Senin, 16 Februari 2009

Segelas Beras untuk Berdua




Judul Buku   : Segelas Beras untuk Berdua
Penulis         Sindhunata
Penerbit       Gramedia Pustaka Utama
Halaman       : 205
ISBN             : 978-602-7695-17-7
Cetakan I     : April 2005

Kita harus duduk kira-kira 3-4 jam untuk menempuh perjalanan dari Yogyakarta ke Semarang dengan bus antarkota. Cukup melelahkan. Bagaimana pula jika kita harus berjalan kaki?

Tentu saja jauh lebih melelahkan. Jarak Yogyakarta–Semarang sekitar 188 km. Rata-rata kecepatan orang berjalan kaki 10 km/ jam. Jadi, diperlukan waktu minimal 18,8 jam berjalan kaki untuk menempuh jarak kedua kota tersebut. Waktu itu dapat tercapai bila kita berjalan tanpa istirahat sedetik pun dan dengan kecepatan konstan.

Dengan hitung-hitungan kasar itu, alhasil akan sulit rasanya membayangkan berjalan kaki antara Yogyakarta dan Semarang dengan berbeban berat. Namun, itulah perjuangan Mbok Tukinem dalam Segelas Beras untuk Berdua.

Hidup Mbok Tukinem sangat berat. Sejak kecil hingga masa tuanya tak ada yang berubah. Penderitaan terus membayanginya. Dia yang semula sehat tiba-tiba menjadi buta. Suaminya pun seorang buta. Mbok Tukinem dan Pak Suwito adalah pasangan buta.

Seolah-olah tak ada celah hari untuk bersenang-senang. Anak-anak yang diharapkan menjadi tumpuan di masa tua, bahkan satu per satu kembali kepada Yang Mahakuasa. Toh, semua itu dijalani oleh Mbok Tukinem dengan tabah, tanpa mengeluh, dan tetap percaya akan belas kasih-Nya.

Melihat rumput tetangga selalu lebih hijau. Menganggap diri paling menderita. Demikian sering kali kita bersikap, sekurangnya saya pribadi. Sikap tersebut boleh jadi akan berbalik 180 derajat setelah kita membaca perjalanan hidup Mbok Tukinem atau “Mbok Tukinem-Mbok Tukinem lain” dalam kumpulan feature Sindhunata: Segelas Beras untuk Berdua.

Membaca kumpulan feature yang pernah dimuat dalam Harian Kompas antara tahun 1979 s/d 1980 ini, seperti membaca buku sejarah.

Tokoh-tokoh separuh baya pada masa itu, saat ini tentu sudah sepuh, sedangkan yang sepuh pada masa itu tentu sudah sangat sepuh atau mungkin sudah meninggal. Jalan-jalan dan suasana kota masa itu tidak akan kita temui lagi.

Kita juga harus berhitung untuk melakukan konversi nilai rupiah. Bagi generasi yang pada era tersebut belum lahir atau masih terlalu kecil, membaca buku ini memang perlu sedikit ketekunan. Minimal untuk sekedar mengkonversi nilai rupiah atau membayangkan situasi saat itu. Pada masa itu sejuta rupiah senilai dengan 10 ekor kambing/ sapi. Padahal sekarang harga seekor kerbau saja sudah bisa mencapai 10 juta rupiah.

Namun, perbedaan masa dan nilai mata uang tidaklah terlalu penting. Segala kemiskinan dan kepedihan yang digambarkan pada masa lalu tersebut saat ini masih bertebaran di sekeliling kita.

Sentuhan personal Sindhunata dalam setiap feature meskipun setitik kiranya dapat mengubah pandangan bahwa hanya beban hidup kita saja yang terberat. Ternyata banyak tetangga, teman, dan kerabat yang memiliki halaman dengan rumputnya tak sehijau rumput di halaman kita. Boleh jadi, bahkan halaman mereka berumput kuning. Barulah kita mungkin sehera tersadar akan sesuatu.  

Kalimalang, Februari 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar