Tampilkan postingan dengan label 1st Time. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1st Time. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Mei 2018

Rosario: Gampang Membuatnya, Sulit Mendoakannya

Untaian Rosario karya ayahku di Pondok Rosario Nasareth (dokpri)

Suatu hari pada tahun 2009, aku belajar membuat untaian rosario dari manik-manik plastik. Dengan banyak melihat serta menyimak instruksi dari ayahku yang berlaku sebagai "sang suhu" sekaligus pemilik Pondok Rosario Nazareth, aku mulai mencoba membuatnya. 

Bahan-bahanya sudah disediakan, yaitu manik-manik terbuat dari plastik, batu; sepotong kawat alumunium tipis yang mudah dibentuk;  bandul salib dan harces (lingkaran bergambar Bunda Maria atau Bunda Maria dan Yesus). Semua bahan dapat dibeli di pasaran dengan mudah. Alat yang digunakan adalah berbagai jenis obeng pembengkok dan pemotong berukuran kecil yang mudah digenggam.

Caranya mudah. Satu per satu kita buat kait perangkai dari alumunium pada setiap manik-manik. Alumunium dimasukkah ke dalam lubang manik-manik lalu dibengkokkan sedemikian rupa agar terikat kuat dan tidak lepas. Lalu manik-manik yang satu dirangkai dengan yang lain. Caranya, menyambungnya dengan alumunium yang juga dibengkokkan sedemikian rupa. Rangkaian disesuaikan dengan jumlah doa rosario yang ada (dari awal hingga akhir). 

Sayang sekali, waktu itu "suhuku" belum memperbolehkan aku merangkainya dengan bandul salib dan Bunda Maria.

Dalam waktu beberapa jam saja aku sudah bisa menyelesaikan seluruh bagian manik-manik dalam rosario. Walaupun kursusku belum tuntas, tetapi aku sudah dapat menyimpulkan bahwa membuat manik-manik rosario itu gampang banget. Hanya perlu ketelatenan!

Namun, jika kurenungkan dengan baik dan melakukan introspeksi diri secara jujur, harus kuakui bahwa mendoakan "Doa Rosario" tidak segampang membuat rangkaian manik-maniknya. Mendoakan di sini dalam arti secara rutin dan berkesinambungan. Jangankan hari-hari biasa, hari-hari dalam Bulan Rosario atau Bulan Maria saja, sering kali aku tidak "tuntas" mendoakannya tanpa putus selama sebulan penuh. 

Biasanya di Lingkungan/Wilayah tempat tinggalku Doa Rosario dilakukan bersama setiap hari bergilir dari satu rumah ke rumah lain selama sebulan penuh. Namun, ada saja kendalan tidak bisa datang setiap hari. Kadang harus selesaikan pekerjaan, kadang kecapekan, atau yang paling parang ada juga kadang muncul rasa males. Apalagi kalau rumahnya jauh dan harus jalan kaki. 

Kalau tidak datang doa bersama niat hati hendak berdoa sendiri, tetapi kadang-kadang kendala lain muncul, mungki malas, sudah ngantuk, lupa, dan berbagai alasan klise lain. 

Padahal, untuk mendaraskan Doa Rosario hanya perlu meluangkan waktu sekitar 15 -20 menit. Jika dilengkapi dengan doa pendukung lain, mungkin memerlukan waktu 30 menit. Tidak ada 1/10 pun dari waktu 24 jam yang kumiliki. 

Itulah kelemahan yang harus terus-menerus diperbaiki. 

Semoga Bulan Maria tahun ini menjadi waktu introspeksi bagiku, untuk menyediakan waktu lebih banyak bagi Tuhan dan Bunda Maria yang sangat kuhormati. 


Depok 1 Mei 2018 
(Re-write tulisan lama)




Sabtu, 19 Desember 2009

Hydrogel – Media Tanam Kreatif

Sumber foto: jualo.com

Baru-baru ini saya mengenal media tanam baru bernama hidrogel (hydrogel). Saya mendapatkan informasi dari seorang teman di kantor. Kebetulan bapaknya berkecimpung di bidang pertanian.

Hidrogel adalah gel kristal berbahan polimer yang konon menurut promosinya cukup aman dan ramah lingkungan.

Penggunaannya hidrogel sangat praktis dan efisien. Hidrogel bekerja dengan cara menyerap air dan menyimpan di dalam butirannya. Gel yang semula berukuran kecil akan menggembung atau membesar karena menyerap air.

Tanaman yang ditanam dengan media ini, akan menyerap air dari hidrogel . Kelembaban dan pasokan air bagi tanaman akan tersedia hanya melalui gel ini. Oleh karena itu, media ini sangat tepat digunakan sebagai media tanam hidroponik.

Jenis tanaman yang tepat ditanam dengan media ini antara lain jenis philodendron, anthurium, sirih-sirihan, sansivera, dan berbagai jenis lain asal bukan tanaman berakar keras, seperti adenium, dll. Kemampuan hidrogel memasok air bagi tanaman dalam jangka waktu relatif lama (setidaknya 1-2 minggu) membuat kegiatan bertanam lebih praktis, karena tidak perlu menyediakan waktu terlalu sering untuk menyiram, memupuk, ataupun mengganti media. Kita hanya perlu menambahkan air, jika gel sudah terlihat menyusut (karena berarti air di dalamnya telah berkurang).

Dilihat dari bentuknya, ada dua jenis hidrogel yaitu bulat dan kristal. Ciri menarik dari hidrogel adalah berkilau dan tersedia dalam aneka warna . Hidrogel menjadi pilihan media tanam yang menarik jika diaplikasikan di dalam vas kaca baik sebagai media tanam maupun dekorasi ruangan. Gel warna-warni dapat memberi kesan segar, hidup, dan eye catching. Oleh karenanya, hasil tanam dengan media gel dapat digunakan untuk menciptakan keindahan dan keasrian ruang dalam, seperti ruang tamu atau ruang kerja.

Meskipun hobi saya bertanam tidak terlalu intens, pengenalan hidrogel ini benar-benar menarik. Sangat menarik! Media tanam pengganti tanah ini menawarkan cara bertanam baru yang penuh kreasi, mudah, dan terkesan bersih. Tanaman hasil dikreasi dapat diletakkan di dalam rumah sebagai penghias.

Saya memang belum banyak mencoba. Namun, setidaknya telah beberapa gelas/wadah kaca tidak terpakai yang sudah kumanfaatkan untuk mencoba bertanam dengan media ini. Melihat hasilnya yang tidak terlalu mengecewakan, membuatku berharap memiliki waktu cukup banyak untuk berkreasi. Tidak ada salahnya juga menyebarkan informasi kreatif ini, mengajak teman-temanku turut menikmati keindahan butir-butir gel warna-warni. Semoga hidup ini pun akan semakin berwarna.

Sabtu, 30 Mei 2009

Dalam Bahasa Jawa, Mlayu Artinya Lari

Sebagian angkutan kota di Terminal Kampung Melayu (Sumber foto: Liputan6)
Ini kisah lama dari teman saya yang asli Yogyakarta, orang Jawa tulen. Sebut saja namanya Cantik! Kisahnya tentang pengalaman Cantik hari-hari pertama tinggal di Jakarta, bertahun-tahun yang lalu. Suatu ketika, Cantik berniat pergi ke toko buku Gramedia yang berada di kawasan Matraman.

Menurut petunjuk temannya, Cantik harus naik angkutan kota mikrolet bernomor 26 (M26) dari jalan raya Kalimalang sampai tujuan akhir angkot tersebut. Kemudian dia harus melanjutkan dengan naik mikrolet bernomor 01 (M01) yang akan melewati toko buku Gramedia. "Minta sama sopir angkot supaya diturunkan di Gramedia." Kira-kira demikian pesan temannya.

Keesokan harinya, pergilah Cantik ke Gramedia. Keluar dari rumah kos, dia berjalan santai menyusuri gang kecil menuju jalan raya Kalimalang. Dari kejauhan tampak olehnya mikrolet M26 yang akan ditumpanginya sedang ngetem di pinggir jalan. Alih-alih mempercepat langkah, Cantik tetap berjalan santai karena yakin sopir angkot pasti akan menunggunya.

"Melayu Mbak ... Melayu!" Teriakan sopir angkot dalam logat Batak mengagetkan Cantik. Dalam bahasa Jawa, kata "mlayu" berarti "lari". Jadi, Cantik pun mempercepat langkahnya. Meskipun demikian, si sopir angkot tetap saja berteriak, malahan terdengar makin kencang. "Ayo Mbak Melayu ... Melayu!"

Dengan sedikit kesal Cantik segera berlari. Akhirnya, dia pun duduk manis dalam angkot M26 tersebut. Sepanjang perjalanan, setiap ada calon penumpang si sopir selalu berteriak "Mlayu... Mlayu". Di antara rasa kesal yang masih tersisa, Cantik sempat merasa keheranan. Hmm, orang Batak ini tahu juga mana calon penumpang yang orang Jawa. Namun, bagaimanapun rasa kesalnya belum hilang juga seraya berpikir ‘Mengapa si sopir selalu menyuruh setiap penumpang untuk lari’; memang, mlayu dalam bahasa Jawa berarti lari.

Sepanjang perjalanan, dari dalam angkot Cantik melihat banyak mikrolet M26 lalu-lalang. Tiba-tiba dia tersenyum sendiri saat membaca tulisan pada setiap kaca angkot bernomor M26: "Kp. Melayu-Bekasi". Ealah Gusti! Pantas saja sopir angkot ini selalu berteriak "Melayu ... Melayu". Bukan menyuruh calon penumpang untuk berlari, tetapi si sopir memberi tahu jurusan angkotnya. Karena di jalur yang sama ada beberapa angkot dengan jurusan berbeda.

Cantik tertawa dalam hati teringat bagaimana dia tadi sudah berlari sampai terengah-engah karena teriakan si sopir.

Kalimalang, Mei 2009

PS:
Dear Ningsih, here is a funny story based on your experience.

Selasa, 28 Oktober 2008

Kapalku [Tidak] Singgah di Kota Dumai


Sumber gambar: Google Maps

Waktu itu hari ke-17 di bulan Agustus. HUT Kemerdekaan Indonesiaku tercinta. Merdeka!!! Sembari menunggu iklan saat jeda talk show di TV, tanganku meraih album foto. Entah, kekuatan apa yang telah menggerakkannya. Lalu mulai kubuka lembaran-lembaran album dan refleks kuingat cerita di balik setiap foto. Sekali waktu tersenyum, di saat lain ingin menangis. Begitulah kalau sedang bernostalgia!

Tiba-tiba, tatapanku berhenti "Pada Sebuah Kapal" (Mirip judul novel NH Dini, ya?) Maksudnya, aku terpana pada sebuah foto di mana aku dan beberapa teman berdiri dengan latar sebuah kapal besar. 

Melayanglah ingatanku pada peristiwa 10 tahun silam. Ya, foto itu memang diambil 10 tahun yang lalu, di Pelabuhan Dumai. Kapal yang menjadi latar foto berjuluk KM Sinabung. Kami berfoto sesudah turun dari KM Sinabung yang baru berlabuh. 

Berlabuhnya kapal di Dumai bukan sekadar berlabuh. KM Sinabung berhasil merapat ke pelabuhan setelah sehari semalam terapung-apung di tengah samudera. Sebelumnya, kapal yg seharusnya membawa kami berlayar dari Belawan (Medan) ke Tanjung Priuk (Jakarta) itu mengalami kecelakaan.

Kami berfoto di Pelabuhan Dumai dengan latar belakang KM Sinabung (Foto koleksi salah satu dari kami)
Anehnya, kecelakaan yang dialami oleh kapal yang kami tumpangi justru hanya kami dengar dari mulut ke mulut. Katanya KM Sinabung ditabrak oleh sebuah kapal tanker. Katanya kapal kami tidak berada pada jalurnya. Konon katanya sang nakhoda asyik berduaan di luar ruang kemudi sehingga tidak melihat sinyal tanker. Semua memang hanya "katanya" karena waktu itu pun kami tidak mendapat penjelasan dari pihak KM Sinabung.
 
Begnilah kisah 10 tahun silam yang berhasil kuingat.
KM Sinabung berangkat dari Belawan tanggal 16 Agustus sekitar pukul 15.00 WIB. Hari itu menjadi perjalanan pertamaku dengan kapal besar. Sebelumnya aku hanya pernah menumpang feri antarpulau. Sebenarnya waktu itu aku sedikit takut naik kapal jarak jauh. Aku pergi karena bujukan Kak Nita-sahabatku. Aku hendak ke Semarang, sedangkan dia ke Yogyakarta.
 
Kami mendapat kabin berkapasitas 6 orang. Aku lupa, mungkin itu kabin kelas 3. Setelah menyimpan barang, kami menikmati sore di atas dek. Sebentar saja aku dan Kak Nita sudah berteman dengan Debora, seorang turis dari South Africa, yang menjadi salah satu penumpang di kabin kami. 

Setelah makan malam dan menyusuri sudut-sudut kapal sambil mengobrol, kami pun masuk kabin untuk beristirahat. Pengumuman terakhir yang kudengar adalah pada malam hari (16 Agustus). Isinya: Besok pagi tanggal 17 Agustus seluruh ABK wajib mengikuti upacara bendera memperingati Hari Kemerdekaan RI.
 
Dini hari kira-kira pukul 4, kami terbangun karena goncangan kapal. Kulihat tirai penutup tempat tidur meluncur dan terbuka begitu aja. Serentak, kami semua turun dari tempat tidur dan dengan ketakutan segera membuka kabin. 

Di lorong kulihat orang-orang berlarian membawa pelampung. Semua panik! Beberapa anak kecil menangis di gendongan orang tuanya. Aku langsung teringat adegan dalam film Titanic. Kubayangkan pasti semua orang berlari ke lokasi sekoci. Mungkinkah kapal ini akan tenggelam seperti Titanic? Rasa takut menyelimutiku.

Sore tadi di dek aku curhat kepada Debora, kubilang aku naik kapal oleh desakan Kak Nita. Sebenarnya ada rasa takut setelah nonton film Titanic, karena aku tak bisa berenang.

Selain Debora yang lenyap dalam hitungan detik, teman-teman lain masih ada di kabin. Mereka juga ketakutan, tetapi tidak seheboh yang lain. Kak Nita bahkan sempat mengingatkanku untuk mengganti jeans dengan celana yang lebih tipis. Mungkin, maksudnya kalau tercebur ke laut tidak menjadi berat. Demikian yang terlintas dalam pikiranku. 

Lalu, Kak Nita mengajak kami berdoa bersama. Setelah berdoa, kami keluar kabin dengan tenang. Kami membawa pelampung yang tersisa dan barang berharga dalam tas kecil. Doa dan ketenangan orang-orang di sekelilingku telah melenyapkan ketakutan itu.

Puji Tuhan, ternyata kapal kami tidak akan tenggelam. Meskipun demikian perjalanan kami harus terhenti di tengah lautan. Konon, jangkar tanker terlempar ke kapal kami. Konon kecelakaan akan diselesaikan di darat. Jadilah tanker pergi meninggalkan jangkar pada kapal kami dengan rantainya yang terjuntai. Kapal kami terapung menunggu bantuan untuk memotong rantai jangkar. 

Setelah kapal penolong datang, pemotongan rantai jangkar berlangsung semalaman. Kami terapung semalaman dengan kesulitan MCK di beberapa bagian kapal, karena sebagian pipa air turut patah. Bau toilet menyengat di sana sini. Kami kesulitan mendapat air panas. 

Komunikasi untuk menghubungi keluarga terbatas, sementara televisi telah menyiarkan kecelakaan itu. Tentu keluarga yang menunggu menjadi cemas. Namun, seingatku tak sekali pun kami dengar penjelasan dari awak kapal perihal kecelakaan itu. Bahkan untuk sepenggal kata maaf!

Akhirnya kapal mulai bergerak. Konon Dumai adalah pelabuhan terdekat yang bisa dicapai. Persinggahan kami di kota Dumai benar-benar membawa damai. Kami bisa sedikit lega. Segera setelah turun dari kapal nahas itu, kami segera menyebar ke sekitar pelabuhan mencari telepon umum. Semua penumpang tak sabar untuk dapat segera memberi kabar orang-orang tercinta bahwa kami selamat. 

Setelah melalui perjuangan yang sengit, bahkan terjadi demo dari para mahasiswa, akhirnya kami mendapat penggantian senilai dengan kelas tiket. Saya dan teman-teman sekabin termasuk dalam rombongan yang disewakan bus Antar Lintas Sumatera.  Koordinasi perjalanan pun dilakukan. Mereka yang punya cukup uang memilih melanjutkan perjalanan dengan pesawat dari kota Pekanbaru.

Singkat cerita aku dan teman-teman sampai di Jakarta pada tanggal 20 Agustus. Kisahnya memang tidak sesingkat itu. Namun, kami terus bersyukur, bersyukur, dan bersyukur. Tuhan masih memberi keselamatan. 

Kala itu aku sempat melihat sisi kapal yang hancur oleh hantaman jangkar (seingatku ada 3 lantai). Sangat sedih mengetahui beberapa orang tidak sempat menyelamatkan diri. Aku hanya bisa berdoa, semoga mereka berpulang dalam damai dan keluarganya dikuatkan!

Saat kutulis kisah ini, aku berandai-andai menemukan teman-teman sekabin. Hanya dengan Kak Nita saja aku masih terhubung karena kami memang pernah sekantor. Debs, Nantulang dan putri cantiknya yang calon dokter tak kuketahui keberadaannya sekarang. 

Sebenarnya ingin pula kudengar kabar teman-teman yang memperjuangkan hak kami mendapatkan transportasi pengganti yang layak. Bode yang waktu itu adalah mahasiswa S2 di kota Bandung; sejumlah mahasiswa di Yogyakarta; teman-teman yang ada dalam satu frame dengan latar KM Sinabung; dan semua saudara senasib dalam bus yang membawa kami melanjutkan perjalanan ke Jakarta. 

Kami sebagian penumpang KM Sinabung dalam bus yang membawa kami melanjutkan perjalanan ke Jakarta (Foto koleksi salah satu dari kami)

 
Teman-teman dalam satu kabin (Foto koleksi salah satu dari kami)


Ah, beruntung sekali masih ada foto-foto tersebut dan sedikit ingatan. Semoga kenangan ini memberikan peneguhan atas iman dan pengharapan.


Jakarta, 28 Oktober 2008

PS: 
Teman-teman, di manakah kalian semua? Semoga kalian selalu dalam lindungan-Nya! Semoga transportasi laut di Indonesia semakin baik dari waktu ke waktu.



Senin, 01 September 2008

Persinggahan Pertama

View dari sebuah gazebo di GMKA Ambarawa (Foto: @dwi_klarasari)

Dalam sebuah perjalanan—especially on a long journey—sebuah tempat singgah atau persinggahan menjadi satu hal yang sangat dicari dan dinanti. Bahkan direncanakan!

Persinggahan selalu diharapkan menjadi oase, tempat melepas lapar dahaga sekaligus lelah, serta pembawa angin segar. Setelah singgah sejenak di suatu tempat, perjalanan menjadi lebih menyenangkan dan penuh semangat.

Perjalanan hidup tak beda dengan perjalanan para musafir maupun petualang. Dalam perjalanan hidup pun ada rasa lelah dan jenuh. Saat itulah manusia pergi dari dunia keseharian mencari tempat-tempat damai untuk singgah sejenak. Wisata, piknik, retret, atau tetirah; duniawi, jasmani, religius, spiritual... apa pun itu! Entah bagaimana, tapi ada suatu keyakinan: “sebuah persinggahan selalu mampu memperbarui roh hidup”.

Keinginan hati adalah membangun tempat persinggahan. Sebuah vila besar di tengah hawa segar pegunungan; memiliki kebun luas serta taman rindang nan asri dengan kolam berpancuran. Ah, terlalu absurd untuk seorang biasa.

Lalu kujumpai persinggahan di dunia maya.

Sejumlah situs dan blog dengan sengaja telah kusinggahi. Namun, banyak pula yang tak sengaja kusinggahi—seperti saat kehujanan lalu menemukan tempat berteduh. Ternyata tak sedikit tempatku singgah memberi keteduhan. Selain memberi nuansa baru dalam hidupku juga menginspirasi serta memicu munculnya ide-ide segar.

Kemudian terpikir olehku, kenapa tidak kubangun blog—tempat persinggahanku—sendiri? Tempat di mana aku bisa melepas kepenatan hari serta segala rutinitas. Tempat di mana aku bebas berekspresi. Tempat di mana aku juga bisa mengajak orang lain untuk sengaja singgah dan mendapat keteduhan. Atau menjadi tempat nyasar untuk “berteduh” yang terbuka bagi siapa pun kapan pun.

Karena bagiku persinggahan juga berarti perjumpaan. Tidak selalu dengan seseorang yang kukenal, seperti sahabat dan teman lama, tetapi juga perjumpaan dengan orang baru, tua-muda, orang pandai atau sedanng belajar, dan siapa pun. Setiap perjumpaan pasti melahirkan nilai tersendiri. Seorang asing mungkin adalah pembawa energi baru yang tak terduga.

So here is my blog!
Kelak ingin kubagikan arsip tulisanku yang terserak atau ku-create sejumah tulisan baru. Smoga dapat menjadi inspirasi untuk membangun sel-sel semangat yang kadang luruh tanpa kita sadari.

Setelah sekian lama hanya berupa ruang kosong. Inilah posting pertamaku. Terima kasih untuk telah berkenan singgah serta meninggalkan apresiasi—saran, kritik, dan komentar.

Mari kita lanjutkan perjalanan dengan langkah yang lebih ringan, dengan spirit dan energi baru. God bless you!

Salam hangat

Kalimalang, 1 September 2008