Tampilkan postingan dengan label Tentang Saya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang Saya. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Maret 2020

Tentang Saya

Foto @dwi_klarasari Lokasi: Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia, Bogor

Nama pena saya 'Dwi Klarasari' diambil dari nama lengkap yang boleh dibilang sangat panjang dan sangat seru bila dikisahkan (Silakan baca kisahnya dalam artikel Arti Sebuah Nama). Saya hanya mengambil dua kata saja agar lebih mudah diingat dan cepat dalam menuliskannya. Saya dilahirkan pada awal Februari di kota brem atau kota pecel, Madiun, Jawa Timur. Saya juga pernah memakai nama alias, seperti Margareth Deka, Klara Sr, dll.

Ketertarikan saya pada dunia literasi sebenarnya sudah ada semenjak kecil (SD), terlihat dari hobi membaca dan mengarang yang saya tekuni. Saat duduk di sekolah tingkat menengah saya bahkan mencoba peruntungan mencari tambahan uang jajan dengan mengirim tulisan/reportase singkat ke koran atau majalah. Ada rasa senang sekaligus bangga jika tulisan terbit dan mendapat wesel sebagai imbalan. Salah satu buku yang sangat berpengaruh dalam memelihara passion (renjana) saya adalah Mengarang itu Gampang karya Arswendo Atmowiloto. 

Karena satu dan lain hal saat menempuh pendidikan tinggi saya justru mendalami bidang teknik, tepatnya Teknik Arsitektur. Semenjak di tingkat akhir dan setelah lulus, ribuan hari saya habiskan untuk menempuh jalan profesi sesuai pendidikan tersebut. Bekerja di konsultan ataupun kontraktor. Namun, saya sempat pula menekuni dunia pendidikan saat merantau ke kota Medan--menjadi staf pengajar di Fakultas Teknik Universitas Katolik Santo Thomas; mengajar di Program D1 beberapa institusi swasta; juga mengajar di sebuah SMK Grafika. Di sela-sela tugas profesi, saya tetap menekuni dunia tulis-menulis.

Setelah melanglang buana, akhirnya takdir membawa saya kembali menapaki jalan aksara yang telah menjadi renjana semenjak kecil. Tahun 2002 saya memasuki dunia penerbitan. Di Penerbit Galaxy Puspa Mega saya didapuk sebagai editor yang bertugas mengelola sejumlah tim penulis sekaligus membidani terbitnya sejumlah buku pelajaran dari tingkat SD s/d SMA/SMK. Pada waktu itu saya mendapat bagian untuk bidang pelajaran Sains/IPA (SD); Sains, Geografi, dan Fisika (SMP/SMA); dan Teknik (SMK). 

Selain sebagai editor in house, saya juga merintis pekerjaan sebagai penulis lepas dan menyunting naskah/buku non-pelajaran. Saya pun masih asyik merangkai kata sebagai hobi, seperti menulis puisi, cerpen, dan sebagainya. Menulis sebagai profesi dan hobi sering kali hampir tak jelas batasnya. Namun satu hal yang patut disyukuri adalah profesi yang saya lakoni telah sesuai dengan passion (renjana) saya. Kala itu saya pun bertekad untuk menjadi expert di bidang tersebut dengan memanfaatkan berbagai kesempatan untuk mengembangkan ilmu dan keterampilan (lewat workshop, seminar, dsb.); juga tak bosan-bosan belajar secara autodidak tentang banyak hal terkait dunia tulis-menulis dan penerbitan. 

Pada satu masa saya pun memutuskan untuk menjadi pekerja lepas. Berbagai pekerjaan terkait tulis-menulis dan penerbitan saya lakoni secara mandiri. Saya menjadi editor; menulis artikel dan resensi; menjual naskah buku ke penerbit; menjadi penulis bayangan hingga membantu penulis lain untuk menerbitkan buku secara mandiri (self publishing). Belakangan saya mencoba untuk menjadi lebih pede dengan menyebut diri saya seorang writerpreneur. 

Demikianlah sekelumit tentang saya.  

Salam Literasi!

Senin, 10 Mei 2010

INTERNET Membuat Dunia (ku) Semakin Tak Berbatas

Salah satu hobiku sejak duduk di bangku Sekolah Dasar adalah korespondensi. Surat pertamaku kukirim untuk Ayah tercinta yang sedang belajar di kota Yogya. Saat-saat menunggu balasannya adalah waktu yang menegangkan. Ketika Pak Pos (yang kala itu masih bersepeda) datang, tak pelak aku pun selalu melonjak kegirangan. Surat-suratku berikut kukirim untuk teman dan sahabat penaku.
Semasa SMA sering aku duduk berkutat di meja belajar hingga lewat tengah malam. Setiap mengintip Ayah mengira aku belajar keras
untuk ulangan esok hari. Namun Beliau akan terbelalak saat mendatangi mejaku. Karena yang ada di depanku bukanlah buku pelajaran atau catatan… tetapi lembaran-lembaran surat yang sedang kuselesaikan. Saat itu sahabat penaku ada belasan bertebaran di berbagai kota dan pulau di Indonesia. Saat Ayah memutuskan pindah rumah di pinggiran kota Semarang, semua surat jatuh di rumah Pak RT. Kasihan Pak RT… setiap beberapa hari sekali Beliau harus datang ke rumahku untuk mengantar surat-surat yang terkirim untukku. Lebih kasihan lagi, Suster Kepala di SMA-ku. Keputusan Beliau untuk menyensor surat-surat yang diterima siswanya , “maaf” menjadi senjata makan tuan. Olala… tugas Beliau akan menjadi semakin berat jika teman-temanku melayangkan suratnya ke sekolahku. Surat temanku sering kali ada berlembar-lembar… :-)

Entah mulai kapan tak begitu kuingat. Mungkin d
i era 80-an. Tak kuingat pula siapa yang pertama memperkenalkannya padaku. Tiba-tiba saja aku sudah mengenal internet. Kala itu warung internet (warnet) belum sebanyak sekarang. Tapi ada teman yang cukup berada yang bisa melakukan koneksi internet di rumahnya. Saat itu internet membuatku begitu takjub… tanpa kutahu siapa penemunya dan bagaimana cara kerjanya. Yang ada di benakku hanyalah: internet itu penemuan hebat! Aku bisa berkirim surat bahkan mengobrol dalam suatu komunitas tanpa harus pergi ke kantor pos. Aku pun tak perlu lagi menunggu berhari-hari, berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk mendapat balasan/tanggapan. E-mail telah menggantikan komunikasi berbasis kertas surat. Alhasil, kedatangan Pak Pos (yang telah berganti dengan sepeda motor) menjadi tak sesering waktu-waktu sebelumnya.

Internet berkembang begitu pesat. Meski tidak semua orang berniat mencari tahu sejarah penemuannya, sebagian besar orang kini merasa harus m
ampu memanfaatkan internet. Tidak hanya generasi yang lahir di era 80-an atau 90-an, generasi yang lahir beberapa dekade sebelumnya pun banyak yang merasa belum eksis bila belum bersentuhan dengan “dunia ajaib itu”. Tak hanya sebagai sarana komunikasi, Internet dengan cepat menyusup dan berperan dalam segala bidang kehidupan. Pendidikan dan riset, bisnis dan perbankan, administrasi pemerintahan, sosialisasi, pers serta penerbitan, dan sebagainya.
  • Pada masaku sekolah informasi hanya dapat ditemukan di buku-buku. Tapi murid sekolah di era internet ini tidak lagi menganggap buku sebagai gudang ilmu. Mereka mampu mendapatkan informasi tanpa memiliki buku. INTERNET adalah jawabannya! Sosok ini telah mampu menggantikan peran buku dan perpustakaan.
  • Di era internet transaksi jual-beli tak harus bertatap muka. Dari sekedar membeli asesoris hingga baju, buku hingga barang elektronik, onderdil hingga mobil… semua bisa dilakukan melalui INTERNET.
  • Bayar-membayar segala macam tagihan, cek rekening, transfer dana, dan apapun kegiatan perbankan bisa dilakukan melalui INTERNET.
  • Peranan INTERNET bagi dunia pers dan penerbitan ataupun bidang keamanan.. tak perlu dipertanyakan lagi.
Di internet telah tersedia berbagai mesin pencari (search engine, seperti: google, altavista, infoseek, alweb, dsb) yang semakin canggih dan bervariasi. Dengan menulis satu kata kunci (keyword) atau lebih pada sebuah search engine kita dapat menemukan “banyak hal” (kalau tak boleh dibilang “apapun”) yang kita mau. Ensiklopedi, kamus, modul, mesin konversi (satuan, mata uang, dll, berikut kalkulator), info cuaca, info waktu di seluruh dunia, dan banyak lagi. Semua akan tersaji cepat pada layar monitor yang hanya berukuran sekian inchi.

INTERNET dengan segala kelebihannya telah menguatkan lahirnya era globalisasi. Era di mana tak ada lagi batas-batas nyata yang memisahkan berbagai bidang kehidupan di dunia. Batas geografis, politis, da
n ideologi tidak lagi menjadi penting. Jika pada zaman Marcopolo dunia terasa amat sangat luas dengan benua-benua terpisahkan oleh lautan dan samudra, maka kini dunia seolah tak berbatas. Sekarang... menit pertama kutulis/ucapkan hello dari tepian Jakarta, tak sampai menit kedua temanku di Skive-kota di kerajaan kecil Denmark dekat kutub utara sudah membalas sapaku itu. Hobi travelling-ku yang sering terkendala oleh dana sedikit terpenuhi dengan adanya INTERNET. Tanpa membeli tiket dan pergi keluar rumah, kini aku bisa melang-lang melihat keelokan pulau-pulau di Indonesia bahkan pergi ke Italia-negeri impianku.

Dunia semakin tanpa bat
as dengan kecanggihan World Wide Web (www) atau web di INTERNET. Menurutku penemuan www ini sangat menakjubkan. Berbagai informasi (dokumen/tulisan, gambar, suara, gambar+suara, dll) dari seluruh benua di planet Bumi ini dapat ditemukan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Dari wilayah di belahan bumi utara hingga selatan, dari belahan timur hingga barat, bahkan dari luar angkasa sekalipun. Dunia benar-benar semakin tak berbatas. “Dunia hanya selebar daun kelor” atau tepatnya “dunia hanya selebar monitor”. Tunggu... kini dunia bahkan hanya menjadi selebar LCD telepon seluler-yang bisa mencapai 2,5 x 3,5 cm saja. Sebab, oleh perkembangan teknologi, kini internet pun dapat diakses melalui telepon seluler.

Dunia semakin tak berbatas! Menurut sumber yang dapat dipercaya (www.internetworldstats.com) hingga tahun 2008 ada kira-kira 1,5 miliar pengguna internet dari total 6,7 miliar penduduk dunia pada saat itu. Artinya, lebih dari 20% penduduk dunia mengandalkan INTERNET . Di Indonesia persentasenya diperkirakan mencapai 13% dari jumlah penduduk saat itu. Survei membuktikan, pengguna internet terus berkembang dan meningkat rata-rata 20%. Jika menggunakan hitungan kasar, tak sampai 50 tahun lagi semua generasi sudah terikat dalam “satu dunia mini” internet.

Waktu terus berjalan. Banyak perubahan dan perkembangan. Setiap orang berubah dan berkembang. Sekolah berpindah, rumah tinggal berpindah, teman datang dan pergi silih berganti, bekerja ke lain kota atau ke lain pulau, bahkan melang-lang hingga ke negeri seberang. Alamat surat berubah, nomor telepon berganti, e-mail address berubah, … dan kadang kala semua itu luput dari catatan pribadi. Akibatnya, banyak orang sering kali kehilangan komunikasi (lost contact) dengan keluarga, sahabat,dan orang-orang yang pernah hadir dalam hidupnya. Tapi jangan takut, siapapun yang pernah mencatatkan diri dalam dunia maya INTERNET, akan dengan mudah ditemukan. Saat ini begitu banyak situs jejaring sosial di internet yang berjasa menemukan “orang hilang” dan menghubungkan kembali banyak pertemanan yang lepas di masa lalu. Facebook, Friendster, Twitter, Myspace, dan banyak lagi. Jika kuketik nama satu temanku yang “hilang” pada search engine (asalkan dia pernah menuliskan namanya di internet misalnya terkait pekerjaan, tulisan, blog, jejaring sosial, dan sebagainya) maka kemungkinan besar dia akan ditemukan dengan mudah. INTERNET oh INTERNET… hebatnya kau!!!



JEDA….


NAMUN TERNYATA, internet tak hanya hebat, tak hanya membawa keuntungan dan kebaikan. Banyak hal buruk ternyata juga hadir bersama lahir dan berkembangnya INTERNET. Bukan hanya ulah iseng penyebar virus/hacker atau pembobol akun pribadi. Berbagai penipuan di INTERNET semakin marak dan canggih dan berbagai kejahatan lain terus mengintai. Pembobolan rekening pribadi/credit card, perdagangan narkoba, perdagangan anak hingga prostitusi lewat internet bukan hal baru. Bahkan terorisme pun kini telah berbasis internet. Tak hanya itu, dampak penggunaaan internet yang salah menjadi ancaman tersendiri. Dari game online yang berdampak addicted hingga pengaksesan situs-situs berbau pornografi oleh anak-anak di bawah umur membawa berbagai dampak sosial yang mengkhawatirkan. INTERNET oh INTERNET...
Sesungguhnya, selain berisi kekaguman tulisan ini ingin menyisipkan suatu pertanyaan beraroma kekhawatiran. Benarkah INTERNET melulu membawa keuntungan dan berjasa tiada tara bagi dunia? Untuk menemukan jawabannya, tentu memerlukan sebuah tulisan khusus.



Note:
Tulisan ini terinspirasi oleh isi threat
http://jonasgobang.blogspot.com (Social and Political Implication of Decentralized Network: Teknologi Informasi Membawa Implikasi Sosial dan Politik dalam Dunia Tanpa Batas).

Selasa, 27 Oktober 2009

Blog versus Facebook

Hari ini hari blogger? O sedihnya, aku tahu dari informasi teman- seorang blogger sejati. Segera kucari informasi yang lebih jelas: http://www.detikinet.com/read/2007/10/27/173146/845629/447/menkominfo-27-oktober-hari-blogger-nasional

Lalu teringat, kalau aku memiliki sebuah blog. Tersadar, sudah lama tidak mengunjungi blog itu. Sudah lama tidak meng-update “persinggahanku” - blog yang dulu kucipta dengan semangat ‘45. Menyedihkan sekali! Jika mau jujur, semangat ngeblogku terkikis oleh "sesuatu" yang dijuluki facebook. Facebook...oh facebook!

Sebenarnya facebook tidak memberikan dampak negatif dalam arti sebenarnya. Melaluinya aku bahkan berhasil menemukan jejak teman-teman lamaku. Teman-teman dari masa kecilku, teman-teman masa remaja hingga masa kuliahku, teman-teman dari kota-kota yang pernah membesarkanku, teman-teman dari instansi yang pernah menafkahiku, teman-teman komunitas, atau teman-teman di tempatku bekerja saat ini. Bahkan sahabat pena dari masa 20-an tahun silam yang hilang jejaknya, bisa kutemukan. Aku sudah terhubung kembali dengan ratusan teman masa kecil, masa remaja, dan masa-masa lain di sepanjang hidupku hingga hari ini. Ada pula satu dua teman baru yang memberi nuansa baru di hidupku. Tidak hanya menemukan mereka, lewat facebook aku kembali bisa berkomunikasi dengan mereka.

Kesalahanku hanyalah terlalu berlebihan. Segala yang berlebihan sudah jelas akan membawa dampak buruk. Waktu di dunia maya kurang terbagi adil. Sebelum mengenal facebook aku mempunyai cukup waktu untuk menulis di blog. Meskipun itu hanya sekedar satu paragraf cerita lucu atau sebait puisi. Kini blog itu terbengkalai. Bukan hanya blogku yang terbengkalai, namun aku juga menjadi tidak pernah lagi mengunjungi blog teman-temanku. (Meski ada juga sedikit tanya, mungkinkan blog teman-temanku juga lama tidak di-update seperti blogku? Mungkinkah mereka juga keranjingan facebook?)

Mungkin bukan facebook yang harus dihapus, tapi manajemen waktu yang harus dirombak. Di hari blogger ini aku singgah menuliskan sebuah tekad untuk memacu diri meluangkan waktu datang ke persinggahanku. Untuk kembali menulis dan lebih-lebih membaca tulisan orang lain. Merajut kembali mimpi...