. Namun, membeli rumah tidak semudah membalikkan telapak tangan. Boleh dibilang gampang-gampang susah, karena ada banyak hal yang harus dipertimbangkan! Bahkan, harga mahal bukanlah sebuah jaminan!

Idealnya, rumah berikut lingkungannya harus dapat memberi rasa aman dan nyaman serta mampu mendukung gaya hidup penghuninya. Lokasi hunian mesti berada di area bebas banjir; mudah dijangkau; dan didukung sarana transportasi yang memadai. Sementara, kelengkapan fasilitas menjadi harga mati! Fasilitas pendidikan dan kesehatan; tempat ibadah; pasar atau pusat perbelanjaan lain; juga tempat hiburan dan olahraga; semua harus tersedia. Lingkungan sehat dan asri juga menjadi syarat penting yang tak bisa diabaikan. Apalagi bagi masyarakat urban yang telah jenuh dengan teror polusi udara maupun suara.

Banyak pengembang turut ambil bagian dalam penyediaan hunian bagi masyarakat urban dalam hal ini untuk wilayah Jabodetabek. Pertanyaannya, ada gak sih dibangun hunian ideal seperti kriteria di atas? Tentu saja ada! Di antaranya adalah Kawasan Alam Sutera di Serpong, Tangerang, karya PT Alam Sutera Realty Tbk (Alam Sutera Group), salah satu pengembang properti terbesar di Indonesia. Yuk, kita telusuri bersama!

Hunian Berkonsep Healthy Living 
Alih-alih sekadar membangun rumah siap huni, Alam Sutera Group mempersembahkan sebuah kawasan terpadu (mixed-use development) yang diidamkan banyak orang. Betapa tidak, kawasan terpadu Alam Sutera bukan saja mengutamakan lokasi strategis serta kelengkapan fasilitas, tetapi juga menyediakan hunian ideal dalam lingkungan yang asri dan sehat. Hal ini sesuai dengan visi Alam Sutera Group yaitu fokus pada inovasi untuk meningkatkan kualitas hidup penghuninya.

Permukiman di Alam Sutera terintegrasi dengan pusat pendidikan, pusat perbelanjaan dan hiburan, juga pusat bisnis, perhotelan, bahkan industri. Kawasan terpadu ini ditata sedemikian rupa, sehingga yang tinggal di permukiman dapat merasakan rumah sebagai tempat kembali yang nyaman dan menyenangkan. Home sweet home! Tinggal di kawasan ini, kita tak perlu khawatir kehilangan waktu karena terjebak kemacetan. Tidak perlu pula menuai dampak buruk polusi udara dan suara. Lokasi berbagai fasilitas pendukung relatif mudah dijangkau, bahkan ada yang cukup dekat untuk ditempuh dengan berjalan kaki.

Kawasan Terpadu Alam Sutera di Serpong, Tangerang (https://www.alam-sutera.com)
Kawasan Terpadu Alam Sutera di Serpong, Tangerang (https://www.alam-sutera.com)

Di Alam Sutera tersedia fasilitas pendidikan, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, yang berkualitas bahkan bertaraf internasional. Siapa yang tidak kenal Sekolah Santa Laurensia atau Universitas Bina Nusantara? Untuk peribadatan tersedia fasilitas ibadah yang cukup besar, seperti Gereja Katolik Santo Laurensius dan Masjid Nur Asmaul Husna. Di Alam Sutera kita juga bisa menemukan banyak tempat bermain, belanja dan wisata kuliner, rekreasi dan olahraga. Ada tempat main Little Jungle Playground dan Magical Garden; kawasan kuliner The Flavor Bliss; Mall @ Alam Sutera; Living World Mall, yang berkonsep Home Living & Eat-tertainment Center; Pasar 8 yang bersih dan modern; IKEA dan Dechlaton; pusat olahraga multiguna; Spartan Futsal Field; dan sebagainya. Sementara, Rumah Sakit OMNI yang bonafide dan ternama siap memberikan layanan kesehatan terbaik. Tempat-tempat tersebut relatif populer bahkan menjadi ikon kawasan.

Berbagai fasilitas premium yang melengkapi Kawasan Alam Sutera (https://www.alam-sutera.com)
Berbagai fasilitas premium yang melengkapi Kawasan Alam Sutera (https://www.alam-sutera.com)

Bagaimana menjelajahi kawasan seluas 800 hektar ini, jika kita gak punya mobil? Jangan khawatir! Di Alam Sutera, tanpa mobil pun kita dapat bepergian. Demi menunjang kemudahan mobilitas penghuninya, Alam Sutera menyediakan sarana transportasi internal (internal shuttle bus). Bus yang dinamai Suteraloop ini menghubungkan titik-titik penting di seluruh kawasan Alam Sutera. Tersedia beberapa rute yang dapat membawa kita dari rumah ke berbagai fasilitas, dan sebaliknya. Lihat saja penampakan bus yang modern itu! Selain nyaman, informasi bus (rute, jadwal, halte, estimasi jarak dan waktu serta posisi) dapat diketahui lewat laman Suteraloop atau dengan mengunduh aplikasi android-nya.
Suteraloop, internal shuttle bus di kawasan Alam Sutera (https://www.alam-sutera.com)
Suteraloop, internal shuttle bus di kawasan Alam Sutera (https://www.alam-sutera.com)

Lebih dari segala kelengkapan fasilitas, hal yang sangat penting dan menjadi kekhasan Alam Sutera adalah tatanan kawasan yang asri. Alam Sutera menyajikan hunian yang selaras alam dengan pemandangan serta lingkungan hijau yang nyaman. Hal ini tidaklah mengherankan, karena sejak awal Alam Sutera sudah dikenal sebagai pionir pembangunan berwawasan lingkungan.

Danau buatan yang cukup besar dihadirkan tidak saja sebagai pengendali air atau antisipasi banjir, tetapi juga untuk mendukung terciptanya iklim mikro yang sejuk. Kesejukan oleh fitur air disempurnakan dengan penyediaan taman di titik-titik strategis serta penanaman pohon peneduh di dalam area klaster maupun di kawasan secara menyeluruh. Taman-taman serta jajaran pepopohan membuat kawasan tampak hijau dan asri sekaligus minim polusi. Area terbuka hijau 'Downtown Lake' yang berlokasi dekat danau dihadirkan sebagai ikon kawasan sekaligus sarana rekreasi dan olahraga.

Atmosfer yang sejuk dan tatanan lingkungan yang nyaman dan asri turut mendorong semangat penghuninya untuk berolahraga. Bersepeda, jalan sehat di jalur pedestrian, lari di jogging track, dan sebagainya. Alhasil, gaya hidup sehat pun dapat benar-benar terealisasi, sejalan dengan konsep healthy living dan green living yang diusung Alam Sutera.
  
Atmosfer kawasan yang sejuk dan asri merealisasikan gaya hidup sehat (https://www.alam-sutera.com)
Atmosfer kawasan yang sejuk dan asri merealisasikan gaya hidup sehat (https://www.alam-sutera.com)

Pilih Landed House atau Unit Apartemen?
Okelah tatanan kawasan dan fasilitasnya sangat menarik, tetapi adakah rumah yang sesuai dengan selera kita? Yuk, kita cek! Alam Sutera menghadirkan pilihan hunian sesuai kebutuhan maupun selera masyarakat urban. Ada produk rumah tapak (landed house); ada juga hunian vertikal. Meskipun berbeda, keduanya sama-sama memberikan kenyamanan serta mendukung gaya hidup sehat yang modern dan prestisius.

Untuk produk landed house, Alam Sutera menyediakan lingkungan perumahan dengan sistem klaster. Perumahan klaster adalah kompleks hunian yang menerapkan sistem satu pintu keluar-masuk. Ketahuilah, Alam Sutera adalah perumahan pertama di Indonesia yang menerapkan sistem klaster. Unit rumah dirancang tanpa pagar untuk memudahkan penghuni bersosialisasi dengan tetangga. Penghuni tidak perlu khawatir perihal keamanan rumahnya. Selain sistem satu gerbang yang menjamin keamanan klaster, pihak Alam Sutera juga mengaplikasikan sistem keamanan berteknologi tinggi yang terkontrol selama 24 jam. Laporan penghuni dapat diterima langsung di pusat pemantauan sehingga dapat segera ditindaklanjuti.

Hingga akhir 2016, Alam Sutera telah meluncurkan tak kurang dari 37 klaster, masing-masing terdiri dari 150-300 rumah. Klaster yang diluncurkan belakangan adalah Cluster Victoria, Cluster Orlanda, dan Cluster New Alba. Masing-masing memiliki karakteristik yang dipengaruhi desain dan lokasinya. Temukan kebahagiaan dan harmoni kehidupan yang dekat dengan alam di Cluster Victoria. Cluster Orlanda menjanjikan arti kehidupan mewah yang sebenarnya. Sementara, Cluster New Alba dipromosikan sebagai klaster utama di area premium Alam Sutera dengan harga yang terjangkau.

Landed house dengan sistem klaster (https://www.alam-sutera.com)
Landed house dengan sistem klaster (https://www.alam-sutera.com)

Untuk hunian vertikal dibangun dua jenis apartemen, yaitu low-rise apartment (Lloyd) dan high-rise apartment (Paddington Heights). Lloyd Alam Sutera adalah hunian 5 lantai yang menggabungkan konsep landed house dan kenyamanan fasilitas apartemen. Total ada 22 tower masing=masing dilengkapi basement. Setiap tower terdiri dari 20 unit (4 unit/lantai), berisi tipe unit 2 Bedroom dan 3 Bedroom. Lloyd Alam Sutera dengan satu gerbang memiliki konsep natural di mana 70%-nya berupa ruang terbuka. Sangat pas untuk mereka yang menyukai suasana alami. Tersedia pula fasilitas sekelas apartemen yang menunjang gaya hidup sehat, seperti jogging track, lapangan basket, kolam renang, dan lain-lain.

Sementara itu, Paddington Heights adalah apartemen high-rise yang menawarkan beberapa tipe unit, yaitu 1 Bedroom, 2 Bedroom, 2 Bedroom Plus, 3 Bedroom Compact, 3 Bedroom Loft, dan 4 Bedroom Loft Garden. Apartemen premium siap huni ini berada di lokasi yang sangat strategis di pusat kota mandiri Alam Sutera. Hunian vertikal ini dekat dengan kampus Universitas Binus; kawasan CBD dan gedung-gedung perkantoran, seperti Menara Prominence dan Gedung Synergy; pusat perbelanjaan dan hiburan seperti Mall @ Alam Sutera; dan sebagainya. Fasilitas pendukung gaya hidup sehat juga relatif lengkap, seperti kolam renang, jogging track, fitnes center, sauna, dan lain-lain. Paddington Heights Apartment Towers sangat cocok untuk mahasiswa, para eksekutif muda, dan siapa saja yang menyukai kehidupan di pusat kota yang modern, praktis, dan berkelas.  

Llyod Low-Rise Apartment dan Paddington Haight Apartment Towers (https://www.alam-sutera.com)
Llyod Low-Rise Apartment dan Paddington Haight Apartment Towers (https://www.alam-sutera.com)

Investasi Menjanjikan
Kawasan terpadu Alam Sutera yang dikembangkan sejak tahun 1994, tumbuh pesat dan kini menjelma menjadi kota mandiri. Lokasi yang strategis dan aksesibilitas yang mudah, terutama karena dekat tol Jakarta-Merak, membuat kawasan komersial di Alam Sutera menjadi incaran banyak investor. Hal ini berpengaruh langsung terhadap nilai jual dan/atau sewa tanah maupun rumah (landed house ataupun unit apartemen). Harga hunian di Alam Sutera cenderung naik dari tahun ke tahun. Jadi, berinvestasi di Alam Sutera boleh dibilang sangat menguntungkan.  

Sebagian Kota Mandiri Alam Sutera yang modern dan asri (https://www.alam-sutera.com)Sebagian
Sebagian Kota Mandiri Alam Sutera yang modern dan asri (https://www.alam-sutera.com)

Tak bisa dimungkiri memiliki rumah di Alam Sutera menjadi idaman banyak orang. Boleh dibilang Alam Sutera menjadi salah satu tempat tinggal impian. Selain memberi kenyamanan hidup modern, kawasan dengan atmosfer alami ini juga mendukung tren gaya hidup sehat. Satu lagi yang tak kalah penting, hunian di kawasan terpadu Alam Sutera adalah investasi menjanjikan, karenanya merupakan pilihan yang cerdas. Saya pribadi sangat tertarik. Bagaimana dengan rekan-rekan Kompasianer? Dapatkan informasinya lebih lengkap di situs resmi Alam Sutera.

Depok, 27 April 2018
@dwiklarasari

Artikel ini juga dimuat dalam blog keroyokan Kompasiana 

Sumber bacaan:
https://www.alam-sutera.com/default.html

Kamis, 26 April 2018

Mewaspadai Tingkat "Bahaya" Sebuah Panggilan Telepon Tak Dikenal


Belum lama ini, sebuah nomor tidak dikenal menghubungi ponsel saya. Tidak saya angkat, tidak pula saya reject. Perasaan saya mengatakan telepon itu dari telemarketer atau sales yang menawarkan produk asuransi/perbankan, seperti yang sering kali terjadi. Karena pernah tertipu, saya sedikit waspada menerima telepon dari nomor tak dikenal. Pengalaman saudara yang dihipnotis lewat panggilan telepon hingga akhirnya kehilangan puluhan juta rupiah semakin menguatkan kewaspadaan itu.  

Kembali ke cerita mengenai panggilan tak dikenal tadi. Biasanya, bila tidak diangkat, telepon dari sales akan "reda" dengan sendirinya. Sementara kalau telepon datang dari saudara, teman, atau klien baru, biasanya disusul SMS yang menyampaikan bahwa mereka baru saja menelepon. Atau jika nomor telepon seluler mungkin menyertakan pesan via Whatsapp. Namun, itu tidak terjadi! Panggilan dari nomor asing tersebut terus saja datang nyaris seperti teror. Pagi, siang, sore, bahkan malam hari. Bukan hanya 1-2 kali tetapi lebih dari 3 kali sehari; dan itu berlangsung selama berhari-hari. Saya mulai curiga.


Mulailah saya mencari informasi lewat Eyang Google. Saya lacak nomor sesuai kode area telepon kabel rumah (021), yaitu area Jadetabek (Jakarta Depok Tangerang Bekasi). Ternyata, nomor telepon kabel rumah area Jadetabek terbagi lagi menjadi beberapa wilayah STO (Sentral Telepon Otomat). Dari 6-8 digit angka, 2-4 digit pertama menunjukkan nomor wilayah dari lokasi pengguna di area Jadetabek. Dari sini ketahuan bahwa 2-4 digit pertama nomor yang menghubungi saya tidak terdaftar di lokasi mana pun. Kecurigaan saya semakin bertambah.

Sementara nomor asing tersebut terus-menerus membuat ponsel berdering, saya sibuk minta bantuan Eyang Google. Saya gunakan kata kunci "siapa yang telepon" untuk mencari informasi. Setelah saya tekan ENTER, Eyang Google menampilkan daftar artikel dari berbagai platform. Masing-masing menawarkan jawaban atas pertanyaan "siapa yang telepon" yang saya ajukan. Salah satu platform yang menarik perhatian saya adalah untuk memroses ini adalah Tellows.net. Langsung saja saya klik untuk menelusurinya.


Pada laman yang terbuka, tersedia kotak bertuliskan "Masukkan nomor" di sudut kanan atas. Segera saja saya masukkan nomor telepon tak dikenal yang selama berhari-hari telah mengganggu saya. Voila! Dalam sekejap saya mendapat informasi rating nomor terkait. Saya mendapat informasi berupa peta dari area mana panggilan tersebut datang; berapa banyak orang yang telah melaporkan nomor tersebut; jenis panggilan telepon; permintaan pencarian untuk nomor terkait; dan sebagainya. Dicantumkan pula berapa banyak orang yang telah memberikan komentar (a.k.a. komplain) atas nomor telepon tersebut.


Sebagai kesimpulan, pada satu bagian laman dicantumkan angka skor. Kita dapat menilai panggilan berdasarkan skor yang diberikan oleh Tellows. Angka skor berkisar antara skala 1 (sangat dapat dipercaya) sampai dengan 9 (tidak dapat dipercaya). Skor tersebut agaknya dibuat berdasarkan jumlah laporan berikut komplain penerima telepon.

Nomor yang saya masukkan memiliki angka skor 6. Wow! Lalu pada bagian selanjutnya saya dapat membaca puluhan komplain yang disampaikan oleh mereka yang merasa dirugikan. Bunyi komplain tersebut antara lain: jangan diangkat ya, bahaya; hati-hati, ngakunya survei a/n bank ternyata ujung-ujungnya menanyakan transaksi; nomor ini harus diwaspadai; sangat mengganggu; dan sebagainya.

Senang juga menemukan platform seperti Tellows.net yang sangat membantu. Hanya dengan memasukkan nomor telepon, saya bisa mengetahui tingkat risiko-kalau tidak bisa dibilang bahaya-atas sebuah panggilan telepon. Platform yang memiliki database nomor spam dan scam ini menolong pengguna untuk menengarai apakah sebuah nomor telepon mengganggu dan/atau berbahaya. 

Menurut saya, platform semacam ini (dan memang ada beberapa) bisa dikatakan sangat berguna, karena banyak nomor tak dikenal yang bergentayangan mencari mangsa. Mungkin ada nomor yang sifatnya hanya mengganggu karena datang dari para telemarketer atau sales yang konon tak pernah putus asa dalam menawarkan produknya.

Namun, besar pula kemungkinan datang dari para penipu kelas wahid, yang bahkan hanya melalui telepon bisa menghipnotis korbannya sedemikian rupa. Lewat platform semacam Tellows ini, kita juga dapat membagikan pengalaman kita, agar orang lain bisa lebih waspada. Penggemar belanja daring atau pebisnis daring juga bisa memanfaatkan platform ini untuk mewaspadai penipuan dalam transaksi jual-beli.  

Tidak mengangkat telepon dari nomor yang belum kita simpan kadang juga menjadi sebuah dilema. Jangan-jangan telepon itu dari klien baru (terutama bagi pekerja lepas atau pebisnis daring); atau malah dari saudara, teman, atau kerabat yang hendak mengabarkan berita penting.

Untuk menyiasatinya kita harus rajin dan teliti menyimpan nomor siapa pun yang sudah kita kenal atau pernah terhubung ke dalam fasilitas phonebook. Meskipun tidak mengangkat telepon, tetapi jika perasaan kita kuat mengatakan "semua akan baik-baik saja" kita bisa mengirim SMS untuk menanyakan identitas penelepon berikut keperluannya. Konon, ini pun berisiko, tetapi demi sopan santun tak ada salahnya. [@dwiklarasari]   

Depok, 25 April 2018

Note:
Artikel ini juga dimuatdi akun saya di blog keroyokan Kompasiana dengan judul sama. Klik link berikut Mewaspadai Tingkat "Bahaya" Sebuah Panggilan Telepon Tak Dikenal    

Selasa, 28 Oktober 2014

Nasib Bahasa Indonesia Memprihatinkan (?)


Dalam posisinya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia memiliki jumlah penutur terbanyak di antara bahasa-bahasa lain yang terdapat di Nusantara.Menurut catatan Wikipedia, bahasa Indonesia dipahami dan dituturkan oleh lebih dari 90% warga Indonesia. Bolehlah jika dikatakan bahasa Indonesia digunakan oleh semua warga Indonesia.Selain itu, bahasa Indonesia digunakan hampir di segala bidang kehidupan: sebagai bahasa pengantar dan pergaulan antaretnis dan juga sebagai bahasa resmi dalam kegiatan pemerintahan, dunia kerja, dunia pendidikan, dan banyak lagi.


Penutur bahasa Indonesia ternyata juga tersebar di luar wilayah Nusantara. Perpindahan pendudukkarena berbagai alasan—sejak zaman kolonial hingga kini—telah membawa bahasa Indonesia ke berbagai penjuru dunia. Kini, penutur bahasa Indonesia dapat dijumpai di berbagai negara, seperti Malaysia, Filipina, Korea, Hong Kong, Singapura, Belanda, Jerman, Amerika Serikat, serta beberapa negara Timur Tengah. Bahkan, bahasa Indonesia termasuk dalam 10 besar bahasa dengan jumlah penuturterbanyak. Menurut World Almanac (2005), bahasa Indonesia berada pada tempat ke-7 dengan jumlah penutur sebanyak 176 juta orang. Tahun 2009, Ethnologue: Languages of the world menempatkan bahasa Indonesia—sebagai bahasa dengan jumlah penutur terbanyak—pada peringkat ke-9 setelah bahasa Portugis.


Nah, jika sedemikian populer, mengapa dikatakan bahwa nasib bahasa Indonesia memprihatinkan? Dengan banyaknya jumlah penutur, tentu bahasa Indonesia pun tidak termasuk salah satu dari ribuan bahasa yang terancam punah, bukan? Mungkin bukan hal berlebihan juga bila kita meyakinkan diri bahwa bahasa Indonesia memiliki kedudukan yang cukup kokoh. Lalu, keprihatinan apa yang dimaksudkan? Mungkinkah menyebut “nasib bahasa Indonesia memprihatinkan” hanya sebuah pernyataan emosional?


Setelah menelusuri jejak pemberitaan, barulah saya paham bahwa keprihatinan yang dimaksud di atas berkaitan dengan penggunaan dan perkembangan bahasa Indonesia dewasa ini. Para ahli bahasa menyebutkan, bahwa penggunaan bahasa Indonesia berkembang ke arah yang kurang diharapkan—terutama dalam posisinya sebagai bahasa nasional. Ternyata, disadari atau tidak, penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar semakinkurang diperhatikan bahkan cenderung diremehkan. Konon, bahasa-bahasa asing—terutama Inggris—dan bahasa gaul justru lebih diminati. Kondisi itu tentu sangat bertentangan dengan upaya para pemuka bahasa untuk mengusulkan diterimanya bahasa Indonesia sebagai bahasa Internasional.


Kita perlu jujur mengakui bahwa sebagai bahasa resmi negara, bahasa Indonesia sering kali kurang mendapat tempat yang seharusnya. Dalam pidato atau pernyataan resmi, para pejabat pemerintah atau sebagian akademisi yang melakukan presentasi dalam forum nasional, sering kali menyisipkan istilah-istilah asing yang sesungguhnya telah memiliki padanan dalam bahasa Indonesia. Tak kurang pula instansi pemerintah, media televisi serta para pelaku bisnis. Pemakaian bahasa Indonesia untuk petunjuk, penamaan tempat, produk,layanan, dan acara, sering kali kurang diperhatikan kebenarannya atau malah dicampuradukkan dengan bahasa asing—terutama bahasa Inggris. Sayang sekali, beberapa penggunaannya terkadang kurang tepat dan justru menghasilkan istilah rancu. Lebih memprihatinkan lagi, apabila penggunaan bahasa Indonesia dalam ragam bahasa gaul—yang cenderung melenceng dari bahasa baku—merambah hingga ke forum resmi bahkan dalam penulisan laporan resmi atau tulisan ilmiah dalam dunia pendidikan.Tak sedikit dosen/guru yang mengeluh tentang “salah tempat” penggunaan bahasa gaul anak muda masa kini ke dalam tulisan ilmiah.

Petunjuk di area publik ditulis tanpa peduli kebenarannya. (Sumber foto: atas - ruangimaji.wordpress.com; bawah - rubrikbahasa.files.wordpress.com)


Beberapa fenomena di atas yang masih sering dianggap masalah sepele itu, patut diakui sebagai sebuah kondisi memprihatinkan.Lahirnya fenomena itu didukung oleh pandangan-pandangan keliru yang tumbuh dalam masyarakat. Beberapa pandangan keliru itu, misalnya penggunaan bahasa asing terasa lebih modern dan bergengsi, lebih menjual, sertaterkesan lebih berpendidikan. Pandangan keliru itu cenderung membuat semakin banyak orang—terutama generasi muda—yang “meninggalkan” bahasa Indonesia dan tidak lagi merasa perlu untuk mempelajarinya.


Nah, apakah kita akan tinggal diam menyimak berbagai keprihatinan tersebut? Bagaimanapun, masalah bahasa bukan hanya menjadi urusan badan bahasa, para ahli bahasa, lembaga perguruan tinggi,dan pemerintah. Masalah bahasa seharusnya menjadi tanggung jawab bersama masyarakat pemilik bahasa. Dengan demikian seluruh bangsa Indonesia harus turut peduli, termasuk generasi muda. Perlu diingat bahwa sebagai alat komunikasi, bahasa Indonesia memiliki berbagai peran strategis: sebagai identitas bangsa, juga sarana berkompetisi dalam kancah politik, ekonomi, dan teknologi. Jadi, bagaimana kita harus menyikapi masalah tersebut?


Menurut saya perbaikan harus dimulai dari diri kita masing-masing. Tidak sulit, hanya perlu keikhlasan. Bagaimana?


Tak harus mengharamkan penggunaan bahasa gaul, namun kita hendaknya memahami sebaik mungkin bahasa Indonesia yang baik dan benar. Lalu, gunakan masing-masing ragam bahasa itu pada tempatnya.

  • Para pelajar hendaklah menulis jawaban soal ujian atau laporan praktikum dengan bahasa baku. Demikian pula para karyawan dalam membuat presentasi atau laporan kerja.
  • Biasakan diri menggunakan bahasa resmi dalam forum resmi, termasuk saat berbicara dengan orang-orang yang dituakan atau dihormati  dalam forum tersebut.
  • Meskipun hanya sebuah pesan singkat lewat ponsel, jika itu berkaitan dengan urusan resmi, janganlah menggunakan bahasa gaul. Namun usah mempersoalkan pesan pribadi antaranak muda yang ditulis dalam bahasa gaul.

Mempelajari bahasa asing sangat penting terutama untuk melakukan komunikasi dalam forum internasional. Namun, tetaplah bijak berbahasa Indonesia yang baik dan benar dalam sidang atau forum nasional.

  • Silakanberkirim pesan kepada kawan akrab dalam bahasa campur aduk, tetapi pastikan kita pun lihai menulis laporan, karya ilmiah, dan surat-surat resmi dalam bahasa ilmiah (bahasa Indonesia baku).
  • Pihak-pihak lain—seperti media massa, televisi, pelaku bisnis, dll.—hendaknya rela turut mendudukkan bahasa Indonesia pada tempat yang selayaknya.
 
Bahasa apa yang sebenarnya ingin digunakan?  (Sumber foto: kiri - www.facebook.com; tengah & kanan - dokumen pribadi)

Tindakan-tindakan di atas mungkin hanya langkah-langkah kecil, namun bukan tanpa arti. Bagaimanapun, rasa cinta akan bahasa sebaiknya mewujud. Tidaklah cukup bila kita hanya bersumpah dan berbangga memiliki bahasa yang mampu mengatasi ratusan bahasa daerah serta menyatukan puluhan suku bangsa yang tersebar di wilayah Nusantara. Siapa lagi yang wajib menjunjung bahasa persatuan—bahasa Indonesia—jika bukan kita, bangsa Indonesia?

Depok, 28 Oktober 2014

Note:
Artikel ini juga dimuat di akun blog saya di Kompasiana
Silakan baca di sini.