Senin, 23 Oktober 2017

Puisi tentang Mata Elangmu


Foto: Leandro De Carvalho, Pixabay
Hujan belum reda, saat ingatan padamu menggema. Kubuka buku yang tiap lembarnya kutulisi puisi untukmu. Kehilanganmu membalutkan sepi serta rindu yang mengubahku jadi penyair. Kau mungkin tidak percaya seorang hedonis sepertiku mampu menulis puisi. Tentu saja puisiku jauh dari indah. Namun aku yakin, saat membacanya kau akan bertepuk tangan sambil menebar pujian yang memerahkan pipi. Begitulah kau, selalu ringan hati membuat orang lain bahagia. Sungguh! Aku tak sabar ingin melihat reaksimu itu.

Hujan semakin lebat, dan ingatan tentangmu semakin pekat. Aku ingat betapa kau selalu mampu mengatasi kekesalanku yang sering tak beralasan. Namun, pada malam nahas itu, amarah telah membakar hati dan pikiranku. Aku bukan marah padamu. Dunia tahu, kau nyaris tak pernah membuatku marah. Kau hanya membuatku cemburu karena dirimu bukan hanya untukku. Kehadiranmu dinantikan oleh banyak orang, termasuk anak-anak jalanan yang kau ajar di akhir pekan. Malam itu alkohol menyempurnakan amarahku, hingga kau bahkan tak berhasil menahan laju mobilku. Beruntung tanganmu sigap membelokkan kemudi yang kulepaskan.

Hujan masih mengguyur tanpa kompromi, saat aku menunggumu sore ini. Kau akan pulang setelah lama pergi pascatragedi malam itu. Sebagian lukamu—entah yang mana—harus mendapat perawatan ahli di luar negeri. Begitu penjelasan bunda saat aku terbangun dari koma dan memanggilmu histeris karena mengira El Maut telah menjemputmu. Kureka-reka parahnya luka yang harus kautanggung karena kebodohanku. Aku tahu, semua puisiku takkan mampu menebus kesalahan itu. Namun aku janji kau akan gembira melihatku. Selamat dari kecelakaan membuatku lebih menghargai hidup. Kuharap kau bersedia menerima maafku lewat puisi ini.

Perlahan hujan mereda menyisakan gerimis dan angin sepoi. Sekali lagi kubaca puisi-puisi tentang mata elangmu. Mata yang sorotnya mampu melembutkan kekerasan hatiku. Sejujurnya aku merindukan sorot teduh mata elangmu, yang sejak kukenal tak pernah lelah mengirimkan cinta. Kau sungguh beruntung. Selain ketampanan, Tuhan juga memberkahimu sepasang mata dengan sorot memesona. Tuhan pun memercayakan hati penuh kasih sebagai milikmu. Bersama segala kebaikanmu, teduhnya sorot matamu menghadirkan rasa damai dan tenteram bagi siapa pun. Kuharap puisiku tidak salah melukiskan pesonanya.

Hujan telah benar-benar reda, saat pesawatmu mendarat. Sejurus kemudian, mataku nanar mencari-carimu di antara para penumpang yang keluar dari lobi kedatangan. Kucari sosok tegapmu dengan lengan kuat yang biasa menenangkan ketakutanku. Kucari mata elangmu yang kukira bakal menyergapku dengan tatapan lembutnya. Entah bagaimana, tiba-tiba sosokmu telah tegak berdiri di hadapanku. Dari atas kursi roda aku bergegas melacak sorot mata yang kurindukan. Namun aku bahkan tidak mendapati sinar di matamu. Kau hanya terpaku, dan baru mengulas senyum saat ayahmu membisikkan sesuatu. Lalu seraya memanggil namaku, tanganmu melambai-lambai berusaha menggapai wajahku. Aku terhenyak menyadari hilangnya penglihatanmu. Bibirku mendadak kelu dan semua kalimatku membeku, Buku puisi untukmu terlepas begitu saja dari tanganku.


Porosna, 13 Oktober 2016

Catatan:
Cerpen ini sudah diterbitkan dalam Antologi 100 Cerita Pendek 5 Paragraf "Burger Terakhir yang Kubuang" bersama KPK Deo Gratias pada Oktober 2017.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar