Kamis, 26 April 2018

Mewaspadai Tingkat "Bahaya" Sebuah Panggilan Telepon Tak Dikenal


Belum lama ini, sebuah nomor tidak dikenal menghubungi ponsel saya. Tidak saya angkat, tidak pula saya reject. Perasaan saya mengatakan telepon itu dari telemarketer atau sales yang menawarkan produk asuransi/perbankan, seperti yang sering kali terjadi. Karena pernah tertipu, saya sedikit waspada menerima telepon dari nomor tak dikenal. Pengalaman saudara yang dihipnotis lewat panggilan telepon hingga akhirnya kehilangan puluhan juta rupiah semakin menguatkan kewaspadaan itu.  

Kembali ke cerita mengenai panggilan tak dikenal tadi. Biasanya, bila tidak diangkat, telepon dari sales akan "reda" dengan sendirinya. Sementara kalau telepon datang dari saudara, teman, atau klien baru, biasanya disusul SMS yang menyampaikan bahwa mereka baru saja menelepon. Atau jika nomor telepon seluler mungkin menyertakan pesan via Whatsapp. Namun, itu tidak terjadi! Panggilan dari nomor asing tersebut terus saja datang nyaris seperti teror. Pagi, siang, sore, bahkan malam hari. Bukan hanya 1-2 kali tetapi lebih dari 3 kali sehari; dan itu berlangsung selama berhari-hari. Saya mulai curiga.


Mulailah saya mencari informasi lewat Eyang Google. Saya lacak nomor sesuai kode area telepon kabel rumah (021), yaitu area Jadetabek (Jakarta Depok Tangerang Bekasi). Ternyata, nomor telepon kabel rumah area Jadetabek terbagi lagi menjadi beberapa wilayah STO (Sentral Telepon Otomat). Dari 6-8 digit angka, 2-4 digit pertama menunjukkan nomor wilayah dari lokasi pengguna di area Jadetabek. Dari sini ketahuan bahwa 2-4 digit pertama nomor yang menghubungi saya tidak terdaftar di lokasi mana pun. Kecurigaan saya semakin bertambah.

Sementara nomor asing tersebut terus-menerus membuat ponsel berdering, saya sibuk minta bantuan Eyang Google. Saya gunakan kata kunci "siapa yang telepon" untuk mencari informasi. Setelah saya tekan ENTER, Eyang Google menampilkan daftar artikel dari berbagai platform. Masing-masing menawarkan jawaban atas pertanyaan "siapa yang telepon" yang saya ajukan. Salah satu platform yang menarik perhatian saya adalah untuk memroses ini adalah Tellows.net. Langsung saja saya klik untuk menelusurinya.


Pada laman yang terbuka, tersedia kotak bertuliskan "Masukkan nomor" di sudut kanan atas. Segera saja saya masukkan nomor telepon tak dikenal yang selama berhari-hari telah mengganggu saya. Voila! Dalam sekejap saya mendapat informasi rating nomor terkait. Saya mendapat informasi berupa peta dari area mana panggilan tersebut datang; berapa banyak orang yang telah melaporkan nomor tersebut; jenis panggilan telepon; permintaan pencarian untuk nomor terkait; dan sebagainya. Dicantumkan pula berapa banyak orang yang telah memberikan komentar (a.k.a. komplain) atas nomor telepon tersebut.


Sebagai kesimpulan, pada satu bagian laman dicantumkan angka skor. Kita dapat menilai panggilan berdasarkan skor yang diberikan oleh Tellows. Angka skor berkisar antara skala 1 (sangat dapat dipercaya) sampai dengan 9 (tidak dapat dipercaya). Skor tersebut agaknya dibuat berdasarkan jumlah laporan berikut komplain penerima telepon.

Nomor yang saya masukkan memiliki angka skor 6. Wow! Lalu pada bagian selanjutnya saya dapat membaca puluhan komplain yang disampaikan oleh mereka yang merasa dirugikan. Bunyi komplain tersebut antara lain: jangan diangkat ya, bahaya; hati-hati, ngakunya survei a/n bank ternyata ujung-ujungnya menanyakan transaksi; nomor ini harus diwaspadai; sangat mengganggu; dan sebagainya.

Senang juga menemukan platform seperti Tellows.net yang sangat membantu. Hanya dengan memasukkan nomor telepon, saya bisa mengetahui tingkat risiko-kalau tidak bisa dibilang bahaya-atas sebuah panggilan telepon. Platform yang memiliki database nomor spam dan scam ini menolong pengguna untuk menengarai apakah sebuah nomor telepon mengganggu dan/atau berbahaya. 

Menurut saya, platform semacam ini (dan memang ada beberapa) bisa dikatakan sangat berguna, karena banyak nomor tak dikenal yang bergentayangan mencari mangsa. Mungkin ada nomor yang sifatnya hanya mengganggu karena datang dari para telemarketer atau sales yang konon tak pernah putus asa dalam menawarkan produknya.

Namun, besar pula kemungkinan datang dari para penipu kelas wahid, yang bahkan hanya melalui telepon bisa menghipnotis korbannya sedemikian rupa. Lewat platform semacam Tellows ini, kita juga dapat membagikan pengalaman kita, agar orang lain bisa lebih waspada. Penggemar belanja daring atau pebisnis daring juga bisa memanfaatkan platform ini untuk mewaspadai penipuan dalam transaksi jual-beli.  

Tidak mengangkat telepon dari nomor yang belum kita simpan kadang juga menjadi sebuah dilema. Jangan-jangan telepon itu dari klien baru (terutama bagi pekerja lepas atau pebisnis daring); atau malah dari saudara, teman, atau kerabat yang hendak mengabarkan berita penting.

Untuk menyiasatinya kita harus rajin dan teliti menyimpan nomor siapa pun yang sudah kita kenal atau pernah terhubung ke dalam fasilitas phonebook. Meskipun tidak mengangkat telepon, tetapi jika perasaan kita kuat mengatakan "semua akan baik-baik saja" kita bisa mengirim SMS untuk menanyakan identitas penelepon berikut keperluannya. Konon, ini pun berisiko, tetapi demi sopan santun tak ada salahnya. [@dwiklarasari]   

Depok, 25 April 2018

Note:
Artikel ini juga dimuatdi akun saya di blog keroyokan Kompasiana dengan judul sama. Klik link berikut Mewaspadai Tingkat "Bahaya" Sebuah Panggilan Telepon Tak Dikenal    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar